Eling & Meling

by Senjakala Adirata

Senjakala Adirata

Tiap tahun sekali, pada bulan Mei Orang2 selalu memperingati Hari Pendidikan Nasional. Bulan Mei ini tahun, aku turut memperingati dengan ikut sebuwah atjara Kongres Ki Hadjar Dewantara bertadjuk “Eling & Meling”. Atjara berupa kumpul pada rumah kaju, bukan di dalam sebuwah hotel mewah berpendingin udara. Atjara tjukup lesehan dan Orang2 berpakaian tanpa djas atau dasi. Atjara biasa sadja, tapi isi atjara luar biasa.

Orang2 datang dari beberapa daerah. Mereka beradu pengetahuan tentang Ki Hadjar Dewantara. Kata-kata bertaburan. Kata-kata berkelahi, basah oleh keringat. Aku masih ingat, bulan Mei kala itu, Orang2 banjak mengeluh sebab panas. Sekian peserta datang mengotjehkan Ki Hadjar dari berbagai sisi. Ki Hadjar sebagai ajah, Ki Hadjar sebagai politikus, Ki Hadjar sebagai ahli pendidikan, Ki Hadjar sebagai pengadjar ampuh, Ki Hadjar sebagai….

Atjara Eling & Meling membintjangkan Ki Hadjar Dewantara. Sosok ini lebih dikenal oleh orang Indonesia sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Selebihnja dari sosok tersebut? Soewardi Soerjaningrat? Janget Kinatelon? Tiga Serangkai? Taman Siswa?

Orang2 djarang mengotjehkan gagasan-gagasan Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar hanja menempel di dinding-dinding kelas. Gambar pengenal sebagai salah satu pahlawan Indonesia. Gagasan pendidikan, pengadjaran, kebudajaan, politik, sastra, musik dari Ki Hadjar tertindih oleh kekatjauan UN, kekerasan pengadjar terhadap anak didik, gelombang K-Pop jang menjerbu tanpa ampun dan kegilaan berkorupsi oleh politikus kita saat ini. Ki Hadjar “dibunuh” oleh warga negaranja sendiri. Kasihan! Orang2 tak mau mengurusi Ki Hadjar.

DSC07844

Aku sering mendengar utjapan klise dan membosankan dari para pemuda-pemudi. Setiyap peringatan Hari Pahlawan, mereka selalu sesumbar: meneruskan perdjuangan para pahlawan. Perdjuangan apa jang diteruskan? Aku selalu merasa kalau kalimat itu mengandung sedjuta kebohongan. Orang2 djarang mendjadikan gagasan para pemikir kita dahulu sebagai landasan berpikir untuk dikembangkan. Para pahlawan kita hanja berhenti di monumen, patung atawa gambar.

Ah! Aku malah keterusan marah-marah. Maaf. Seribu maaf djikalau aku berburuk sangka. Kenjataan disekitar, aku melihatnja demikian. Mungkin di lain tempat, ada hal jang lebih baik dan berbeda dari kenjataan ditempatku. Aku berharap di lain tempat, orang2 tak lupa dan melupakan pahlawan daerahnya. Menggali adjaran2 dan mengambil kebidjaksanaan2nja.

Atjara Eling & Meling berhasil mengumpulkan beberapa tulisan berisi uraian dan pendjelasan tentang gagasan Ki Hadjar. Tulisan dikumpulkan dan ditjetak mendjadi sebuwah buku. Buku itu berdjudul “Eling & Meling”. Buku telah terbit dan akan segera beredar. Botjoran dari panitia atjara tersebut: setengah dari djumlah buku jang ditjetak itu akan dibagikan setjara gratis untuk perpustakaan-perpustakaan jang menginginkannja.

Salah satu buku jang djuga diperbintjangkan dalam atjara Kongres Ki Hadjar Dewantara tersebut jakni “Asas-asas dan Dasar-dasar Taman Siswa” karja Ki Hadjar Dewantara. Buku tipis tak sampai 50 halaman. Buku diterbitkan oleh Madjelis Luhur Taman Siswa Jogjakarta (1964). Pendjelasan dari penerbit satu paragrap: Diuraikannja dengan djelas dan setjara populer sedjarah perkembangan kehidupan Taman Siswa, dan bagaimana tanggapannja terhadap alam dan djaman baru, sesudah Indonesia merdeka ini.

DSC07845

Penerbit masih memiliki sesuwir harapan bagi Taman Siswa dalam menghadapi djaman baru setelah Indonesia merdeka. Kini banjak sekolah bermuntjulan. Banjak pula jang runtuh dan bangunannja mahu ambruk kerana luput dari perhatian pemerintah. Aku tak tahu bagaimana nasib Taman Siswa kini. Aku tak pernah sekolah di Taman Siswa. Aku punja teman jang pernah sekolah di Taman Siswa Bindjai, Sumatera Utara. Aku bertemu dengannja di Ternate, Maluku Utara. Aduh! Pertemuan aneh! Orang Sumatera Utara bertemu orang Djawa di Maluku Utara. Aku masih punja ingatan tentang bagaimana ia bertjerita tentang djaman sekolah di Taman Siswa. Teman2 sekolahja, guru2nja. Aku punja harapan, suatu saat akan menuliskan ingatan tersebut. Aku djuga punja harapan akan kembali bertemu dengannja. Tapi entah kapan, aku tak tau.