Sindbad dan Sarandib

by Senjakala Adirata

Oleh: Senjakala Adirata

 

Film-film dari Eropa dan Amerika seringkali menghadirkan adegan mendongeng ketika melibatkan anak-anak. Aku sering mendapati adegan dalam film: orang tua yang mendongengkan kisah untuk anak-anaknya sebelum tidur. Adakah di Indonesia kebiasaan seperti demikian? Aku meragu. Di dusun terpencil dimana aku lahir dan dibesarkan, aku tak pernah mendapati orang tuaku mendongeng sebelum tidur. Orang tuaku tak kenal dengan Cinderella, Pinokio, Putri Salju, Syahrazad atau dongeng lain. Juga tetanggaku, aku tak yakin mereka mendongeng untuk anak-anaknya.

Beberapa waktu lalu aku mendapat buku Petualangan Sinbad. Diterbitkan oleh penerbit Pinus pada 2010. Buku aku dapat hanya dengan mengeluarkan Rp. 5000. Setelah selesai membaca, buku membuatku bahagia. Aduh! Aku bisa berbahagia hanya dengan uang Rp. 5000? Benar-benar “murahan”! Tapi orang-orang sekarang juga terkena penyakit “murahan”: minggat untuk senang-senang mencari kebahagiaan tapi dengan biaya semurah mungkin lalu menuliskan perjalannya ke dalam buku. Aku tidak tahu uang sejumlah Rp. 5000 bisa mengantar orang untuk minggat kemana. Jelasnya, untuk bensin seliter saja masih kurang, apalagi untuk glasaran di pesawat.

DSC08056

Kata pengantar buku ditulis oleh penerbit. Salah satu kalimat berbunyi: “Dalam beberapa tulisan, kisah Sinbad ini dituangkan sebagai bagian dari kisah 1001 Malam yang legendaris itu”. Aku punya buku kisah 1001 Malam jilid 1. Tapi sayang buku itu belum selesai ku baca. Buku itu disalip oleh buku-buku lain. Wah! Buku legendaris tak ku selesaikan! Aku pasti jadi orang merugi jika tak segera menyelesaikan buku itu. Dalam membaca buku Petualangan Sinbad, aku terkadang juga ingat film anime berjudul Magi: kisah petualangan seorang penyihir bernama Alibaba dan pertemuannya dengan tokoh-tokoh lainnya, salah satunya Sinbad. Di Magi, Sinbad digambarkan sebagai raja dermawan dan sakti mandraguna, punya banyak jin dan punya sikap sederhana. Kadang nyamar jadi gembel gombal amoh.

Di Petualangan Sinbad, kisah dimulai dengan ketakjuban Hindbad pada rumah mewah. Dia adalah orang miskin, kerja jadi kacung bagi para pedagang. Lalu pelayan di rumah itu menyuruhnya masuk karena tuannya yang meminta. Di dalam rumah, ketakjuban kian meluber. Pemilik rumah tersebut adalah Sinbad. Hinbad dijamu, dipersilakan untuk menginap dan mendengarkan kisah petualangannya yang akhirnya menghasilkan rumah semewah dan semegah hampir mirip milik seorang raja.

DSC08057

Tiap pagi, Hinbad disuguhi makan. Setelah itu, suguhan selanjutnya adalah kisah petualangan Sinbad hingga malam datang. Tiga hari tiga malam, Hinbad menginap di rumah Sinbad. Ia lalu pulang ke rumah. Pada hari selanjutnya hingga hari ke tujuh, Hindbad berangkat dari rumahnya sendiri tiap pagi untuk mendengar ocehan Sinbad tentang petualangannya. Dan setiap selesai ngoceh, Hinbad selalu dikasih uang oleh Sinbad sebesar 100 keping emas karena sudah mau mendengar ceritanya. Edan! Mendengarkan dongeng, diberi makan, dongengannya ampuh, lalu setelah selesai di kasih uang! Cuma urun kuping dan modal perut lapar, bisa dapat uang 100 keping emas! Andai saja zaman sekarang ini ada orang seperti Sinbad…

Kisah-kisah Sinbad adalah kisah pelayaran dan perdagangan. Kisah-kisah menantang maut, yang setiap berangkat berlayar dari Baghdad, kapalnya pasti kena bencana. Lalu terdampar di pulau, lalu diselamatkan, lalu mendapat kebaikan orang, lalu berdagang, lalu pulang lagi, lalu….. Dan pada pulang ke Baghdad, kapal Sinbad selalu selamat dan tidak terkena bencana. Dongeng yang aneh.

DSC08058

Setiap hari, Hindbad mendapat satu dongeng. Pada hari ke enam, yang berarti juga dongeng ke enam, adalah petualangan Sinbad yang tersampir di sebuah pulau yang rajanya bernama Sarandib. Baghdad dan Kerajaan Sarandib selanjutnya menjalin persahabatan karena usai dari Kerajaan Sarandib, Sinbad mendapat titipan berupa surat dan beberapa barang berharga untuk Khalifah Harun Ar-Rasyid. Tapi, tahukah antum wa antumma semua dimanakah Kerajaan Sarandib itu? Kata Sinbad: “Kerajaan Sarandib ini ternyata terletak tepat di garis katulistiwa, panjangnya siang dan malam adalah sama, yaitu masing-masing 12 jam. Negeri ini banyak dikelilingi oleh gunung yang tinggi dan lembah yang dalam”. Sudah bisa membayangkan negeri dimana itu? Kalau belum bisa membayangkan, silakan tanya Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo.

Aku memang tidak menyangka dan tak mau menebak bahwa negeri itu adalah negeri dimana aku dilahirkan. Tapi penjelasan Sinbad membuatku merasa saja, bahwa itu adalah negeriku. Tapi jika itu negeriku, Sinbad sepertinya terlalu imajinatif karena: “Permukaan tanah di negeri ini diselimuti oleh kilauan cahaya batu-batuan berharga, dimana batu permatapun dibentuk dengan indahnya, berlian banyak ditemui di sungan dan permata berhamburan di penjuru lembah”. Karena kisah Sinbad adalah pada masa Harun Ar-Rasyid, dan itu adalah ratusan tahun silam, mungkin imajinasi penulis kisah Sinbad hanya menurut cerita-cerita saja. Karena pada saat ini, kita tahu, negeri kita adalah negeri dimana para pemimpinnya begitu suka sekali mengizinkan pabrik-pabrik miliki orang asing menggangsir emas, permata, nikel, semen, batubara…. Padahal kata Sinbad, Sarandib itu orang bijaksana dan rakyatnya makmur. Tapi, “Sarandib” dan rakyatnya sekarang tidak seperti cerita Sinbad.

Seandainya Sinbad masih ada dan sekarang berkunjung ke negeri yang terletak di garis katulistiwa, pasti Sinbad akan datang dengan sebuah kapal yang penuh barang. Dalam kapal tersebut berisi barang dagangan macam-macam. Barang dagangannya berupa roket, basoka, AK 47, Hecate, granat, C4 dan lain-lain. Untuk apa dan kenapa? Silakan pikir sendiri. Baghdad sampai sekarang masih perang gara-gara Amerika dulu ngobrak-abrik Saddam Husein.

DSC08059