Proyek Avatar: Rasa Tidak Syukur Manusia

by Senjakala Adirata

Oleh: Senjakala Adirata

GILA! EDAN!

Itu ungkapan saya seketika saat blogwalking ke beberapa blog negara tetangga jauh dan mendapat sebuah berita memprihatinkan atau mungkin malah sebaliknya menghebatkan. Tapi menurut saya itu kabar memprihatinkan.
Begini, beberapa waktu dekat yang lalu, saya menuliskan Avatar: Kisah Kekalahan Manusia. Saya menulis dari sudut pandang kemanusiaan secara nyata yang telah ter-reduksi peran serta maknanya sebagai manusia. Sehingga makna manusia itu sendiri sudah dilibas oleh keberadaan Avatar.

Di dalam tulisan “AVATAR” PROJECT AIMS FOR HUMAN IMMORTALITY BY 2045 dibeberkan secara singkat penjelasan bertahap tentang evolusi manusia menuju ke-abadian. Pada tahun 2045, jika proyek tersebut berhasil dengan dukungan dari berbagai disiplin ilmu teknologi yang canggih, maka manusia bisa saja menemukan keabadian dalam dirinya. Ini memang terlihat seperti sebuah fiksi khayalan. Tapi ini bisa jadi juga dapat terwujud (ingat penjelasan pendek saya tetang Jules Verne yang dahulu membuat novel science-fiction [sci-fe] dengan cerita kapal selam tapi saat itu kapal selam adalah hal yang mustahil tapi untuk saat ini kapal selam adalah barang biasa).

Gambar diambil dari http://techandle.com

Sahabat semua mungkin sudah tidak asing lagi dengan film Avatar garapan James Cameron yang sudah pernah saya ulas dari sudut pandang humanism. Film tersebut dalam kajian Literary Criticism dapat dikaji dari sudut pandang fantasy atau science-fiction [sci-fi]. Saat ini, makhluk Avatar yang dari sudut pandang penilaian saya pribadi adalah sebuah jenis penyakit baru dalam dunia kemanusiaan (karena mengalahkan keberadaan otentik manusia) akan diwujudkan. Proyek tersebut di prakarsai oleh Raja Media Rusia, Dmitry Itskov dengan persiapan dana awal 74 juta dolar Amerika atau sekitar 64 milyar rupiah.

Dalam proyek tersebut, segala kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan manusia serta kekurangan manusia secara fisik, akan dapat di obati. Mereka berencana melakukan transfer otak untuk mengendalikan robot sintesis bipedal (dua kaki seperti manusia) untuk menggantikan kefanaan tubuh manusia yang dapat rapuh dan busuk. Transfer otak itu akan ditujukan pada tubuh buatan (humanoid robot) sehingga manusia tidak perlu khawatir lagi dalam menghadapi peperangan, kerja di lautan yang berbahaya, menolong korban bencana alam yang selalu saja terhambat oleh kemampuan tubuh. Intinya, tubuh manusia benar-benar akan dicoba digantikan dengan besi dan metal agar lebih kuat dan abadi dengan tanpa menepikan kemampuan otak.

Kecenderungan menuju evolusi keabadian manusia ini memang sudah ada tanda-tandanya. Browsing saja tenang tangan bionik yang sudah bisa disambungan terhadap orang cacat dan tangan bionik (robot). Sahabat blogger mania akan mendapati bahwa tangan itu bekerja selayaknya tangan biasa karena menerima sensor perintah dari otak.

Avatar didukung oleh Dalai Lama. Gambar dari http://techandle.com

Kenapa saya bilang prihatin? Ini jelas melawan kodrat kemanusiaan. Bahwa manusia itu sifat manusiawinya adalah fana. Akan hancur dan akan musnah. Satu-satunya keabadian menurut saya adalah kreasi pemikiran manusia yang seperti kita lihat saat ini; Sokrates sang filusuf Yunani, dari ratusan abad sebelum masehi hingga kini masih tetap di perbincangkan dan dijadikan rujukan. Sedangkan tubuh adalah kefanaan, dan kematian adalah suatu hal yang wajar. Seperti kata penyair kondang dari India, Rabindranath Tagore, bahwa kita diberikan kehidupan itu secara cuma-cuma dan selayaknya kita ikhlas memberikan kehidupan kita (kepada Pencipta) dengan ikhlas pula. Teknologi ini menurut saya adalah teknologi hasil dari perasaan tidak syukur manusia atas tubuh yang telah diberikan oleh Sang Pemutar Waktu! Tapi apa boleh kata, manusia memang seringkali melewati batas.

Sahabat pembaca bisa melacak tulisan tersebut disini . Terimakasih sudah membaca dan mohon memberi komentar. Sekian.