Rara Mendut

by Senjakala Adirata

Senjaka Adirata

Asmara ibarat samudera. Ia tak habis ditimba oleh jutaan orang. Ia juga menyediakan ribuan jenis ikan untuk dikail. Samudera adalah wilayah dimana tiap manusia berhak untuk melayarinya dan asmara adalah samudera yang selalu dilayari oleh umat manusia. Tapi samudera selalu menyimpan misteri: kebahagaiaan dan kepedihan.

Berasmara berarti siap diterpa badai dan ombak. Kapal bisa hancur atau karam di dalamnya. Orang juga bisa sampai ke daratan, menemui bahagia. Kisah Rara Mendut dan Pronocitro adalah kisah pelayaran manusia di samudera asmara. Rara Mendut dan Pronocitro kini terpinggirkan, terdesak, mungkin juga terkubur. Kisah mereka kalah oleh Romeo dan Juliet. Bahkan Romeo dan Juliet lebih sering digunakan untuk menggambarkan dua manusia yang sedang berkasih asmara. Pasangan lain yang juga sering digunakan adalah Adam dan Hawa. Roro Medhut dan Pronocitro kalah pamor.

Aku menemui Rara Mendut dan Pronocitro dalam buku kecil berjilid karya Romo Mangunwijaya. Aku mendapatkan seri buku itu tidak lengkap di pasar loak, Solo. Aku menunggu sambil mencari kelengkapan buku tersebut ditempat yang sama tapi tersusul oleh satu edisi yang sudah lengkap. Dengan ketebalan hampir serupa bantal balita, buku itu kemudian turut menjadi salah satu aktor yang menjajah wilayah kamar sewa ku. Rara Mendut karya Romo Mangun dalam edisi kecil berjumlah tiga jilid: Rara Mendut, Genduk Duku dan Lusi Lindri. Meski tiga buku itu berukuran kecil dan lumayan tipis, tapi edisi bergabungnya tebal nian.

Rara Mendut karya Romo Mangun telah dikenal oleh banyak orang di Indonesia. Kisah seorang gadis cantik dari Pati yang diambil oleh Adipati Pragola untuk dijadikan selir. Meski ia bukan keturunan bangsawan, paras cantiknya banyak membuat para lelaki bertekuk lutut. Meski Mendut sudah dibawa ke keputren milik Adipati Pragola tapi ia belum resmi menjadi selir sebab Pati keburu di serang oleh prajurit Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Wiraguna. Pati luluh lantak, Adipati Pragola tewas dan beberapa perempuan di keputren jadi harta rampasan perang, termasuk Rara Mendut.

Mendut dibawa ke Mataram, dihadiahkan pada Sultan tapi Sultan justru memberikannya pada Tumenggung Wiraguna. Disinilah kisah asmara bermula. Gadis pesisir ini, tak sudi dijadikan selir Wiraguna. Ia menolak menjadi gundik! Padahal Wiraguna sebenarnya ingin bermurah hati. Ia tak hanya akan dijadikan selir tapi istri sebab istri resminya tak memberi keturunan seorang putera. “Keangkuhan” Mendut ini menjadikannya mendapat hukuman. Mendut mesti membayar cukai. Hukuman itu diputuskan oleh Wiraguna untuk menyiksa Mendut dan jika Mendut tak mampu membayar cukai, maka ia harus menjadi istri Wiraguna. Mendut menolak dan memilih berjualan rokok untuk membayar cukai. Ia minta izin dan izin itu dikabulkan dengan syarat: ia berjualan mesti ditutup tirai. Para pembeli tak boleh ada yang melihat wajah Mendut. Para lelaki dari berbagai kalangan berburu rokok yang dijual Mendut. Rokok itu semakin mahal jika sudah jadi puntung, dan harganya akan kian berlipat lagi jika puntungnya semakin pendek. Alasannya? Sebab sisa bibir Rara Mendut dan pada pangkalnya itu terlelet ludah gadis semlohai ini.

Sebenarnya ada buku lain yang juga berkisah Rara Mendut. Buku itu berjudul sama tapi pengarangnya berbeda. Pengarangnya adalah Ajip Rosidi. Ajip Rosidi hanya mengisahkan Rara Mendut dan Pronocitro saja. Penolakan Mendut kepada Wiraguna, pertemuannya dengan Pronocitro di pasar saat berjualan rokok, perjuangan cinta mereka yang penuh darah, keringat dan air mata serta pelarian mereka berdua dari Wiragunan dan pengejaran yang berujung penangkapan diteruskan pembantaian Pronocitro dan kematian Mendut. Pronocitro dibunuh karena lancang telah melarikan calon istri Wiraguna dan Mendut bunuh diri persis setelah kematian kekasihnya dengan menabrakkan diri pada keris Wiraguna yang masih teracung.

Pada kisah versi Romo Mangun, cerita itu masih berlanjut. Dalam Rara Mendutnya Romo Mangun, perempuan rampasan dari Pati adalah termasuk abdi Rara Mendut bernama Genduk Duku. Setelah kematian Mendut, Genduk Duku mengabarkan kisah cinta tragis tuannya itu kepada keluarga Pronocitro, pernikahan Genduk Duku dengan lelaki yang mirip Pronocitro dan kelahiran putera-puterinya. Salah satu puterinya bernama Lusi Lindri menjadi pasukan elit Sultan. Pasukan yang berjumlah puluhan dan semuanya mesti cantik, gesit, berani dan masih gadis. Meski mereka abdi Sultan, Sultan tak boleh menjamah mereka seperti Sultan menjamah selir-selirnya.

Dua kisah Rara Mendut dari dua penulis kondang Indonesia itu sebenarnya adalah bukti bagaimana cerita percintaan sepasang manusia dari negeri ini lebih ampuh dan lebih dekat dengan kita. Kita memiliki kisah yang tak kalah seru, tak kalah mengundang derasnya air mata ketika membacanya dan tak kalah sengsaranya dari Magdalena-nya Luthfi Almanfaluti. Tapi entah bagaimana kisah Rara Mendut dan Pronocitro itu tak mudah dikenal oleh khalayak. Orang-orang lebih tahu banyak Romeo dan Juliet daripada mereka. Aduh! Kasihan Rara Mendut dan Pronocitro.