Cerita Dewasa: Konsistensi!

by Senjakala Adirata

Oleh: Senjakala Adirata

Jalan tidak selamanya lurus. Belokan tajam, tikungan tiba-tiba, perempatan bahkan jurang pastinya ada. Mengharap hidup lurus-lurus saja pada jalannya adalah suatu hal yang mustahil. Hal yang tak mungkin. Begitupun ketika berdoa kepada Sang Pemutar Waktu untuk memohon tetap berjalan di jalan yang lurus, kelihatannya itu bukan sikap makhluk yang baik. Sebab, bencana dan cobaan bukanlah faktor yang bisa dimasukkan dalam kolom “lain-lain” seperti dalam membuat proposal pengajuan dana. Tikungan dan jurang curam pada jalan adalah sebuah kejutan yang tak teramalkan. Namun itu menjadi suatu ketentuan pasti.

Adalah Bung Hatta, salah satu bapak pendiri bangsa Indonesia jadi refleksi atas keteladanan. Bahwa hidup tak semulus dan selancar jalan tol. Perjalanan Bung Hatta menjadi manusia teladan penuh tikungan dan resiko. Penjara, pengasingan, kemiskinan meski pernah menjabat sebagai wakil presiden pernah melanda beliau. Tapi satu hal yang menjadi catatan penting adalah, bahwa beliau sebagai sosok politis teladan tapi juga sosok ilmuwan yang handal. Proses beliau menjadi penulis buku dengan gagasan moncer tak terlepas dari apa yang namanya konsistensi! Salah satu konsistensi yang beliau jalankan adalah belajar. Belajar dengan cara membaca buku dan menulis. Kisah pembuangan beliau ke Banda Neira banyak dikagumi orang. Beliau membawa 16 koper besar yang memuat buku-buku untuk dibaca di tempat pembuangan. Konsistensi belajar beliau tak terbantahkan.

sumber gambar:
dimasanarky.blogspot.com

Cerita ini seharusnya jadi pelecut. Setelah saya absen ngeblog selama setahun lalu muncul lagi beberapa saat lantas tenggelam kembali dalam kesibukan. Niat awal untuk terus belajar dan belajar, menulis dan menulis tersandung oleh bebetauan di jalan tak bertuan. Halaman blog kembali hanya ada itu-itu saja. Tak ada postingan terbaru yang fresh dan me-mumetkan dengan bahasa saya yang sok nyastra tapi kenyataannya hanya mbulet-mbulet tidak keruan.

Ini menjadi catatan yang mesti saya simpan dan terus buka kembali. Bahwa belajar (membaca dan menulis) adalah dua hal yang tak terpisahkan. Ia harus tetap berjalan beriringan. Terus membaca dan terus menulis. Menanamkan keyakinan bahwa belajar itu bukan mencari dan mewujudkan cita-cita tapi belajar adalah kebutuhan harus digalakkan. Agar akar keyakinan tersebut menghunjam hingga ulu hati meski rasanya pedih tak terperi. Konsistensi belajar juga mesti bisa selaras. Hanya saja, itu tadi, jalan tak lurus. Selalu ada tikungan dan tanjakan, turunan dan jurang.

“Ah, alasan kowe ki. Padune males ae ndadak ngowo-nggowo ceritone Pak Hatta”[1] kata temanku sambil memukul kepalaku dari belakang dengan buku Dibawah Bendera Revolusi yang besarnya seukuran bantal. Ndasku[2] langsung mumet seketika. Secepatnya harus pergi berobat ke klinik Tonk Fenk. Sampai jumpa lagi.

 

1. Ah, alasan kamu itu. Memang orangnya pemalas saja pake bawa-bawa cerita Pak Hatta segala

2. Kepalaku