Bahasa Asing vs Bahasa Lokal

by Senjakala Adirata

Wacana penghilangan mata pelajaran bahasa Inggris oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menimbulkan pro dan kontra. Dari kabar media cetak nasional atau dari media elektronik (internet) terdengar lumayan nyaring. Situs VOA Indonesia sendiri telah mengunggah berita tentang rencana penghapusan bahasa Inggris pada Jumat, 26 Oktober 2012 Waktu Washington, DC dengan judul berita Orangtua Pertanyakan Rencana Penghapusan Bahasa Inggris dari SD. Berita yang diunggahpun menimbulkan komentar yang beragam.

Pro dan kontra yang terjadi atas rencana penghapusan bahasa Inggris pada tingkat SD tersebut menurut saya dilandasi oleh dua alasan. Bagi pihak pro, landasan yang dipakai adalah nasionalis-idealis sedangkan bagi pihak kontra adalah nasionalis-pragmatis. Opini dari masyarakat yang kontra dengan keputusan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia terkesan nasionalis-pragmatis. Memikirkan negara tetapi untuk kepentingan personal. Bagi opini yang kontra, bahasa Inggris dianggap sebagai sumber pengetahuan umum dan ajang untuk “go International”. Bahasa Inggris adalah hal yang marketable untuk tujuan kepragmatisan.

Sedang komentar Ibnu Hamad dan Kunjana Rahardi adalah tepat sekali dan berdasar, menurut saya. Penguatan bahasa Indonesia untuk tingkat dasar adalah hal yang tidak lagi penting tapi mutlak. Kepentingan yang dibawa oleh pemerintah dalam hal ini adalah Kemendikbud adalah masalah negara dan identitas. Keberadaan bahasa Indonesia sebagai identitas kebangsaan bisa luntur dengan pelan jika pembiasaan bahasa asing di tingkat SD diterapkan. Bahasa Indonesia sendiri ada dan keberadaannya sebenarnya juga mengancam bahasa daerah. Karena pembiasaan!

Bahasa adalah hal penting dalam hidup suatu bangsa. Keberadaan bahasa dalam suatu suku-bangsa adalah keberadaan identitas. Kepunahan bahasa sebuah suku-bangsa adalah sebuah kepunahan manusianya. Sebab bahasa adalah salah satu unsur kebudayaan yang penting untuk tetap dibina. Kita bisa telisik kembali catatan pengetahuan ilmuwan kita, Profesor Koentjaraningrat. Koentjaraningrat memberikan kesimpulan bahwa universal culture itu memiliki tujuh unsur. Sistem religi, sistem kemasyarakatan, sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem kesenian, sistem teknologi dan sistem mata pencaharian. Jika bahasa nasional termarginalkan oleh sebab para generasi penerus itu lebih terbiasa dengan bahasa asing, maka bersiaplah untuk mengucapkan sampai jumpa kepada bahasa nasional juga bahasa daerah. Ucapan sampai jumpa itu tak hanya ditujukan secara tersurat kepada bahasa tetapi juga secara tersirat kepada identitas ke-suku-bangsa-an kita sebab bahasa itu kita bawa dalam tubuh kita.

Bahasa daerah kini memang terancam punah. Keberadaan bahasa nasional sendiri yakni bahasa Indonesia juga memberi kontribusi dalam kepunahan bahasa daerah. Jika ditambah lagi dengan bahasa asing, ini akan kian memperparah. Bahasa daerah sebagai bahasa identitas suku akan tergilas sebab habis penuturnya. Sebenarnya, posisi tawar yang diyakini bahwa bahasa Inggris itu penting sebab bahasa Inggris itu bahasa international dan sumber pengetahuan adalah tidak jaminan. Pengetahuan tidak hanya ditulis dalam bahasa Inggris saja tetapi juga bahasa lain seperti Jerman, Perancis atau juga Spanyol. Kekhawatiran minimnya pengetahuan sebab tak mampu berbahasa Inggris itu sebenarnya bisa diatasi dengan penerjemahan buku bahasa asing ke bahasa nasional. Model metode pengembangan melalui penerjemahan ini bisa kita melakukan telisik sejarah ke Jepang di masa akhir kekuasaan Tokugawa (1600-1868). Jepang melakukan penerjemahan buku bahasa asing ke dalam bahasa lokal. Hal itu digunakan agar tradisi Jepang tetap kokoh sedang otak tetap mampu mengikuti kemodernan dengan pola pikir orang modern.

Pentingnya bahasa daerah dan bahasa kebangsaan adalah untuk memperkokoh identitas dan kultur. Jika identitas dan kultur ini lenyap, maka yang tersisa adalah bangsa yang hanya terus-menerus mengekor budaya bangsa yang dianggap lebih mayoritas.

Pada hari yang sama, 26 Oktober 2012 Waktu Washington, DC, VOA Indonesia juga mengunggah sebuah berita yang berjudul Linguis AS Hidupkan Lagi Bahasa-bahasa yang Telah Mati. Dalam berita tersebut tidak hanya disinggung bahwa pembelajaran bahasa bukan masalah akademis belaka. Namun, dalam berita tersebut juga digambarkan bagaimana bahasa yang telah punah itu begitu bangganya dibangkitkan kembali. Contohnya adalah bahasa Ibrani yang dulunya hanya digunakan dalam doa dan studi, tetapi kini digunakan oleh jutaan manusia dan menjadi bahasa nasional Israel. Poin yang didapat, kebanggaan akan bahasa nenek-moyang (bahasa daerah-bahasa nasional) itu adalah sebuah pencapaian cipta, rasa, dan karsa. Bahasa lokal itu adalah sebuah usaha yang telah diciptakan oleh leluhur yang telah membuat kita ada didunia ini. Membanggakan bahasa asing dan menendang serta mengesampingkan bahasa leluhur itu berarti sama hal nya dengan tak pernah menganggap bahwa leluhur itu pernah ada. ini riskan!