Perjalanan ke Pare

by Senjakala Adirata

Jum’at malam saya disuruh jemput dua teman saya yang sudah saya anggap sebagai saudara saya sendiri. Mereka berdua dari semarang. Satu teman saya bernama Mas Milkhan dan satu lagi adalah Mas Bandung Mawardi. Mas Milkhan ini saat Jum’at pagi berkunjung di Bilik Literasi milik Mas Bandung Mawardi, diajak sekalian untuk menemani Mas Bandung mengisi acara di Semarang. Nah, malamnya itu saya diminta untuk menjemput mereka.

Saya kemudian bermalam di Bilik Literasi. Sebelumnya, saya sudah janji akan menemani perjalanan Mas Bandung Mawardi (BM) untuk jadwalnya mengisi acara di Pare, Kampung Inggris, Sabtu malam. Sabtu pagi saya dan Mas BM berangkat. Membawa dua kardus buku. Dua tas kami juga penuh dengan buku. Heran saya, Mas BM tidak mengajak saya langsung menuju terminal Tirtonadi untuk pindah moda transportasi ke Bus umum, tapi malah menyuruh saya untuk membelokkan sepeda motor menuju Alun-Alun Lor, Solo. Di sebelah utara Alun-Alun tersebut ada beberapa kios yang terkumpul menjual buku-buku bekas. Tempat itu disebut oleh orang-orang, Gladak. Di situ adalah salah satu tempat terfavorit Mas BM.

Bandung Mawardi (BM)

Bandung Mawardi (BM)

Setelah sampai, mas BM seperti biasa, muter-muter memilih buku-buku bekas atau buku-buku terbitan tahun lampau. Mas BM dapat banyak buku sehingga menambah beban perjalanan yang akan kami lakukan sebentar lagi. Tapi beban itu, sungguh, kami malah menertawakannya. Kami merasa aneh saja ketika banyak orang yang gandrung untuk menabung membeli tablet guna menyimpan buku-bukunya, tetapi kami masih tetap dengan cara lama. Dan lagi, Mas BM memang terlalu menjaga diri untuk tak larut dalam euforia produk teknologi. Dalam sebuah acara diskusi rutin yang bernama “Pengajian Malem Senin”, suatu kali Mas BM pernah bilang “Saya persilahkan produk teknologi untuk bertamu dalam rumah saya, tapi jika keterlaluan akan saya usir pergi”. Ini berdampak pada Mas BM, sebutan klise ditujukan padanya “GapTek” oleh para penulis lain yang sekaliber. Beliau memang tetap saja bertahan untuk menyikapi produk teknologi secara lebih bijak dan terkesan menjaga jarak. Jadi, siapa yang bakal mengira jika Mas BM, sosok esais yang tercatat sebagai salah satu penulis terproduktif yang bulan lalu mendapat undangan di Ubud Writers and Readers Festival di Bali itu tak bisa mengoperasikan Fb? Fb beliau, sayalah yang mengoperasikannya. Bukan beliau. Isinya? Buku-buku saja yang ditunjukkan dan untuk dijual. Beliau “terusir” dari rumah kontrakannya karena habis masa sewa dan Bilik Literasi itu adalah rumah yang sedang dicicilnya. Biayanya dari jualan buku melalui Fb tersebut. Buku yang dijual adalah buku klasik dan ampuh.

Saya mengenal Mas BM awalnya dari Cabiklunik. Esai-esai budaya yang tampil di media cetak dan ditulis ulang oleh seorang admin bernama Puja, sering saya baca. Saat itu saya masih di Ternate. Setelah pindah kampus di IAIN Surakarta, saya tak menyangka akan bertemu dan bahkan kini akrab dengan beliau. Jadinya sekarang saya tambah gembira.

Kembali pada cerita awal, perjalanan menuju Kampung Inggris, Pare, akhirnya berlanjut. Sampai di Pare langsung “ngoceh” tentang kurikulum serta pendidikan. Obrolan terkesan panas tapi penuh dengan banyolan. Hampir empat jam kemudian, acara selesai. Kami tak menginap, jadi langsung pulang malam itu juga. Subuh hari kami sampai di Tirtonadi, singgah di Bilik Literasi sejenak lalu saya melanjutkan perjalanan ke kamar kos. Dan siang tadi, saya dapat sms dari beliau yang isinya, beliau mengirim sebuah tulisan untuk ditampilkan di blog. Blog? Ya, beliau memang baru saja membuat blog. Blog itu juga sayalah yang mengoperasikannya. Tapi isi didalamnya adalah tulisan beliau. Tulisan itu terkesan personal sekali, tak seperti tulisan-tulisan beliau yang biasa termuat di Kompas, Tempo, Jawapos, Republika, Solopos dan entah berapa media cetak lagi yang sudah memuat tulisannya. Tulisan itu memang khusus ditulis untuk blog, bukan untuk media cetak. Bahkan, akhir sms beliau tadi siang adalah sebuah jargon yang menyindir saya karena saya adalah salah satu “murid” yang pemalas untuk menulis. Bunyi kalimatnya “satu hari satu esai”.

Tentang Blog dan FB-nya Mas BM, juga tentang keputusannya untuk menjaga jarak dengan produk teknologi, mungkin saya akan bercerita lain waktu. Tapi, tentu saja subjektif. Saya akan menilai Mas BM dari pemahaman saya pribadi. Silahkan cek blognya di bandungmawardi.wordpress.com.