Reality Show apa Rekayasa Show?

by Senjakala Adirata

Dulu saat saya masih di Sekolah Dasar, pernah main ke rumah seorang teman. Di rumah teman saya tersebut, saya melihat sebuah pajangan yang dibuat dari rajutan benang wol berbagai warna hingga membentuk sebuah gambar (lukisan dari benang ini saya lupa istilahnya meski sudah berusaha mengingat). Gambar yang terlihat dalam pajangan tersebut adalah gambar Jaka Tarub.

Jaka Tarub adalah salah satu cerita rakyat dari Jawa Tengah yang mengisahkan tentang kehidupan Ki Jaka Tarub yang setelah tua bergelar Ki Ageng Tarub, tokoh legendaris yang dianggap sebagai leluhur raja-raja Kesultanan Mataram, dari pihak putrinya, yaitu yang bernama Retno Nawangsih. Kisah Jaka Tarub, banyak dipahami sebagai sebuah legenda atau cerita rakyat. Berarti kisah tersebut adalah suatu mitos. Meski begitu, beberapa orang meyakini kisah Jaka Tarub (yang banyak dijadikan tema pada acara lawak di layar kaca) benar adanya dan nyata.

Semalam, saya sempat melirik siaran televisi (saya jarang nonton televisi) yang program acaranya melibatkan makhluk halus. Sebuah acara Reality Show. Acara itu kata teman saya—yang saat itu sedang duduk mengerjakan tugas kuliah—banyak sekali penggemarnya. Makhluk halus didatangkan dan merasuki seseorang kemudian sang presenter dan seorang kyiai atau ustadz menanyai hal-hal yang fokus pada tema yang sedang ditelisik. Nah, tadi malam itu adalah pas acara telisik mitos Jaka Tarub itu.

Yang membuat saya bertahan lumayan lama membuka mata di layar kaca adalah wawancara yang dilakukan oleh pemandu acara saat bertanya dengan seorang yang kesurupan. Pemandu acara bertanya nama, zaman kapan ia (makhluk halus) itu hidup, dan juga bertanya tentang sekitar kehidupan dan kisah Jaka Tarub. Dari dengar wawancara itu, saya sempat mendengar kata-kata: brawijaya, majapahit, mataram. Istilah-istilah itu dikenal (jaya) pada kisaran abad 11. Jadi, bisa dibilang bahwa arwah yang diwawancarai tersebut hidup bersetting pada zaman itu, abad 11!!

Saya kemudian berpikiran seperti ini: Indonesia rupanya memiliki sebuah potensi luar biasa dalam usaha telisik sejarah yang belum dikembangkan secara maksimal. Sepertinya, teknik yang digunakan oleh program acara di televisi tersebut perlu di tiru oleh para sejarawan dalam negeri dan manca negara. Sebab, jika memang kebenaran makhluk halus, arwah dan prosesi yang ditunjukkan oleh acara tersebut adalah nyata dan asli tanpa rekaan, itu bisa menjadi data yang valid guna menuliskan historiografi Indonesia.

Seorang sejarawan kiranya tidak perlu lama-lama dalam melakukan penelitian kesejarahan seperti Dr. Peter Carey. Seorang Profesor Emeritus  Studi Sejarah Modern di Trinity College, Oxford University, Inggris yang meneliti Perang Jawa selama 40 tahun!!! Bayangkan saja jika Dr. Peter Carey menggunakan metode wawancara dengan arwah, pasti akan lebih cepat merampungkan hasil telisik sejarah itu. Dan lagi, Dr. Peter Carey tak perlu susah-payah mencari filolog untuk menerjemahkan berkas-berkas yang bertuliskan tulisan lawas sebagai sumber data sebab metode seperti program Reality Show diatas adalah wawancara dengan arwah. Bisa jadi Dr. Peter Carey langsung bertanya dengan Pangeran Diponegoro dengan memanggil arwahnya dan disuruh merasuki salah seorang.

Jujur, saya menulis ini dengan perasaan yang agak serius tapi juga hampir tertawa terpingkal-pingkal sekaligus sangsi. Saya serius, jika memang Reality Show ini bukan rekayasa, tentu metode mencari arwah orang mati dan melakukan wawancara bisa dikembangkan sebagai cabang ilmu pengetahuan baru, Metafisika Arwahologi!

Saya terpingkal-pingkal sebab tadi malam itu, seorang ustadz ketika mewawancarai seorang perempuan yang kemasukan arwah ditanya dengan bahasa Indonesia tapi perempuan yang kesurupan selalu menjawab dengan bahasa Jawa lantas, si ustadz bilang kurang lebih seperti ini: “tolong jangan menjawab dengan bahasa Jawa, saya tidak tahu. Ucapkan dengan bahasa Indonesia”. Dan perempuan yang kesurupan oleh arwah abad 11 itu sedikit-sedikit bicara dengan bahasa Indonesia. Coba bayangkan, arwah yang berasal dari abad 11 disuruh berbicara dengan bahasa Indonesia. Sedangkan formalisasi penggunaan bahasa Indonesia baru resmi setelah ada prosesi Soempah Pemoeda di abad 20!!! Cerdas banget tuh arwah. Bisa jadi kalau arwah itu diwawancarai oleh Dr. Peter Carey dengan bahasa Inggris, dia juga menjawab dengan bahasa Inggris.:mrgreen: . Menurut sahabat semua yang membaca tulisan ini, menurut kalian acara itu Reality Show apa Rekayasa Show?.