PPL Band

by Senjakala Adirata

Oleh: Senjakala Adirata

Tak bisa di pungkiri. Musik telah memberi warna dalam hidup manusia. Melenyapkan resah dan gelisah. Menenangkan pikiran. Membuat kaya-raya. Membuat seseorang masuk penjara. Membuat seseorang kehilangan nyawa. Bahkan memberikan keuntungan besar bagi toko-toko yang memutar musik agar para pembelinya betah dalam toko tersebut. Dari sepi menjadi ramai. Kerumunan banyak orang patuh tertegun dan diam dalam sebuah konser megah, bisa juga terjadi.

Musik sebenarnya tak hanya ada dalam panggung-panggung mewah, coliseum, altar-altar pemujaan, taman-taman kerajaan, atau istana kastil para raja dan penguasa. Musik bukan milik sekelompok orang kaya dengan jenis musik tertentu dalam sebuah arena pertunjukkan tertentu. Ia ada dari langit (intuisi) dengan sense of melody dalam diri manusia. Menyelaraskan antara sesuatu yang bisa menimbulkan suara dengan soul dan gendang telinga tersensitif dari manusia. Menghentak, mengalun, bertempo cepat, bergetar merambat. Kadang membuat seseorang bersemangat, sering membuat orang meneteskan buliran air mata, hingga di pipinya ada garis basah sejajar dari tangis yang menjalar.

Musik, dengan segala macam benda (alat) yang digunakan untuk menganyam bunyi memang telah banyak meberi definisi pada manusia. Dari alat konvensional hingga kini digital, musik semakin laku. Semakin digandrungi. Lihat saja bagaimana ke-kreatif-an group Klantink bermain musik. Banyak orang memuji. Dan telisik saja bagaimana orang Islam menciptakan musik pada 1206. Al-Jazari menciptakan robot untuk bermain musik. Enam robot dalam satu perahu yang terus berputar dalam danau sambil bermain musik. Penabuh drum, peniup harpa, dan pemain seruling. Musik telah memiliki posisi tersendiri dalam kehidupan manusia, yak tak mudah untuk dilupakan dan di binasakan.

Di balik lahirnya berbagai jenis musik: Jazz, Blues, Keroncong, Pop, Metal, Speed Metal, Punk, Rock dan Dangdut bahkan percampuran dari mereka semua, tak bisa dipungkiri, telah membuat kelompok-kelompok penyuka musik. Bahkan ada yang kemudian melakukan klaim “musik agamis”, musik elite, musik jalanan, musik jelata, musik kaum muda, musik pembebasan dan entah apa lagi istilahnya. Hanya saja, perbedaan selera jenis musik ini kadang dapat mengakibatkan saling ejek penyuka jenis musik tertentu dengan penyuka jenis musik lain.

Tulisan ini sebenarnya bukan untuk membicarakan pertikaian para penyuka jenis music tertentu dengan penyuka jenis music lainnya. Tulisan ini hanya ingin memperkenalkan sebuah Band yang memainkan jenis musik yang saat ini biasanya jenis musik ini sudah jarang dimainkan. Lagu-lagunya pun mungkin hanya sedikit orang yang masih mengingatnya.

Group Band ini adalah PPL. Paguyuban Poni Lempar. Dengan personel yang masih muda-muda, mereka bermain musik jenis Pop Lawas Indonesia dibumbui dengan parodi-an yang membuat penonton tertawa. Bahkan tak sedikit para penonton kemudian menggerak-gerakkan pinggul, tangan, dan kakinya ketika Band ini manggung. Group PPL ini di bentuk sebagai cabang semi otonom sebuah group teater di Solo, yakni Teater Sirat. Dengan masih tetap menginduk ke teater Sirat, dengan personel yang kebanyakan adalah anggota teater Sirat, group ini manggung dari panggung ke kampung. Menghibur masyarakat lewat lagu-lagunya dan para personelnya yang seringkali berdandan nyentrik + eksotik saat manggung. Berikut ini ada video mereka saat manggung dan saat mereka latihan.