Gambar: Bocah dan Bencana

by Senjakala Adirata

Oleh: Senjakala Adirata

 

Gambar hampir selalu dekat dengan kultur bocah. Setiap bocah, hampir selalu suka dengan menggambar sebelum mereka bisa menggores aksara dengan fasih. Dua keponakan perempuanku juga suka menggambar. Blabak rumahnya jadi kanvas bagi kapur-kapur yang mereka gunakan. Gunung, orang, rumah, tokoh kartun, binatang jadi objek kreativitas mereka. Orang tua mereka begitu sabar meski blabak rumah mereka kotor. Ketika blabak rumah itu penuh dengan jejak ‘kesenimanan’ anak mereka, blabak itu kemudian dihapus. Mereka tahu bahwa blabak itu nanti akan kotor lagi. Tapi mereka tetap dengan sabar menghapus ‘jejak kesenimanan’ itu agar anak-anak mereka memiliki sebuah spasi untuk menempatkan karya mereka. Warna merah, putih, hijau, biru, dari kapur yang mereka gunakan jadi noda estetis. Meskipun sudah dibelikan buku gambar, mereka berdua masih ‘nakal’ untuk meluapkan kegembiraan menjadi ‘pelukis’ di blabak rumah.

Aku juga suka menggambar waktu kecil. Tapi Pae dan Mae tak memiliki inisiatif untuk membelikan kapur. Mereka tak punya duit. Kebiasaan itu terlupakan ketika mulai dewasa. Namun kini aku mulai mencoba lagi menggambar meski hasilnya jelek. Karena tak memiliki bakat menggambar, aku menggunakan teknik tracing atau menjiplak sebagai sketsa dasar. Gambar potret orang sering jadi objek ‘kesenimananku’. Beberapa gambar potret sudah aku buat. Hasilnya? Tetap jelek dan tidak mirip dengan orangnya.

DSC08046

Aku baru mendapat sebuah buku apik, Kisah dari Aceh terbitan Yayasan Sains dan Etika bekerja sama dengan Galang Press. Milikki cetakan kedua, 2007. Garin Nugroho dan Budi Riyanto Karung adalah ganda putra penyusun Kisah dari Aceh itu. Bocah dan bencana diabadikan dalam cerita gambar demi ingatan. Meski dengan bentuk populer, buku memberi pikat pengetahuan. Buku tersebut dibuat sepertinya untuk memberi pelajaran kepada anak-anak. Garin dan Budi mungkin menyukai anak-anak.

Tapi adakah orang tua di dunia ini tak suka dengan anak? Mungkin ada. Seperti kisah seorang Ibu dalam cerita pendek berjudul Adila garapan Leila S. Chudori. Anaknya mati minum Baygon dengan wajah dipoles lipstik dan bedak milik ibunya. Serta sebuah kutang berharga puluhan dolar terpasang di dadanya yang masih tepos. Ibunya meratap. Meratap bukan pada Adila yang modar karena minum Baygon tapi meratap karena begitu sayang dengan ratusan dolar yang dihamburkan Adila untuk beraksi bunuh diri.

DSC08047

Balik maning ke buku Garin dan dan Budi. Buku tersebut berkisah tentang seorang anak yang kehilangan orang tua, rumah, saudara akibat tsunami. Anak itu ditemukan oleh Pak Kumis dan akhirnya hidup dengan Pak Kumis. Tsunami telah merenggut orang-orang dan barang-barang berharga miliknya. Tsunami meninggalkan luka dan duka pada dirinya. Bahkan, Noor, nama anak itu, masih harus diterpa badai psikologis yang membuatnya ditertawakan oleh orang-orang dan anak-anak seusianya: trauma.

Noor trauma dengan air. Air menjadi aktor yang diingat oleh Noor sebagai sebuah monster penghancur. Trauma terjadi berkepanjangan. Noor jadi tak mau mandi dan wudu. Badannya bau minta ampun. Noor tak mau berangkat sekolah karena akan menjadi bahan ejekan oleh teman-teman karena bau badan. Teman-temannya menjadi monster baru bagi Noor, selain air. Saat Noor diajak oleh Teumbun untuk dapat baju, sepatu dan biskuit dari Depsos dan Unicef, Noor begitu semangat. Tapi saat Noor tahu tempat pembagian itu di sekolah, Noor bilang “waaa…gawat!”. Noor tak hanya trauma dengan air. Noor juga trauma dengan sekolah. Sekolah bisa memunculkan penyakit. Sekolah menjadi monster. Jika memang demikian, bolehkah sekolah diobati dan diperangi agar lenyap dari muka bumi? Mungkin boleh.

DSC08048

Noor akhirnya sembunyi di lumbung padi. Lumbung tersebut justru menimbulkan masalah baru. Tubuh Noor gatal-gatal. Teumbun punya dua pemecahan masalah bagi tubuh Noor yang gatal: mandi dan minyak kelapa. Noor pilih minyak kelapa. Minyak bekas menggoreng ikan asin dilumurkan Noor pada tubuhnya. Bau badan Noor kini berganda: bau tak mandi dan bau ikan asin! Noor jadi bahan ejekan dan tertawaan lagi saat mencoba mendapat sepatu dan tas di kamp pengungsi. Noor lari, menabrak apapun didepannya. Noor ke masjid. Noor berdoa: “Tuhan, kumohon janganlah Tuhan menyuruh aku mandi. Amin”. Betapa doa Noor sungguh bersahaja!

Kini mandi telah jadi kebudayaan. Mandi menjadikan orang-orang memperelok kamar mandi. Banyak orang-orang yang menghabiskan waktu di kamar mandi. Luka dan aib dalam tubuh seseorang bisa terungkap di kamar mandi. Panu, kadas, kurap, dan keganjilan lain dalam tubuhnya juga segala macam penyakit batin lainnya. Kamar mandi jadi titik sebermulanya manusia melakukan rekonstruksi agar tubuhnya menjadi sedap dan lezat dipandang oleh publik. Mereka nyabun, berkaca, berendam untuk berjujur ria dengan tubuhnya. Kamar mandi adalah kamar yang paling banyak memiliki rekaman kejujuran bagi orang-orang. Sebuah puisi garapan Joko Pinurbo, Doa Sebelum Mandi, bisa jadi refleksi: Tuhan, saya takut mandi./ Saya takut dilucuti./ saya takut pada tubuh saya sendiri.

Pada akhir cerita, Noor tak lagi trauma. Wudu jadi solusi bagi trauma Noor dengan air. Noor kembali menyukai air, menjadi jagoan wudu dan tidak takut lagi dengan air. Air menjadi lantaran bagi Noor untuk beriman dan sembuh dari penyakit trauma.