Mandat, Edjaan, Djualan

by Senjakala Adirata

Beberapa bulan terachir (dua bulan ini) saja mendapat mandat. Mandat tersebut jalah buat djualan buku bekas. Dia (orang jang memberi mandat ke saja) dahulu djuga pendjual buku bekas dan kaset pita bekas. Tetapi kini dia jalah seorang penulis jang sangat produktip chususnja dalam menulis essai.

Mandat buat berdjualan buku bekas tersebut, awalnja saja diadjari bagaimana tjara buat beli itu buku2 bekas. Chususnja buku dengan edjaan jang mirip jang saja tulis. Edjaan Soewandi atau djuga edjaan jang lebih lama jakni edjaan van Ophuijsen.

Awal sekali saja menjukai buku, saja kurang minat dengan buku lawas. Tapi achirnja saja djua dengan memaksa diri harus mau membatja buku lawas. Sebab saja kurang minat jalah saja tak biasa dengan edjaan lawas. Membatjanya pun saja akan sangat lambat nian. Djika ada dua buku jang sama titelnja, satu edjaan lawas dan satunja adalah edjaan jang di sempurnaken, saja lebih memilih edjaan jang disempurnaken.  Namun dari situ saja kemudian bertanja, mengapa saja (dan beberapa teman se-umuran saja) malas sekali membatjanja djika diberi buku edjaan lawas?

Pertanjaan itu lama nian tak mampu saja temukan jawabnja. Jawabnja ketemu dari diskusi dan membatja buku Saling Silang Indonesia-Eropa karja Joss Wibisono. Kelompok study Bilik Literasi di Solo (saja ikut didalamnja) jang saat itu kedatangan tamu jakni Joss Wibisono, mendiskusikan tentang sedjarah edjaan, sedjarah gamelan di Eropah, djua politik. Sahabat pembatja bisa djua melihat tulisan2 Joss di situsnja.

Buku Joss Wibisono

Kenapa orang ini djaman malas sekali batja buku edjaan Soewandi atau van Opuijsen, itu tak lain adalah politik bahasa Orde Baru. Kata Joss dalam bukunja, perubahan edjaan itu dilakukan memang dengan tudjuan agar generasi penerus tidak cakap dan malas membatja edjaan lawas. Tudjuan itu adalah konstruksi agar generasi penerus itu buntet akan sedjarah atau istilah Joss adalah “lobotomy history”.  Djika generasi penerus itu malas membatja edjaan lawas, maka mati sudah sedjarah Indonesia. Penutupan sedjarah jang di bangun oleh penguasa Orde Baru akan tetap tak terkuak dan generasi penerus itupun akan tak tahu sama sekali tentang sedjarah. Baik itu sedjarah perdjuangan, sedjarah pemikiran djua sedjarah jang lainnya. Djika sedjarah itu dilupakan, hantjurlah bangsa sebab bangsa tak tahu menahu identitasnja.

Achirnja saja sadar djuga dan tidak meng-anak tirikan buku lawas dengan edjaan Soewandi atau edjaan van Opuijsen. Saja ingin rasa suka saja dengan buku lawas itu sama dengan rasa suka saja dengan buku-buku jang saat ini ada. Nah, oleh sebab itulah saja menulis tulisan saat ini dengan edjaan Soewandi. Edjaan Soewandi djua disebut edjaan Repoeblik. Edjaan ini berlaku sedjak 17 Maret 1947.  Dinamakan edjaan Soewandi sebab saat itu Menteri Pendidikan dan Kebudajaan-nja jalah Soewandi.

Selain ini jalah adalah kepentingan buat berbagi dengan sahabat pembatja, ini djua sebuah usaha saja untuk terbiasa membatja buku lawas. Sebab lainnja jalah kerana saja djuga berdjualan buku lawas itu djadi saja mesti bisa dan biasa batja edjaan lawas.

Djika sahabat jang suka batja buku atau sekiranja mau beli buku saja jang terbit tahun lawas sekali, para sahabat memencet tombol “like” di laman facebook saja jang bernama “Penjaja Buku”. Djika sahabat semua tak biasa dengan facebook, saja djua punya blog gratisan di Blogger, jakni Pendjadja Boekoe. Itu ijalah lapak saja. Namun kerana masih baru, djadi buku jang saja padjang baru beberapa sahadja.

Terima kasih sudah mahu bersusah pajah membatja ini tulisan.