Masalah Buku

by Senjakala Adirata

Oleh: Senjakala Adirata

Buku diakui sebagai produk kultural. Tingkah dan polah serta hasil dari permenungan hati serta pikiran sering terbeber dalam larik kata dan lembar manuskrip yang dijilid menjadi buku. Dari buku pula, manusia menciptakan peradaban dan memproduksi budaya yang beradab. Jepang mendapat julukan menjadi Negara Buku oleh esais produktif yang mengelola penerbitan Jagat Abjad Solo, Bandung Mawardi. Perubahan Jepang dalam menandingi kemodernan dan kemajuan Barat berdiri atas nalar tradisi, religi dan kultur moyang dengan kolaborasi pengetahuan modern melalui buku. Lawatan dan kunjungan mereka saat ke Amerika dan Eropa tidak hanya sekedar kunjungan mengahabiskan uang dengan alasan masalah kerjasama dan politik. Namun lawatan tersebut menghasilkan sebuah laporan keadaan kemajuan negara yang di lawat serta bagaimana memicu Jepang untuk menandingi kemajuan negara-negara Barat. Bahkan, konon barat pernah cemas karena Jepang dengan cepat mampu melakukan perubahan menuju modernitas dengan tanpa melupakan akar tradisi.

Barat sendiri sejak akhir abad 18 atau sekitar awal abad 19 sudah merasakan bagaimana pentingnya buku. Produksi besar-besaran buku dilakukan. Sasarannya bahkan ditujukan untuk anak-anak. Proyek ambisius Barat dalam mendidik anak sebagai manifestasi masa depan melalui bacaan moral dan pengetahuan dilakukan. Barat bahkan sampai melakukan klasifikasi dalam buku-buku yang diterbitkan. Seperti klasifikasi umur, level pembaca, hobi, dan jenis bacaan. Saya sendiri sering menemukan bacaan berbahasa Inggris (novel

simplified/disederhanakan) di pasar loak dan menemukan pada halaman belakang novel tersebut terdapat klasifikasi level pembaca untuk novel tersebut. Tetapi di negeri kita, Indonesia tercinta, patut merasa prihatin. Anak-anak, seperti kasus yang kemarin menjadi trendtopic, lebih lincah hafal lirik lagu pop, acara sinetron tapi miskin bacaan. Hingga terjadi kasus bahwa ada bacaan yang seharusnya tidak ada dalam LKS yang di distribusikan untuk anak-anak, menjadi pertanda bahwa kita belum menyelami dunia anak-anak secara sempurna. Nasib Literasi Anak ini sepertinya patut untuk dilirik dan diagendakan dalam kebijakan pemerintah.

Kita harus sadar dan mengamini apa yang dikatakan oleh Gunawan Muhammad, bahwa kita terlalu cepat memasuki babak baru. Kita adalah masyarakat pra-literer dan tiba-tiba saja harus bergeser menjadi masyarakat pasca-literer. Kita belum terbiasa dengan membaca buku tapi kali ini kita sudah hadir dalam masyarakat yang hanya membaca sepintas. Masyarakat pra-literer sebenarnya adalah masyarakat yang sudah melalui tahapan mencintai buku, dalam membaca dan menulis buku. Kita belum mengalami itu, tapi kita melakukan percepatan dengan tergesa. Apalagi hadirnya teknologi canggih dalam bidang elektronik. Kita belum kenal betul dengan buku cetak, tapi sudah memaksa diri mengenal buku elektronik (ebook). Harus diakui, kita terlalu tergesa. Padahal, dalam buku cetak, seperti yang telah dilakukan oleh para pemikir besar dan para pecandu buku—salah satunya Karl Marx—dalam buku cetak terdapat gerak tubuh, sikronitas buku dan tubuh, ingatan halaman dan lembar, bau buku dan lipatan buku. Buku cetak memberi kita ingatan dalam lembar dan aroma, sedangkan ebook tidak memiliki itu. Bukan maksud melarang atau mediskreditkan ebook, tapi kita semestinya harus melewati tahap Berumah di Buku. Merumahkan dan mengakrabi tubuh kita dengan buku cetak dalam suara-suara lembaran yang dapat kita dengar ketika membuka buku, merasakan kasarnya kertas, dan mencium aroma buku. Hal itu adalah ingatan yang akan membentuk kita mencintai dan mencandui buku. Sekian.

Bibliography

Mawardi, Bandung. Januari 2012, Berumah di Buku, Koran Tempo

———————–. Juli 2012, Refleksi Hari Anak Nasional: Nasib Literasi Anak, Solo Pos

———————–. April 2011, Negara Buku, Lampung Post