Freeganism dan Idul Fitri

by Senjakala Adirata

Oleh: Senjakala Adirata

Mungkin sudah banyak sahabat blogger semua yang tahu tentang freeganism. Tapi mungkin juga ada yang belum tahu tentang istilah tersebut. Saya pribadi sebenarnya juga baru-baru ini saja tahu dan mempelajari dari beberapa artikel terkait istilah tersebut. Untuk situs berbahasa Indonesia sendiri sudah banyak yang melakukan posting dan membahas tentang freeganism. Saya sendiri lebih banyak merujuk di sini dan di sini sebagai panduan utama memahami freeganism.

Freeganism menurut beberapa pengertian yang agak filosofis diartikan sebagai kesederhanaan hidup. Dalam praksisnya, para penganut freeganism ini banyak membuat orang heran dan seringkali merasa jijik. Sebabnya? Mereka terkenal sebagai orang-orang yang memungut makanan dari sampah. Dikota-kota besar Amerika, seperti New York atau Eropa, banyak sekali para konsumer (pembeli) yang melihat buah atau sayur mereka rusak sedikit, dibuang ke tempat sampah. Nah, para penganut freeganism ini kemudian banyak mengambil makanan yang masih layak makan, atau paling tidak membuang yang busuk dan bagian yang masih bisa dimakan untuk dikonsumsi. Dalam pemahaman yang lebih luas lagi, freeganism adalah sebuah gerakan pemerhati lingkungan dan anti globalisasi. Freeganism lahir pada pertengahan 90-an di Amerika Serikat. Freeganism dalam diskursus postmodernisme bisa disebut sebagai gerakan anti konsumerisme makanan dan memperbaiki etika dalam mengonsumsi makanan.

 

Para penganut freeganism ini bukanlah orang-orang yang suka hadir dalam sebuah acara formal bertajuk “go green” kemudian menerima segayung air untuk disiramkan pada sebatang pohon yang sudah ditanam oleh orang lain. Lalu setelah itu mendapat taburan suara dari jama’ah tepuk tangan dan jeprat-jepret foto para pemburu berita yang mengabadikan momen tersebut. Para Freegans (sebutan para penganut freeganism) juga bukan seperti orang-orang yang memiliki pabrik produksi plastik, otomotif, rokok lalu menyisihkan sedikit uang untuk membeli tanaman kemudian mengundang berbagai elemen untuk “sejuta pohon untuk dunia”. Mereka, para freegans adalah orang-orang yang secara praktis dan ideologis mendukung untuk menciptakan bumi ini tetap hijau. Hanya saja, saya tekankan lagi, mereka lebih dikenal oleh orang banyak dengan “pemungut makanan dari sampah”.

 

Dalam perbandingannya dengan Idul Fitri, saya pikir teman-teman blogger yang merayakan hari besar ini sudah tahu. Pemubadziran makanan! Saya sendiri kadang juga merasa agak ganjil. Membuat kue, menggoreng cemilan, menyiapkan suguhan dalam Lebaran adalah tradisi. Meninggalkannya, akan sangat tidak elok dan dikira pelit oleh orang-orang. Tetapi memang seringkali dari jumlah makanan itu banyak yang kemudian tidak termakan semua, akhirnya basi. Kadang kita sering tidak melakukan spekulasi, berapa banyak makanan yang harus kita buat atau beli. Akhirnya, layak jika sebenarnya kita mengambil pilihan jalan tengah. Yakni berpikir dan bertindak “agak” bijaksana.

Islam sendiri dalam alur orthodoksi, memiliki ajaran tentang zuhud atau kesederhanaan. Dalam orthopraksi, ajaran dari orthodoksi itu kemudian kita praktikkan dengan laku benar sesuai apa yang diajarkan dalam tuntunan. Banyak yang melakukan zuhud dengan mengasingkan diri. Tapi banyak juga yang membendung hasrat mereka dalam belanja. Entah itu pakaian, gadget, dan makanan. Freeganism saya pikir adalah tindakan praksis dari sebuah kesederhanaan. Hidup dalam masyarakat kota besar seperti New York dan menjadi “pemulung” makanan demi sebuah gerakan “go green” dan anti konsumerisme adalah sebuah pelajaran berharga yang layak untuk dipikirkan dan dilakukan!

Sumber gambar:

http://freegan.info/

hprasetyo.wordpress.com