Dari Benci Dipaksa Cinta

by Senjakala Adirata

Oleh: Senjakala Adirata

Saya tidak suka dengan matematika, meski pernah sekolah di STM yang sehari-hari bergelut dan bergulat dengan angka-angka. Ketidaksukaan tersebut menggeret saya menuju jurang benci terhadap ilmu hitung tersebut. Penghafalan rumus, jawaban yang mesti tepat dan lugas tanpa embel-embel membuat otak saya malas untuk menjalankan perintah soal-soal yang imperatif itu. Selesai di STM, saya banting stir dan nabrak di Sastra. Sastra Inggris (meski tak bisa bahasa Inggris hinga sekarang: ironis!). Akhirnya, sekarang setelah beberapa membaca buku (sejarah dan filsafat) dan sekejap-sekejap mampir di beberapa alinea, saya tersadar juga. Kenapa saya harus tidak suka sekali dengan matematika dulu itu jika saat ini saya menemui berbagai tokoh besar yang saya suka juga ahli dalam matematika. Karena itu, jika membaca pemikiran para tokoh tersebut, para penulis buku yang menjabarkan pemikiran sang Tokoh sering mengkaitkannya dengan beberapa karya luarbiasa sang tokoh dalam ilmu hitung itu. Hal tersebut membuat saya penasaran untuk tahu dan bias juga membaca peta pemikiran para tokoh tersebut. Tapi apalah daya, saya terlanjur menepiskan matematika di sudut pagar halaman rumah hingga ia dirayapi tanaman merambat yang berduri dan bersemak.

Sudah setengah bulan lebih memang saya nggak memperbarui entri tulisan. Waktu lebih saya habiskan untuk jalan-jalan saja ke tetangga. Mencoba untuk belajar menulis yang lebih nyaman dibaca dan tidak terlalu tegang sebab kata beberapa teman saya, tulisan saya eksplosif dan sering membuat tegang. Jadi meski tema yang diangkat sebenarnya sepele, tapi berat membacanya. Baiklah, saya mesti masih harus banyak belajar dari para blogger yang lebih lama.

Buku S.I Poeradisastra

Buku S.I Poeradisastra

Nah, akhirnya tulisan ini saya usahakan muncul. Terinspirasi dari sebuah buku karya S.I Poeradisastra atau dahulu dikenal sebagai salah satu tokoh penting di LEKRA (anak organisasi PKI). Dulu beliau lebih terkenal dengan nama Boejoeng Saleh. Buku yang saya baca adalah buku setelah kepulangannya dari penjara Pulau Buru yang berjudul Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern.

Buku ini memang terkesan hanya sebatas gambaran umum dari beberapa referensi yang dihubungkan satu dengan yang lain melalui pembacaan sejarah. Namun begitu, buku ini memberi beberapa entri berharga bagi saya. Salah satunya ya, salah satu tokoh yang saya suka seperti yang telah saya katakan di atas, di singgung juga disini. Beberapa diantaranya adalah Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusyd (Averroes), Ar-Razi (Razes) juga Ibnu Arabi. Berbagai

khazanahkedokteranislam.blogspot.com

khazanahkedokteranislam.blogspot.com

kejutan saya dapatkan dari buku ini. Beberapa diantaranya adalah penemuan air raksa dan pembedaan antara cacar air (Variola) dan cacar merah (rougella-ini jenis yang saya masih belum tahu) itu dilakukan pertama kali oleh Ar-Razi (866-909 M). Air raksa pertama kali dikenal di Eropa pada masa Tsar Rusia, Alexei Mikhailovitsy (1629-1676 M). Ar-Razi pula diduga sebagai imuwan yang pertamakali melakukan diagnosis tekanan tinggi (hypertension) dan penggunaan kayu pengapit (spalk) jika tulang tangan atau kaki patah.

Dari buku ini pula kemudian yang memaksa saya harus kembali melirik matematika. Seperti tokoh Hypathia di Alexandria yang mencoba mencari pusat titik surya dengan hitungan matematika dan Ptolomeius, guru Hypathia juga Isaac Newton. Selain mesti memperhatikan para matematikawan lain seperti Archimedes, buku ini telah menghantarkan saya pada sebuah buku yang membuat kepala saya pening : History of Mathematics yang ditulis oleh David Eugene Smith pada tahun 1925. Buku karya D.E Smith ini, entah saya bisa menyelesaikan atau tidak, sebab kesulitan utama adalah bahasa yang digunakan (bahasa Inggris) serta tebalnya yang mencapai 750 halaman! Waduh!!