Penyair!

by Senjakala Adirata

Jantung saya merasa “deg” dan terasa “deg” itu keras sekali. Saya menemukan terjemahan sebuah ayat Qur’an “Penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang sesat. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi. (QS As-Syu’ara, 24-27) .

Selama ini saya memang tahu bahwa As-Syu’ara berarti “para Penyair”. Tapi saya belum membaca semua terjemahan Al-Qur’an hingga ketika saya mendapati terjemahan ayat diatas saya benar-benar kalang kabut. Saya memang menulis puisi, meski tidak se-intens Sang Bayang. Saya menulis puisi untuk saya simpan sendiri dan kadang-kadang juga menerbitkannya, entah di dunia maya atau di media kampus. Saya juga pembaca puisi. Teman-teman teater saya di Teater Sirat bahkan ada yang memanggil saya pujangga atau juga penyair. Meski panggilan itu benar-benar tidak saya sukai sebab panggilan itu justru membuat saya berjarak dengan kebanyakan orang, tapi di sisi lain saya memang berada dalam garis itu. Garis para penyair.

Dalam literasi yang saya baca tentang profil beberapa penyair atau sastrawan, saya memang seringkali menemui mereka banyak yang berpikiran kontroversial. Beberapa saya ikuti dan saya juga sering dianggap sebagai orang yang kontroversial. Imajinasi para penyair atau sastrawan seringkali terlampau jauh melewati zaman. Sering juga imajinasi itu mewujud menjadi kata-kata indah namun bermuatan satire dan kritik pedas. Lihat saja Nietzsche ketika mengeluarkan Zaraturstha dan kalimat ampuh didalamnya yang banyak di ingat oleh orang “Tuhan telah mati. Tuhan telah mati. Dan kitalah yang telah membunuh Tuhan”. Jules VerneNamun lepas dari itu, mesti diakui bahwa para sastrawan dan penyair adalah salah satu tiang pembangun peradaban dan kebudayaan. Siapa yang menyangka jika karya 20.000 mil Di Dalam Lautan-nya Jules Verne itu yang menceritakan tentang kapal selam akan menjadi nyata saat ini. Dan tak dapat dipungkiri bahwa penemuan kapal selam adalah terinspirasi dari novel Verne. Kembali ke ayat diatas, saya mendapat beberapa penjelasan. Salah satunya adalah tulisan Aguk Irawan MN di Republika dengan judul “Wacana: Penyair dan Alquran dalam Rekaman Sejarah”. Aguk menjelaskan posisi penyair, penyair di zaman nabi, dan bagaimana nabi menanggapi para penyair. Aguk juga menjabarkan posisi sastra Jahily pada zaman itu yang picisan, cabul, kata-kata berkaitan dengan cinta, cumbu rayu, menyebut sifat perempuan dan bentuk tubuhnya dengan telanjang, laksana mereka melihat onta di hadapannya, janji dusta, dan bangga dengan sesuatu yang tidak benar, juga hinaan kepada sesamanya.

Terus menelisik tulisan Aguk, saya akhirnya mendapat pencerahan.

ketika Alquran diturunkan kepada para penyair Jahily, di dalamnya ada fungsi baru dalam kesusastraan. Alquran (dengan sikap Nabi) tidak menginginkan puisi hanya dipakai sebagai alat untuk menghayal ke lembah-lembah tanpa maksud kebaikan, atau hanya untuk mengumbar nafsu dan sejenisnya. Karenanya, Alquran hanya membenarkan puisi yang sejalan dengan kebaikan. Dan ini membuktikan bahwa Alquran telah melemahkan posisi perdukunan (sihir), akan tetapi tidak melemahkan posisi penyair dengan puisinya.

Jadi,

akhirnya sikap para penyair Jahily kemudian terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, mereka mempertahankan nilai-nilai yang dominan, nilai lama yang diakui oleh Islam, dan nilai baru yang dibawa (terkandung) dalam Islam. Kedua, mereka memberontak dan menyimpang dari nilai-nilai tersebut. Karena menganggap bahwa berpuisi adalah pengalaman subyektif yang tak bisa diatur oleh norma atau agama. Nabi juga sebenarnya memberikan apresiasi terhadap para penyair. Al-Mubarad adalah salah seorang sahabat sering meriwayatkan sikap apresiasi Nabi kepada penyair. Menurutnya, Rasullah sering menatap penyair dengan wajah tersenyum dan bersabda, “Padamu semoga Allah memberi kemantapan hati.” Hal ini dilakukan Nabi tatkala mendengar kasidahnya Ibnu Rawahah.