tiga cerita satu cinta

by Senjakala Adirata

Qais, penamu patah bukan di tengah gurun pasir. bukan seperti untuk menulis syair cinta kepada Laila yang dibawa oleh angin, pedagang dan musafir. namun, di tanah dengan asma swarnadwipa, penamu berkarat sekarat. heranku, kenapa kau mau sahaja meminjamkannya padaku tatkala ku minta, ketika jutaan ton pasir gurun kau tuang dalam kelopak matamu dan seluruh kulitmu kau biarkan menyatu dengan alam.

 

ini bukan seperti layaknya lancip tembaga dicelup tinta yang direndam dalam kapas pada sebuah cawan kuningan, ini ibarat penggerit yang diminta oleh Sinta dari Trijata puteri jelita Wibisana. ia menggeritkannya di atas daun Tal, mengisahkan lima tahun sekapan di taman Asoka, menaruh ratapan dan tetes mutiara airmata di tiap garisnya lalu mengulurkannya pada Bayusutha, Sang Duta Ramadewa. ini pena, jembatan yang menimbulkan peperangan hingga Mahapatih Prahasta dan si sakti Kumbakarna tercabik dalam jasad nirjumawa.

 

Qais, ini pena patah memang dan Laila telah jauh bernisan. niscaya kau tak banjiri makamnya dengan pedih sayatan, orang mungkin tak bilang kau Majnun nian. namun, ini pena masih bisa digunakan. bersama tangis dan ratapmu di atas kubur Laila, bersama Sinta yang mencebur diri dalam api yang dipeluk oleh Agni, masih ada sisa untuk menulis lagi Sastra Jendra Hayuningrat.

 

sekalian….ku pinjam hingga penghabisan untuk menuliskan kembali larik mantra Arya Dwipangga

ku buka daun jendela

dan terbentang malam yang indah

dihiasi chandra kartika

 

di bulan waisya ini

sepuluh kali aku melewati pintu rumahmu

yang masih rapat terkunci dari dalam

kapan kau buka

duhai Sang Dewi Puspa? 

 

’12