Literasi Tentang Darul Islam/Tentara Islam Indonesia

by Senjakala Adirata

Oleh: Senjakala Adirata

Sebenarnya ini adalah tulisan lama saya tentang bahan bacaan lama saya. Ini tentang dua buah buku (novel) yang dikarang oleh dua orang sastrawan kondang di negeri ini. Dua novel tersebut adalah Lingkar Tanah Lingkar Air dan Sekali Peristiwa di banten Selatan. Lingkar Tanah Lingkar Air di tulis oleh Ahmad Tohari dan Sekali Peristiwa di Banten Selatan di tulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Dua novel ini berkisah tentang Darul Islam/Tentara Islam Indonesia dan kemelut yang melingkupinya. Meski kedua novel ini saya nilai sebagai fragmen partial tentang sejarah pencarian identitas bangsa Indonesia, namun dua novel ini layak juga untuk dibaca dan masuk dalam deret perpustakaan pribadi. Bukan berarti ini ditulis oleh dua sastrawan besar Indonesia, tapi melihat isi yang disampaikan oleh dua sastrawan tersebut.

Ke dua novel ini, ke dua-duanya bukan karya masterpiece oleh dua sastrawan tersebut. Ini bukan buku yang populer dan bahkan kadang luput untuk dibaca, terlebih untuk Sekali Peristiwa di banten Selatan. Saya sendiri juga menganggap bahwa Lingkar Tanah Lingkar Air lebih asik dibaca daripada Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Berikut ringkasan singkat saya.

sumber gambar http://www.goodreads.com/book/show/2190735.Lingkar_Tanah_Lingkar_Air

Lingkar Tanah Lingkar Air adalah novel dengan cerita dengan penulisan detail perkampungan terpencil. Tokoh utama, Amid, Jun dan Kirman bergerak untuk bergabung melawan penjajah Belanda atas fatwa jihad dari Hadratus Syaikh. Mereka mendapat restu dari Kiai Ngumar, tokoh agama kampung setempat. Di tengah perjuangan saat mereka akan bergabung dengan tentara republik di Purworejo, saat sampai disekitar Kebumen, kereta yang mereka tumpangi diberondong oleh tembakan. Mereka terpaksa lari tunggang langgang menyusuri hutan. Mereka adalah bagian dari tentara Hizbullah. Saat mereka ditengah hutan dan berjuang untuk bertahan hidup, di kota ada fatwa bahwa Kartosuwirjo dituduh sebagai kepala pemberontak dan memimpin tentara Islam untuk mendirikan Negara Islam Indonesia. Mereka yang tidak tahu menahu tentang masalah itu, karena niat mereka awal adalah berjuang demi bangsa terpaksa harus jadi korban kambing hitam dan diburu oleh tentara republik. Ditambah lagi, tentara yang berideologi komunis sering mencatut kelompok mereka (Hizbullah/TII) saat menjarah kampung-kampung disekitar hutan. Akhirnya mereka membulatkan tekad sekalian bergabung dengan TII. Mereka terus diburu oleh dua golongan tentara, republik dan komunis. Istri Amad harus dibawa masuk hutan dan melahirkan anakanya dihutan untuk menghindar agar tak jadi korban. Amid, Jun dan Kirman meninggal dengan masih tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi dan kenapa mereka diburu dan di tembaki.

 

Sekali Peristiwa di Banten Selatan adalah novel garapan Pramoedya Ananta Toer. Ada yang berpendapat bahwa ini adalah semacam reportase. Berkisah tentang Ranta, mantan tentara heiho yang miskin dan dibohongi oleh Lurahnya (juragan Musa) untuka mencuri bibit Karet. Tapi Ranta diperintah untuk mengambil (sebab bibit itu adalah jatah untuk kampung mereka) dan akan diberi upah. Padahal sebenarnya Ranta itu disuruh mencuri. Setelah itu bibit karet dirampas dan Ranta tidak diberi upah. Ranta berontak dan melawan Juragan Musa. Juragan Musa yang sekali waktu datang ke rumah Ranta lari tunggang langgang karena akan dipukuli oleh Ranta. Tas dan tongkatnya jatuh. Tas tersebut berisi dokumen penting tentang kegiatan juragan Musa sebagai pimpinan wilayah Darul Islam (DI). Ranta melaporkan hal tersebut ke markas militer dan komandan markas militer menggerebek lurah juragan Musa. Meski awalnya mengelak, tapi setelah mendapat bukti kuat tentang laporan anak buah Juraga Musa dan bukti surat-surat tersebut, akhirnya juragan Musa dan gerombolannya ditangkap. Ranta kemudian diangkat menjadi Lurah sementara oleh komandan dan didukung oleh rakyat setempat.

Dua novel dengan masalah sama tapi dengan dua sudut pandang berbeda. Dua novel ini akan menjadi unik dan asik untuk dibaca ketika keduanya dibaca secara berurutan. Sebab, dua novel ini memberikan penilaian berbeda tentang sejarah DI/TII di Indonesia. Untuk lebih detail tentang resensinya, bisa dilihat di;

Lingkar Tanah Lingkar Air

Sekali Peristiwa di Banten Selatan

Selamat menunaikan ibada buku di bulan rahmat. Sekian.