Indonesia di Persimpangan Jalan

by Senjakala Adirata

Senjakala Adirata

Orang-orang membincangkan UU Ormas sejak masih rancangan. Media turut memberi kabar gencar melalui berita-berita. Pro-kontra bermunculan. Penolakan muncul karena menganggap UU Ormas hanya akan mengulang sejarah kelam Orde Baru: penutupan kran demokrasi. Wacana RUU Ormas dahulu muncul sebab publik menganggap bahwa ormas tertentu sering bertindak sewenang-wenang seperti ‘tak tahu’ hukum. Melakukan tindak kekerasan dan anarki seenak hati dalam sebuah negara yang berlandaskan hukum.

Isu kian gencar ketika bentrokan terjadi antara FPI dan masyarakat Sukorejo, Kendal. Bentrokan menyebabkan seorang perempuan meninggal karena (di/ter)tabrak mobil yang membawa massa FPI. Publik ramai membicarakan. Senin (22/7/2013) Koran Tempo menurunkan editorial bertema FPI. Koran Tempo menulis: “Masalah ini sebetulnya telah diatur dalam Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan yang baru. Organisasi semacam ini bisa diberi peringatan oleh pemerintah. Sanksi pembekuan sementara pun bisa diberikan bila organisasi itu berulang-ulang melanggar ketertiban”.

Aku pernah mendengar tentang penertiban ormas-ormas yang terjadi pada zaman Orde Baru. Hal itu dilakukan agar negara dapat melakukan kontrol terhadap “kekacauan” yang ditimbulkan oleh ormas. Ormas-ormas yang dianggap subversif akan dibubarkan.

Semua ormas dan partai juga harus berasas tunggal: Pancasila. Salah satu organisasi mahasiswa Islam saat itu pecah menjadi dua kelompok. Menteri Pemuda dan Olahraga, Abdul Gafur saat itu mendesak organisasi mahasiswa Islam tersebut agar merubah Anggaran Dasar Organisasi. Mereka terbagi dalam dua kubu: kubu yang menerima asas Pancasila dan kubu lain yang tetap menggunakan Islam sebagai asas organisasinya. Partai-partai juga ditertibkan dan musti berasaskan pancasila.

Aku menemukan sebuah buku berjudul Indonesia di Persimpangan Jalan. Buku seorang teman yang ku pinjam setelah dia berbelanja di pasar buku bekas Gladak, Solo. Buku tipis 27 halaman, tak berketerangan penerbit dan tahun terbit. Hanya ada informasi tahun pada akhir tulisan: Jakarta, Juli 1984. Buku bersampul putih polos, hanya ada tulisan judul dan keterangan penulisnya: M. Natsir. Buku selesai ku baca tak sampai satu jam.

Mohammad_Natsir1

Mohammad Natsir

Buku Indonesia di Persimpangan Jalan ini berkisah tentang penertiban ormas dan parpol. M. Natsir menganggap pemunculan Rancangan Undang-Undang yang mengatur partai politik dan ormas tersebut adalah peristiwa penting. RUU tersebut mengenai lima hal: Pemilihan Umum dan Anggota Badan Permusyawaratan/Perwakilan Rakyat, Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan/Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah, Partai Politik dan Golongan Karya, Referendum dan terakhir Organisasi Kemasyarakatan. RUU dimunculkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan dalih demi tegaknya Demokrasi Pancasila yang menjamin stabilitas nasional yang dinamis dan berlanjutnya pembangunan nasional.

Peristiwa pembuatan-pengumuman-penyetujuan RUU tersebut bagi Natsir adalah sebuah peristiwa penting dalam sejarah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Natsir mencurigai gelagat pemimpin Orde Baru yang dengan RUU tersebut akan meciderai suasana demokrasi di negeri ini. Natsir menganggap bahwa peristiwa tersebut adalah titik kulminasi dari Pemerintahan Orde Baru.

Penyusutan partai politik dilakukan oleh Orde Baru untuk membikin kontrol lebih mudah. Dalam pemilu tahun 1971, terdapat tujuh fraksi di DPR kemudian disusutkan menjadi dua fraksi: fraksi Demokrasi Pembangunan dan fraksi Persatuan Pembangunan. Tahun 1973, penyusutan kefraksian berlanjut pada penyusutan terhadap kepartaian. Hanya ada dua partai yang diperbolehkan ikut pemilu: Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia.

Natsir menulis: pada lahirnya “penataan” dengan cara peleburan yang dibikin-bikin (artificial) ini seolah-olah berhasil. Tetapi didalam masing-masing parpol dan fraksi-fraksinya itu tidak dapat dihindarkan ketegangan-ketegangan yang melumpuhkan. Inilah yang kemudian pada selanjutnya dinilai Natsir sebagai stabilitas semu. Dinamikanya ibarat daya-gerak serombongan biri-biri, berbondong menuju padang rumput-dikendalikan oleh sebilah pimping panjang, ditangan si penggembala.