Cerita Dewasa: Lagu dan Kisah Seputar Pembantaian

by Senjakala Adirata

Dalam konsep kebudayaan universal milik Profesor Koentjaraningrat, ada tujuh hal yang membangunnya. Salah satunya yakni sistem kesenian masyarakat. Dalam sistem kesenian masyarakat, berbagai ragam pengetahuan masyarakat tertuang dalam bentuk produk. Patung, lukisan, kerajinan tangan dan juga musik. Akan tetapi, musik sebenarnya termasuk dalam sistem teknologi yang ketika alat teknologi ciptaan manusia tersebut dicipta dan dikembangkan menjadi sebentuk seni. Seni dari alat musik itu menghasilkan irama dan nada. Dari seni irama itu, lirik bahasa sesuai tempo irama kemudian masuk untuk melengkapi hingga membentuk lagu.

Gambar

Mohammad Arief, seorang seniman asal Banyuwangi pernah menciptakan sebuah lagu yang kemudian sangat populer pada tahun 50-an sampai 60-an. Lagu tersebut adalah lagu “Genjer-genjer”. Konon, lagu ini diciptakan bermula dari kesengsaraan masyarakat Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Lagu ini tercipta sekitar tahun 1940-an. Dahulu pada zaman Jepang, kesengsaraan meliputi. Bahan makanan susah. Genjer, tanaman yang saat itu hanya diperuntukkan babi dan itik akhirnya jadi tanaman yang lezat untuk dikonsumsi manusia. Mohammad Arief, sebagai manusia melakukan sebuah kreasi dalam dirinya untuk mencipta sebuah lagu sebagai kritik sosial. Lagu tersebut Populer dan jadi hits di radio-radio setelah dipopulerkan oleh Lilis Suryani dan seniman kondang Bing Slamet. Sejak memuncaknya gerak politik PKI, lagu itu identik dengan Lekra, salah satu anak organisasinya dan banyak dinyanyikan oleh Gerwani.

Lagu tersebut kemudian seakan jadi lekatan identitas. Para pelantun lagu itu identik dengan PKI. Paska Gestok, lagu itu seperti membawa prahara. Ancaman kematian jadi hal yang biasa meliputi diri orang yang melantunkan lagu teresbut. Hingga pada masa Orde Baru, lagu “genjer-genjer” seakan jadi lagu bejat yang tak layak untuk dikumandangkan meski sayup-sayup saja. Sang pencipta lagu, Mohammad Arief turut jadi korban dari lagu yang diciptakan sendiri. Ia dibunuh pada prahara 1965-1966.

Gambar

Lagu yang pada mulanya tercipta sebagai sebuah media untuk kritik sosial jadi sebuah ancaman bagi para pelantunnya. Si pelantun lagu akan terancam kehidupannya dari penguasa yang saat itu berkuasa dan tak dikritik. Kasus Genjer-genjer jadi pelajaran berharga hingga melibatkan banyak orang yang terbunuh.  Kisah dari sekitar lagu dan pembantaian manusia tak hanya lekat dalam dunia politik saja seperti diatas. Lagu My Way yang di populerkan oleh Frank Sinatra juga jadi lagu kesukaan Sastrawan Radhar Panca Dahana pernah memiliki sejarah tragis di Filipina pada satu dekade hingga 2010.  Lagu tersebut aslinya adalah lagu Prancis yang berjudul Comme d’habitude  ciptaan Claude Francois dan Jacques Revaux (1967).  Lirik bahasa Inggrisnya disalin oleh Paul Anka pada 1969.

Banyak kejadian kerusuhan timbul di tempat Karaoke Filipina yang menimbulkan kematian. Pada 29 Mei 2007, seorang pelantun My Way ditembak kepalanya dengan pistol kaliber 38. Beberapa kejadian yang mengakibatkan pembunuhan di bar juga sudah sering terjadi pada tahun sebelumnya. Lagu tersebut pernah dihapus dari daftal lagu di Filipina.

Lagu dapat mengakibatkan kematian. Entah itu dari kematian fisik atau juga kematian kebudayaan. Lagu lokal (daerah) untuk Indonesia juga sudah mulai dibunuh oleh lagu-lagu dengan genre pop picisan. Lagu-lagu pop tersebut menyerang habis selera masyarakat dan memaksa masyarakat untuk menikmati suguhan tersebut. Dari dewasa hingga anak-anak dihabisi oleh lagu pop picisan. Lagu daerah yang dahulu biasa diajarkan kepada murid sekolah yang masih anak-anak sebagai tembang, kini mulai dilibas tak dibiarkan untuk bertumbuh ditanah kelahirannya sendiri.

Hal ini sebenarnya dapat ditelisik sebagai sebuah fenomena perubahan mentalitas. Lagu dengan iringan musik biasanya menjadi mudah terserap bagi para pendengarnya. Dengan catatan, genre yang disuka oleh si pendengar. Seringnya lagu tersebut didengar oleh si pendengar, maka akan sering pula pendengar kemudian kian hafal dengan lirik lagu tersebut. Lirik itu kian jadi dogma karena diresapi dan dikukuhkan sebagai trend. Dapat dikatakan dalam lagu, ada laku yang diamalkan dari lagu yang didengar. Namun jika lagu tersebut picisan dan cengeng, itu juga akan mempengaruhi pendengarnya. Lagu cengeng pernah dihabisi oleh Soekarno. Soekarno pernah tak mengijinkan lagu-lagu cengeng diputar di bawah langit Indonesia.