Lan Fang dan Kisah Pencitraan

by Senjakala Adirata

Kisah Arjuna dan Dasamuka sudah begitu terkenal di Indonesia. Cerita epik itu berkembang dan berevolusi dengan berbagai model cerita modern lain. Dalam kisah Arjuna dan Dasamuka pula, selalu banyak hal yang dapat dipetik sebagai pelajaran berharga tentang kehidupan.
Ada sebuah cerita. Seorang perempuan bernama Prameswari dan suaminya bernama Drajat. Sang Suami adalah seorang pembuat topeng dan tiap hari membuat topeng-topeng tokoh pewayangan. Paling banyak adaah tokoh Arjuna sebab topeng Arjuna adalah topeng paling laku. Tapi kehidupan keluarga tersebut secara finansial tak baik. Topeng yang dibuat tak selalu laku tiap hari. Padahal, setiap hari mereka butuh makan.
Suatu hari, mendadak saja, setiap hari rumah pasangan tersebut didatangi para pembeli topeng. Mereka datang dengan mobil yang mengkilap dan mengenakan baju safari, jas atau batik sutra yang selalu necis dan licin. Ada yang rambutnya klimis seakan-akan sebotol minyak rambut ditumpahkan di sana. Mereka membeli topeng tanpa menawar. Mereka bahagia ketika mendapat topeng-topeng yang mereka inginkan khususnya topeng para tokoh yang rupawan. Topeng-topeng itu mereka gunakan untuk menyambut Festival Topeng Nasional yang mengantarkan para pemakai topeng menuju kursi singgasana.
Tentu saja sang istri kemudian marah. “Singgasana? Aku ingin singgasana itu. Jadikan aku seorang permaisuri,” kata sang istri. Sang suami tak memberi jawaban yang berkesan untuk sang istri. “Kau yang membuat topeng tetapi orang lain yang kaya. Kenapa tidak kau kenakan sendiri saja topeng itu sehingga bisa kaya seperti para pembeli yang menutup wajah mereka dengan topeng rupawan itu?” sang istri terus mengomel. Dan lagi, topeng-topeng itu hanya dibayar murah dengan imbuhan kaos bergambar lambang.  “Kita butuh hidup yang lebih layak! Bukan butuh kaos!”. Akhirnya sang lelaki, Drajat, mengalah. “Aku harus membuat topeng apa, Dinda?” kata sang suami. “Buatlah topeng wajah Rahwana. Jika para konglomerat itu harus memiliki banyak topeng untuk mengubah-ubah wajahnya tetapi kau cukup memiliki sebuah topeng saja. Sebuah topeng tetapi sudah berdasamuka, bersepuluh wajah. Dan setelah itu kau adalah Drajat yang sebenarnya, laki-laki berharta dan mempunyai jabatan yang tinggi,” saran sang istri itu kemudian dituruti oleh sang suami.
Alkisah, sang suami memakai topeng dasamuka dan ikut festival topeng. Ia termasuk menjadi pemenang diantara para pemenang lain. Sang istri bangga sekali karena sang suami jika pergi kemanapun selalu dihormati banyak orang, bila ia duduk diberi kursi yang paling bagus, setiap berbicara banyak yang bertepuk tangan dan orang-orang akan menyelesaikan apa yang ia perintahkan dengan telunjuknya. Namun, mulai dari situ, ketika sang suami sudah mulai berubah menjadi orang jajaran atas, si istri mulai tak mengenal sang suami yang sejati. Yang sederhana, yang mau legawa dengan apa pun yang diberikan oleh Tuhan. Setiap saat yang terlihat adalah wajah Rahwana, setiap makan, setiap berjalan, setiap apapun bahkan saat setiap bercinta diatas ranjangpun. Wajah yang terlihat dari si suami adalah wajah Rahwana.
Akhirnya sang istri berpikir bagaimana cara bisa melepas topeng Rahwana dari muka suaminya. Maka disiapkan obeng, linggis, palu, kapak, pisau, atau mungkin juga bom. (hahahaha). Saat sang suami tidur mendengkur, diayunkanlah alat-alat itu untuk menghancurkan wajah buruk Rahwana. Sepuluh wajah Rahwana pecah berantakan. Sang suami kaget bukan kepalang. Pecahan topeng itu berceceran di lantai marmer. Tapi, apa yang terjadi kemudian?
Sang istri kaget karena dibalik topeng Rahwana yang telah pecah itu, sang istri tak lagi mendapati wajah suaminya dahulu. Wajah itu sudah berubah tidak karuan, penuh borok, hidung melengkung seperti tukang sihir, mata melotot tanpa kelopak, bibir melebar hingga pipi dan lidah menjulur panjang. “Tidak!” sang istri kaget undur ke tembok. “Kau bukan Drajat, suamiku yang tercinta. Bukan. Kau bukan suamiku. Dimana suamiku?” kata sang istri itu. “Ini aku dinda Prameswari. Ini aku Drajat suamimu” kata lelaki itu sambil menutup wajahnya dengan sepuluh jarinya. Disela-sela jari itu, ku lihat air mata berwarna abu-abu mengalir. Sang Istri kemudian menyesal.
Pencitraan. Ya, itu mungkin yang bisa didapat dari cerita tersebut. Bahwa pencitraan itu adalah sebuah jalan untuk memanipulasi diri. Itu sama membohongi diri sendiri. Merubah diri menjadi terlihat baik untuk mengelabuhi orang lain dan demi keuntungan sendiri. Merubah diri seakan Arjuna dan tak menerima diri seutuhnya. Itu sama halnya tak mau bersyukur atas rahmat Tuhan. Menjadi diri sendiri adalah hal yang dicari. Seperti sang Istri Drajat, akhirnya menyesal karena menyuruh sang suami untuk membohongi diri dengan merubah dirinya menjadi seperti Rahwana.
Kisah diatas tersebut adalah sebuah kisah yang ditulis oleh Lan Fang. Sastrawan Indonesia berdarah Tionghoa yang sangat luarbiasa dalam membuat kisah-kisahnya yang sangat bermakna dengan bentuk cerpen. Cerpen yang diceritakan diatas adalah cerpen berjudul Festival Topeng karya Lan Fang. Terimakasih.