Tangis+Bahagia

by Senjakala Adirata

Ya, aku tidak tahu.

Entahlah. Ini datang tiba-tiba saja.

Bisa juga sih, sebenarnya, mengambil waktu sejenak di malam hari. Menyendiri. Menyepi. Menepi. Lalu, membanjiri diri. Tapi ini datang tiba-tiba saja.

Pastinya, entah aku tak tahu. Sebab tiba-tiba saja aku ingin menangis. Mengalirkannya, menganak sungai melintasi dua pipiku yang agak tembem. Terserahlah orang mau bilang apa tentang tangis, menangis, tangisan, atau perlunya air mata dari sisi medis. Intinya, aku tiba-tiba saja ingin sekali menangis. Itu saja. Cukup.

Manusia, ucap Aristoteles dalam Nicomachean Ethics-nya, hidup hanya untuk satu tujuan saja. Bahagia. Tidak lebih dari itu, dan memang kebenarannya demikian. Manusia yang percaya Tuhan, tak percaya Tuhan, mereka ingin kebahagiaan. Hanya saja, yang menjadi jalan pencarian itu terdapat seribu, sejuta, semilyar perbedaan.

Jalan-jalan yang dilalui untuk mencapai kebahagiaan, entah itu bahagia sejati atau bahagia artificial, tentu saja tidak seperti jalan aspal yang mulus (kayaknya ungkapan ini pasaran sekali ya, banyak sekali yang sudah memakainya😦 ).  Jalan itu penuh tikungan, jurang curam, perempatan membingungkan dan tidak lurus-lurus belaka. Satu hal yang paling saya catat, bahwa untuk mencapai bahagia, manusia itu memerlukan “pernah mengenyam ketidakbahagiaan”.

Sejarah peradaban manusia adalah sejarah pencarian kebahagiaan. Dan sejarah itu, tercecer pada tiap ruas abad. Ruas itu adalah titik sedih. Titik pedih. Titik sedih plus pedih itulah yang menjadi ruas tersebut. Titik itu akan sering diingat oleh umat manusia secara personal, dan secara kolektif sebagai sebuah acuan ketika nantinya “sempat” merasa bahagia.

Itulah kenapa, ketika sahabat saya suatu kali bertanya kepada saya “Mas, kenapa di Negara kita lagu cengeng dan lirik sedih itu laris sekali dan banyak sekali penggemarnya?”. Pertanyaan itu saya jawab, “Sebab, kecengengan dan kesedihan adalah kelumrahan manusia yang paling diingat. Kebahagiaan adalah perasaan pucak dan ekstase sesaat yang hanya bisa dikenang pada jeda, pada pause, saat itu juga. Manusia tidak akan sibuk-sibuk memutar ingatannya pada sebuah titik dimana ia pernah bahagia. Akan tetapi, manusia itu akan terus mengingat ruas-ruas dimana kesedihan pernah menimpanya. Bahagia adalah masa akan datang yang mesti diraih, sedang pijakannya adalah kesedihan. Itulah kenapa, lagu cengeng dengan lirik serta aransemen sedih itu akan laku keras di zaman kapanpun. Sebab ketika aransemen itu nyaman dinikmati, dengan irama melankolis, pendengar akan masuk dalam irama tersebut dan mengkaitkannya dengan kesedihan yang pernah terjadi padanya. Pendengar sanggup kembali menangis tersedu-sedu ketika mengingat kesedihannya.

Bagaimana dengan bahagia? Dapatkah bahagia masa lalu itu kita mengingatnya lantas kita kemudian bisa merasakan bahagia itu? Bisa. Tapi saya tidak yakin bahwa efek yang ditimbulkan akan sedahsyat sejarah kesedihan kita.