Cerita Dewasa: Kehidupan Malam

by Senjakala Adirata

Oleh:  Senjakala Adirata

Bisa saja malam menjadi sebuah atmosfer baru bagi kehidupan kumpulan insan. Menepiskan siang dan menghargai tangisan pada malam lantas membangun peradaban dengan melihat bintang sebagai panduan. Aku mulai jatuh cinta dengan malam belum lama. Enam tahunan belakangan. Hingga kini masih saja menikmatinya meski sering dicecar oleh berbagai larangan. Ceramah, nasehat, panduan dokter, selebaran-selebaran kesehatan, iklan-iklan dan lain sebagainya. Tapi, harus ku akui bahwa dunia, terlihat begitu dikotomis tapi sekaligus ironis adalah pada malam hari. Pandangan dikotomis, bahwa malam biasanya adalah kehidupan yang menerjang larangan-larangan dan siang adalah ladang untuk kebaikan-kebaikan. Ironis karena memang tindakkan kejahatan sering terjadi pada saat seperti ini. Tidak dipungkiri bahwa kehidupan malam sering dipandang sebelah mata. Salah satunya para penyuka Biliyard. Bisa jadi orang menilai kehidupan para penyuka permainan biliyard dipandang sebelah mata. Lebih dekat dengan maksiat. Perspektif itu menurut saya lahir dari gelontoran image yang dibangun oleh film-film yang hampir selalu menampilkan sisi “buruk” ketika mengambil setting di sebuah tempat biliyard. Tapi, ini tidak bisa digeneralisir begitu saja. Awalnya aku juga menilai begitu, tapi setelah berada dalam sebuar ruangan bola sodok, perspektif itu berubah. Baru-baru saja, aku belajar banyak hal dari permainan biliyard (bola sodok). Tidak hanya belajar dari bagaimana cara bermain tapi juga kesabaran, ketahanan diri saat melihat paha yang hanya tertutup hotpant, atau menahan untuk tidak ikut serta memesan minuman ber-alkohol tinggi.

 

Malam dan kehidupannya bukanlah sebuah topik baru yang dibahas dan dikaji serta diperbincangkan. Malam dan kehidupannya sudah sering diperbincangkan dari warung kopi hingga seminar-seminar. Malam dan kehidupannya terus saja sering menjadi enigma dan misteri. Dalam obrolan ringan beberapa waktu lalu, aku bersama dengan pengelola Jagad Abjad Solo, Bandung Mawardi mengobrolkan malam dari sudut pandang berbeda. Kata Bandung Mawardi, bahwa peradaban manusia dan dunia itu dibangun oleh malam. Bagaimana tidak? Dahulu orang berpatokan pada malam untuk memulai aktifitasnya. Berlayar, bertani, berdagang. Mereka melihat bintang sebagai panduan. Tangisan malam dari para pencari Tuhan juga seringkali terdengar dan menjadi akar utama motivasi diri membangun dan mencipta. Menjadi manusia pembelajar. Jika manusia melihat langit saat siang hari ketika matahari dengan panasnya, manusia tak akan mendapatkan petunjuk dari langit secara lahiriah, ucap Bandung Mawardi.

sumber gambar gambaronline.com

Tulisan ini hanya mencoba untuk melakukan refleksi. Pada malam yang aku sendiri mencintainya. Bulan lalu adalah bulan ketika hingar bingar para insan yang rakus ampunan ber-euforia. Doa-doa dipanjatkan, mohon ampun dan mohon pahala diperebutkan. Malam pada bulan lalu, bulan Ramadhan adalah malam yang menjadi titik balik aktifitas para insan. Malam menjadi perburuan untuk merengkuh surga. Tapi banyak juga yang menjadikan malam dengan tujuan hanya untuk mengharap bertemu denganNya, bukan tujuan surgaNya. Kebiasaan berubah, jam tidur sering bertambah, adaptasi dipaksakan untuk menuruti orthodoksi dalam laku orthopraksi. Dan malam, tidak hanya pada malam di bulan Ramadhan adalah waktu dimana malaikat turun memunguti tangis para umat yang meminta.

Ini hanya sebuah catatan sekilas. Bagaimana aku mencoba untuk melihat malam yang ku cintai. Dengan hilal (bulan sabit) yang ku kagumi, purnama yang ku puja dan gemintang yang ku damba. Malam adalah waktu pusat manusia. Untuk refleksi dan berpikir. Siang adalah lahan untuk melakukan apa yang telah kita pikirkan. Dan, dunia ini berubah menjadi baik atau buruk adalah dari hasil pikir. Hasil perenungan yang biasanya ada pada malam hari. Umat muslim juga wajib mengingat bahwa awal mula ayat suci diturunkan adalah pada malam hari!

Yah, malam dan kehidupannya. Sebuah cerita dewasa.