Rusia, Sastra, Indonesia

by Senjakala Adirata

Oleh: Senjakala Adirata

Rusia. Aku tak ingat sejak kapan mengenal Rusia. Entah sebagai negara atau sebagai tempat lahirnya para dewa sastra. Rusia muncul dalam pelajaran SD: negara adidaya saingan Amerika. Sangar! Rusia juga negara penjelajah antariksa. Seorang tokoh dikenalkan lewat buku pelajaran dan ocehan guru: Yuri Gagarin, manusia bulan. Tapi Rusia porak-poranda awal 1990-an menjadi negara federasi. Konon, setelah Rusia memberi pengumuman jadi negara federasi, tiga hari setelahnya Indonesia langsung mengakuinya.

Eh! Bukan konon ding, tapi betul. Informasi ini aku dapat dari buku bersampul putih bergambar kereta uap. Di bagian depan kereta, terpasang bendera Indonesia dan Rusia. Judul buku Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia garapan Tomi Lebang. Buku diterbitkan oleh Grasindo, 2010. Aku membeli dan rampung membaca. Tapi telat empat tahun! Tentu selama empat tahun sejak buku ini diterbitkan, akan ada perubahan perkembangan kerja sama dan jalinan persahabatan Rusia-Indonesia.

Pengetahuan dasarku tentang ilmu geografi dari SD tentang Rusia adalah negara di gigir dunia. Ia berada di ujung utara bumi, hampir menempel dengan Kutub Utara. Dan luas wilayahnya juga luar biasa besar. Tapi pengetahuan itu terhenti ketika aku memasuki SMP dan STM. Pengetahuan tentang Rusia tak lagi bertambah. Malah mungkin berkurang. Rusia kembali lagi hadir dalam hidupku melalui karya-karya sastra. Mereka, para dewa-dewa sastra Rusia memberi limpahan gambaran tentang negaranya: Tolstoy, Chekov, Dostoyevsky, Gorky, Pushkin, Turgenev, Tchaikovsky… Oh ya! Film animasi konyol Marsha and the Bear tak boleh dilupakan. Film itu juga turut memberi gambaran baru pada hidupku tentang Rusia saat ini.

Menurut Hamid Awaluddin, Duta Besar RI untuk Rusia dalam Kata Pengantar buku: “benih persahabatan Rusia-Indonesia telah terjadi sejak abad 18 lewat puisi seorang sastrawan Rusia, Pushkin, tentang Nusantara.” Tapi sayang, aku belum punya karya-karya Pushkin. Persahabatan antara Indonesia-Rusia semakin bergairah ketika Komunisme mulai tumbuh di Indonesia. Doktrin Marxisme turut memberi letupan dahsyat pada semangat Nusantara untuk merdeka. Tahun 1926 pemberontakan Partai Komunis Indonesia terjadi. Korban jiwa berjatuhan, kemerdekaan tak bisa diraih. Sebaliknya, banyak tokoh Nusantara di buang ke Digul. Komunisme, yang sampai sekarang masih jadi momok, adalah kelompok penting dalam menyalakan semangat kemerdekaan di Indonesia!

Usai Perang Dunia Kedua, hubungan Rusia-Indonesia benar-benar akrab. Rusia memiliki minat pada bahasa Austronesia dan kepentingan perkawanan “sekutu”. Para tokoh sastrawan Nusantara banyak yang mengajar tentang bahasa dan sastra Indonesia. Mereka seperti Prof. Intojo, Boejoeng Saleh, Usman Effendi, A.T. Effendi, Utuy Tatang Sontani… Karya-karya awal Nusantara yang diterjemahkan, menurut Tomi Lebang adalah: Si Kancil, Hikayat Seri Rama, Hikayat Panji Semirang dan Suropati. Buku-buku selanjutnya yang diterjemahkan adalah roman-roman modern, khususnya garapan Pramoedya Ananta Toer. Karya Nusantara lain yang diterjemahkan adalah garapan Abdoel Moeis, Marah Roesli, Utuy T. Sontani, Chairil Anwar, Agam Wispi, Rivai Apin… Salah satu karya Pram yang “terlambat” diterjemahkan di Rusia adalah Keluarga Gerilja. Buku itu dianggap “kontra revolusioner”.

Hubungan Rusia dan Indonesia kian erat saat Indonesia “membebaskan” Irian Barat dari cengkeraman kolonial Belanda. Tomi Lebang menulis: Dalam perjuangan pembebasan Irian Barat, Uni Soviet memberi bantuan senilai US$600 juta dalam bentuk kapal penjelajah, destroyer, kapal selam, tank amfibi, dan pesawat tempur MiG. Hebat! Rusia memberikan alat-alat untuk “membunuh” dan mengusir penjajah! Kata Ali Sadikin pula, Angkatan laut RI saat itu merupakan terkuat kedua di Asia setelah RRC. Ampuh!

Hubungan Rusia-Indonesia meredup, usai peristiwa 30 September 1965. Kajian tentang sastra Indonesia juga turut susut selama masa “berkabung” hubungan itu. Sejak Orde Baru berkuasa, kerenggangan terjadi pada hubungan persahabatan ini. Banyak pula mahasiswa-mahasiswa Indonesia, yang pada masa Soekarno mendapat beasiswa belajar ke Rusia tidak dapat pulang ke Indonesia. Rezim Soeharto mencabut paspor mereka dan mereka jadi manusia tanpa negara! Para mahasiswa itu banyak yang hijrah ke Jerman atau Belanda dan berkeluarga dengan orang-orang dimana mereka bisa tinggal. Padahal, mereka tidak ada kaitannya dengan PKI atau komunisme. Namun, rezim Orde Baru dengan seenak dengkulnya mencabut paspor kewarganegaraan mereka hanya karena mereka belajar di Rusia. Para mahasiswa itu disebut Mahid: Mahasiswa Ikatan Dinas.