Tentang Perpustakaan

by Senjakala Adirata

Oleh: Senjakala Adirata

Perpustakaan adalah ruang asing bagiku ketika kecil. Saat SD, aku tak pernah berkunjung ke perpustakaan. Selain itu, aku juga bingung ruang perpustakaan di sekolahku itu letaknya dimana. Soalnya, ketika SD, ruangan disekolahku jumlahnya ada sembilan ruang. Satu untuk kantor guru, satu untuk kantor kepala sekolah, satu untuk gudang plus kamar kecil dan sisanya enam untuk ruang kelas. Pas untuk kelas satu sampai kelas enam. Lalu ruang perpustakaannya dimana? Itulah kenapa perpustakaan adalah ruang asing bagiku.

Ketika SMP, aku lumayan sering berkunjung ke perpustakaan. Ingat, berkunjung! Aku tidak menetap atau ngontrak di perpustakaan. Kunjunganku memang lumayan sering meskipun itu karena aku tak pernah punya uang saku banyak. Jadi ketika istirahat, aku habiskan di perpustakaan. Sok baca buku padahal juga tak berubah punter dan tak pernah mendapat peringkat kelas. Saat itu, peringkat kelasku ditulis dari mulai peringkat satu sampai sepuluh. Aku tak pernah masuk dalam sepuluh besar itu.

DSC08060

Dalam nggrenengi perpustakaan kali ini, aku mendapat buku berjudul Kumpulan Kenangan: Lokakarya Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Buku diterbitkan oleh penerbitan milik negara alias Balai Pustaka pada 1985. Aku belum lahir dan kakak lelakiku masih buta huruf. Dia baru berumur setahun ketika buku itu terbit. Buku aku dapat dari menukar uang Rp. 5000 ke pedagang. Aku senang, pedagang mungkin juga senang. Murah kan?

Dalam buku ini, penerbitnya bersesumbar: “merupakan salah satu hasil nyata dari kegiatan Klub Perpustakaan Indonesia”. Jadi, buku ini adalah bukti konkret tentang perkumpulan atau klub tersebut. Diterbitkan biar orang tahu kalau perkumpulan itu juga berfungsi. Isi buku diawali tiga sambutan dan satu pidato juga satu kuliah umum. Sambutan dan pidato tak aku baca. Aku lewati saja. Berlanjut ke tulisan-tulisan selanjutnya. Kebanyakan tulisan berisi “pencerahan” juru teknis bagaimana mengelola perpustakaan.

DSC08063

Dalam kuliah umum yang disampaikan oleh Drs. Sukarman MLS (iki titel opo) yang dimuat di buku, Pak Karman bilang begini: “Kalau dulu petugas perpustakaan adalah orang-orang yang modelnya kuno-kuno, maka kini tidak lagi demikian. Petugasnya pun sudah berubah gagah-gagah, cantik-cantik dan ramah-ramah”. Wah! Aku jadi ingat dulu pernah masuk ke perpustakaan kampus lalu diusir oleh petugasnya dengan bentakan. Alasannya? Karena pakai sandal jepit dan kaos oblong.

Sulistyo Basuki dengan tulisan berjudul Konsep Perpustakaan Sekolah Sebagai Pusat Kegiatan Belajar dan Mengajar menerangkan tugas perpustakaan sekolah. Ada beberapa tugasnya. Salah satunya adalah: “Membantu murid menggunakan bahan pustaka, baik tercetak maupun tak tercetak. Di samping mendidik murid bagaimana menggunakan bahan pustaka, perpustakaan sekolah juga mendidik murid agar mampu memelihara bahan pustaka. Dengan demikian kebiasaan menggunakan dan memelihara bahan pustaka merupakan bekal bagi murid bila dia mempunyai berbagai bahan pustaka di murid, termasuk juga buku pelajaran dan buku tulis”.

DSC08061

Perhatikan nama salah satu peserta Loka Karya! Gusti Hamlet!! Sangar!!!

Paham maksudnya kalimat diatas? Aku bingung. Bingungnya begini: jika gagasan tersebut baik dan tetap dipertahankan hingga kini, aku yakin penjaga perpustakaan yang ingin melaksanakan tugasnya pasti selalu bermusuhan dengan guru-guru. Kenapa? Selama aku mbabu menjaga warnet sekitar hampir setahun, aku sering mencetak tugas-tugas dari anak-anak sekolah. Dari mulai anak SD hingga anak SMA. Aku tahu tugas tersebut adalah hasil salin-tempel tanpa kejelasan pustaka. Dan ketika aku tanya (kenapa cuma salin-tempel saja), jawab mereka “yang nyuruh bu/pak guru”. Hebat bukan gurunya?

Di kampus aku juga berkawan dengan teman-teman yang kuliah di jurusan keguruan. Sebagian besar dari mereka jika nggarap tugas, hobinya salin-tempel. Aku jadi mafhum kenapa murid-murid nggarap tugas cuma salin-tempel setelah tahu bahwa calon-calon guru juga cuma bisanya sampai disitu saja. Tentu saja perpustakaan di zaman sekarang di negara kita akan makin sepi dan murid-murid tidak suka baca buku bahkan hingga mereka nanti kuliah. Kalau toh ada banyak pengunjung perpustakaan di kampus, sebagian besar itu juga karena KEBUTUHAN TUGAS kuliah, bukan kebutuhan nurani intelektual.

Tapi ada yang aneh lho, dari iklan kampus. Perpustakaan dipamerkan dalam pamflet dan masuk dalam kategori fasilitas. Pernah lihat? Itu kampus pasti kampus edan. Masa, fasilitas adalah perpustakaan. Perpustakaan itu jantungnya kampus broooooooooo. Perpustakaan itu adalah hal yang niscaya dalam kampus, jadi bukan fasilitas. Kalah kampus nggak ada perpustakaan, itu namanya bukan kampus. Itu SDku jaman dahulu! Kampus kadaluwarsa itu! SDku saja sudah ada perpustakaannya kok.