Pak Kyai=Bangau=Lebah

by Senjakala Adirata

Oleh: Senjakala Adirata

Dua ribu tigaratus lebih mahasiswa baru diterima di kampusku. Teman-teman hampir tak percaya dengan jumlah itu. Aku justru bingung, kemana mereka nanti mau ditempatkan. Semester lalu, ketika kuliah, aku dan teman-teman terkadang terusir atau diusir karena ruangan tersebut juga digunakan kelas lain. Aku dan teman-teman kadang juga mengusir. Wah! Jam kuliah sering tabrakan dalam ruangan di kampusku. Tapi sekarang ditambah lagi dua ribu lebih mahasiswa? Subhanallah!

Selama seminggu, para mahasiswa baru ditatar dalam agenda Ospek. Disuapi dengan berbagai informasi mengenai kampus, pengenalan organisasi kampus, motivasi yang membosankan dan entah apa lagi. Tapi, Jum’at 12 September 2014, hari ke lima dalam Ospek, banyak mahasiswa baru semaput. Di dalam, orang berjas hitam teriak-teriak. Kadang juga meratap. Terlihat satu persatu mahasiswa digotong keluar ruangan karena semaput. Aku ngancani temanku jualan es teh. Melayani para mahasiswa baru yang dengan “ikhlas” disiksa oleh para seniornya lalu nanti butuh minuman segar berupa es teh. Temanku berseloroh saat melihat orang-orang semaput: kok yo tegel nggawe acara malah gawe pilarane bocah.

Dari pada memperhatikan suara orang berjas hitam teriak-teriak, aku tutup telinga. Membuka sebuah buku berjudul Si Kandulok. Buku garapan Mohd. Firdaus Husin. Buku diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1964. Aku pernah ngonangi beberapa buku dengan penulis sama tapi beda judul: Kasih di Balik Kabut dan Kenangan Indah. Buku-buku itu adalah buku bacaan untuk bocah-remaja. Aku menyelesaikan Si Kandulok, tapi si orang berjas hitam tetap masih teriak-teriak. Hebat orang berjas hitam itu.

DSC08065

Si Kandulok berkisah Kandulok, bocah tumpul otak. Bapaknya stres setiap berkomunikasi dengannya. Ibunya lumayan sabar dengan ketumpulan otak anaknya. Suatu hari, keluarga tersebut akan melaksanakan selamatan. Kandulok disuruh oleh bapaknya untuk mengundang Pak Kyai. Tapi Kandulok tak tahu Pak Kyai itu siapa dan yang mana. Si bapak menjelaskan: “Kalau engkau sampai mesjid melihat ada orang memakai jubah putih, bersorban atau memakai peci hitam, biasanya memegang tasbih, dialah dinamakan orang Pak Kyai. Engkau mengerti sekarang”

Tapi karena Kandulok berotak tumpul, kandulok tak paham juga sampai bapaknya emosi. Kandulok lalu diberi penjelasan oleh ibunya dengan lebih sabar dan halus. Ibunya berkata: “Nah, sekarang ibu akan terangkan ciri-ciri pak Kyai itu. Jika kau datang di mesjid, di sana selalu ada pak kyai. Kalau tak salah rumahnya ada di sebelah kanan mesjid. Orangnya selalu pakai jubah dan sorban putih. Biasanya ia pegang tasbih, karena setiap saat pak kyai berdoa. Jadi kalau lihat orang semacam itu, dialah yang dinamakan pak kyai”. Penjelasan halus dan pelan dari ibunya membuat Kandulok paham.

DSC08066

Sebagai cerita bocah-remaja, paling tidak pengertian kyai diatas juga dipahami oleh para pembacanya. Aku tak mau bercuriga bahwa kisah Si Kandulok telah dibaca oleh ribuan orang pada tahun ketika pertama terbit dan bocah-bocah percaya dengan pengertian itu. Akibatnya, sekarang banyak orang yang sok jadi kyai: mengenakan sorban, berjubah, bertasbih. Untuk berangkat ke mesjid saja, laki-kali sekarang banyak yang ribet, berdandan seperti diatas. Mungkin agar terlihat taat dan beriman kepada Tuhan. Meskipun sebenarnya….. Ah! Aku tak mau berprasangka.

Kandulok pergi ke mesjid. Kandulok tak mendapati siapapun. Ketika keluar dari mesjid, Kandulok melihat seiringan burung bangau. Kandulok berkata: “Nah, apa ini yang dinamakan pak Kyai? Tidak salah lagi”. Tapi karena itu bangau yang disangka Kandulok pak kyai, setiap didekati, “pak kyai” selalu terbang. Kandulok pun hampir putus asa lalu: “Sekali lagi ia berteriak sekuat tenaga, ‘Pak Kyai, Pak Kyai. Di rumah mau selamatan….!” Bagi Kandulok, bangau sama dengan Pak Kyai. Jadi ingat novel garapan Triyanto Triwikromo: Surga Sungsang. Di novel itu, banyak sekali metafora. Bangau, kyai, ikan terbang, dan banyak lagi ditulis dengan lincah oleh pengarangnya.

DSC08068

Kandulok pulang dan hanya ibunya yang di rumah. Informasi disampaikan sang anak ke ibu dan sang ibu bingung bagaimana mau menjelaskan “Pak Kyai itu yang seperti apa”. Akhirnya, pokoknya yang bisa baca doa, disuruhlah Kandulok mengundangnya. Kandulok berangkat, mencari orang yang bisa baca doa, lalu pulang dengan muka bengkak-bengkak sambil menangis. Sang Bapak penasaran: “Hei kenapa engkau menangis? Dan …mukamu bengkak-bengkak sebab apa?” Kandulok pun menjawab: “Kyai pak! Aku dipukul pak yai, pak!” Bapak Kandulok pun marah menyangka anaknya dipukuli oleh Kyai. Kandulok diajak untuk datang ke tempat pak Kyai. Mau dihajar mungkin kyainya.

Kandulok menunjukkan tempat kyai itu berada. Tangannya menunjuk ke sarang lebah. Bapaknya marah-marah dan bertambah emosi lalu bilang:

“Hei Kandulok! Engkau menipu aku! Mukamu bengkak-bengkak disengat lebah, bukan dipukul pak kyai!”

“Betul pak. Itu rumah Kyai! Ibu kata, kalah aku dengar di mesjid ada orang yang membaca do’a itu juga dinamakan kyai!”

Pemahaman Kandulok tentang Kyai melampaui orang biasa! Haibat! Bukankah setiap tumbuhan dan binatang di muka bumi ini selalu berdoa, bertasbih kepada penciptanya? Cuma bapaknya Kandulok mungkin tak paham dengan kemengertian yang dimiliki oleh anaknya yang berotak tumpul tersebut. Bagi Kandulok, Pak Kyai adalah Bangau, juga Lebah! Bagaimana dengan orang berjas hitam yang teriak-teriak dan meratap-ratap? Apakah dia Kyai? Tentu saja, bagi Kandulok, itu jelas bukan Kyai.