Hari Yang di Cari dan Yang di Tunggu

by Senjakala Adirata

oleh: Senjakala Adirata

Umat Islam mengalami detik-detik penantian menuju wisuda spiritual (Lebaran). Kata wisuda spiritual yang saya pinjam dari Andre Moller dalam bukunya Ramadhan di Jawa itu bermaksud, bahwa umat Islam dalam menjalani hidup saat bulan ramadhan, bulan yang berkilauan, adalah bulan bagi umat sebagai “manusia pembelajar”. Bahwa dalam diri yang mendatangi Ramadhan adalah diri yang benar-benar diberi kesempatan untuk mencapai titik kulminasi. Mencapai daratan kristalisasi dengan segala ilmu yang disatukan dalam laku dan ditempuh untuk membuat katalisasi dalam aliran nafas introspeksi. Dan dalam hari-hari yang kian mendekati acara wisuda, ada hari-hari yang banyak dinantikan pula, berharap mendatangi di teras rumah atau bahkan menemui langsung pada kita, para manusia. Malam Lailatul Qadar.

Ada kemelut dan “peperangan” yang terjadi saat mencoba berjalan dalam keteguhan dan tikungan keputusan. Sebab jalanan Ramadhan jua tak selalu mulus, datar, lurus. Mestinya, paling tidak akal akan memutar ingatan tentang Ramadhan tahun lalu. Lantas melecut diri untuk menjadi lebih baik tahun ini. Hari-hari untuk menjadi manusia pembelajar masih ada beberapa. Pelajaran memang belum paripurna. Materi-materi pemaknaan dan hikmah kehidupan masih banyak bertebaran dan entah siapa yang akan rebutan memungutnya. Guna mendapat nilai terbaik saat wisuda spiritual terlaksana, dan diri kembali terlahir penuh cinta. Harus tetap ada semangat yang bara untuk tertatih menikmati puasa (transenden) dalam godaan hasrat belanja (imanen).

sumber gambar: http://strategimanajemen.net

Hikmah-hikmah tersebut bisa saja ditemui dimana saja. Dalam perenungan, dalam lantunan ayat suci, dalam ceramah, mungkin juga dalam derai para komedian saat membuat tawa. Di Republika (5/8/12), ada Markum Mengejar Lailatul Qadar yang ditulis oleh Zaenal Radar T. Berkisah tentang pencarian Markum untuk menemukan malam seribu bulan. Termotivasi oleh Haji Duloh yang punya 5 toko pakaian, 2 kali naik haji, 6 mobil dan 3 istri. Memaksa Ustad Sahroni untuk menunjukkan ciri-cirinya. Menginap di masjid, meniadakan kantuk dengan cangkir kopinya. Markumpun sadar sendiri saat membincangkan dengan Haji Duloh, “Kum, malam lailatul qadar itu kagak perlu dikejar! Kalau Allah berkehendak, dia yang bakalan datengin elo.…”. Sebelumnya, Haji Duloh juga memberikan pelajaran berharga pada Markum:

“Kum, denger ye…, Gue emang punya lima toko kain. Tapi semua itu dari hasil kerja keras gue selama puluhan tahun! Kalo pun gue udah dua kali naik haji, karena gue mampu bayarnya, yang duitnya dari keuntungan toko-toko gue tadi. Terus kalo pun gue udah tiga kali kawin, karena gue emang ganteng, nggak kayak elo…? Heheh, maaf Kum, bukannya nyindir. Terus, kalo pun gue punya banyak mobil, rumah, semuanya dari hasil kerja keras. Kalo elo mau kayak gue, elo kudu kerja keras juga. Nggak cuman berharap duduk-duduk di dalem mesjid…?”.

Selain itu, ketika menurutkan hati pada sebuah usaha untuk membuka lembaran-lembaran kertas usang dalam tumpukan buku puisi lama, akan kita dapati puisi-puisi untuk persiapan menyambut lebaran. Ahmadun Yosi Herfanda menulis puisi Catatan Idul Fitri (1981) untuk mengungkapkan sisi-sisi liris dalam merealisasikan makna kelahiran kembali manusia:

tiada kedamaian sedalam pagi ini
angin berjabat hangat dengan pohonan
kita pun saling berjabat tangan
menyatukan getar rindu
segala alpa runtuh jadi debu

Puisi liris diatas menjadi representasi dari tradisi silaturahmi manusia dalam cinta, damai, dan persaudaraan. Lebaran adalah perayaan religiositas dan humanitas (Mawardi, 2011). Lailatul Qadar dan Lebaran menjadi hari yang banyak dicari dan ditunggu oleh umat. Ketika detik-detik hari menuju lebaran, banyak umat menempatkan diri pada i’tikaf, tapi banyak pula yang menghambur belanja untuk hari yang di tunggu, Lebaran. Namun, yang pasti adalah kewajiban sebagai manusia pembelajar yang telah diwajibkan untuk mencari ilmu dari lahir hingga nyawa terambil, hikmah dan materi ini harus tetap dikail. Demi mencari dan menuju insan kamil.