Sastra dan Pelurusan Iman

by Senjakala Adirata

Oleh: Senjakala Adirata

seekor-unta-pada-hari-jumat-ilustrasi-putut-wahyu-widodoPerintah agama untuk berbuat kebaikan pada dasarnya merupakan washilah yang akan menghantarkan kita pada derajat keridhaan Illahi nanti di akhirat [1]. Saya disini menekankan kata keridhaan Illahi. Tekanan itu dengan maksud bahwa ridha illahi adalah keutamaan dalam menjalankan laku ibadah vertikal (habluminallah) dan horizontal (habluminannas). Keridhaan Illahi bisa bermaksud bahwa pahala dan surga adalah ilusi. Sebab bertingkah dan berlaku agamis mengharap pahala berarti menepikan Tuhan. Sederhanya mengutamakan pahala dari pada Tuhan yang menjanjikannya.

Karya sastra sebagai mimesis atau cermin masyarakat secara langsung melakukan tindakan reflektif dalam setiap artikulasi kalimatnya. Cerita dalam karya sastra sebagai cermin yang menggambarkan cerita dalam masyarakat yang membentuk karya tersebut lahir adalah sebuah dokumen ingatan kolektif. Seringkali karya sastra bergerak untuk menciptakan dan mewujudkan hal-hal yang tidak mungkin pada masanya dan menjadi mungkin dalam masa datang. Bisa juga karya sastra lahir untuk menggedor masyarakat dengan kritikan pedas atas kebudayaan yang menyimpang. Karya sastra bisa jadi corong utama setelah kitab suci yang dijadikan sebagai pedoman dan dakwah untuk melihat realitas kekinian.

Tengok saja cerpen karya Mashdar Zainal dalam Suara Merdeka (22 Juli 2012) dengan judul Seekor Unta pada Hari Jum’at[2]. Cerita tersebut menggambarkan masalah sederhana sebenarnya. Tentang kisah hadiah atau imbalan metaforik akan kehadiran seorang muslim dalam shalat jum’at. Dikisahkan Wak Jamal, guru ngaji, menceritakan kepada Mahisa, anak didiknya sebuah cerita. Cerita tentang keutamaan hari Jum’at dan Unta. Tentang kehadiran seorang jamaah yang paling awal datang ke Masjid saat akan shalat Jum’at akan diberi imbalan Unta. Yang kedua akan mendapat lembu, ketiga mendapat kambing, ke empat mendapat ayam dan ke lima akan mendapat telur. Wak Jamal menceritakan cerita tersebut sebagai sebuah bentuk motivasi terhadap anak didiknya (salah satunya Mahisa) agar rajin berangkat shalat Jum’at paling awal. Alhasil, Mahisa pun mencoba berangkat ke Masjid paling awal dalam shalat Jum’at. Jum’at pertama, ia kalah dengan Wak Jamal. Namun, Jum’at selanjutnya Ia pemenangnya. Begini kutipan dalam cerpen tersebut: “Satu persatu Mahisa melirik setiap orang yang datang. Aku dapat unta, batinnya. Wak Jamal dapat lembu. Bang Ajrul dapat kambing. Ki Hanan dapat ayam. Wak Sayid dapat telur ayam. Mas Toha dapat entah…”.

Tapi sesungguhnya Mashdar Zainal melakukan pukulan keras kepada umat muslim saat ini. Seekor Unta pada Hari Jum’at adalah kritikan tajam dan pedas. Cerita itu mengungkap bahwa umat muslim yang pergi shalat jamaah seringkali tertidur (atau sengaja tidur) saat khatib sedang berkhutbah.

Ini bisa terjadi sebab beberapa hal. Pertama, shalat Jum’at dijadikan sebagai sebuah rutinitas dan sebatas menggugurkan aturan yang diterapkan oleh Sang Pemutar Waktu. kedua, formalitas agar tidak di grenengi (dibicarakan) tetangga atau dengan kata lain pencitraan diri. Tapi dalam cerita ini, bisa dilacak bahwa sebagian besar masyarakat memahami shalat Jum’at (dan mungkin aturan lain yang wajib dijalankan) hanya sebatas menggugurkan kewajiban. Sebatas formalitas belaka.

Sering umat tak memahami titik sentral dari khutbah. Bahwa khutbah adalah bagian yang tak boleh dilewatkan. Bahwa khutbah itu adalah pengetahuan. Bahwa dalam khutbah ada keutamaan untuk mencari makna dalam ibadah baik vertikal maupun horizontal. Khutbah oleh khatib adalah sebuah ritual penyampaian (transfer) pengetahuan. Bisa juga ini adalah sebuah metode pengajaran bagi umat. Sayangnya ini dianggap enteng dengan tertidur (atau sengaja tidur). Dampaknya? Umat tidak lekas cerdas dalam masalah dunia akhirat. Sebab dalam kondisi zaman saat ini ketika orang terlalu (sok) sibuk bahkan tidak sempat membaca buku agama atau mendengar ceramah bermanfaat dari ulama. Khutbah adalah tindakan untuk mengantisipasi bagi umat untuk mendapat pengetahuan dunia dan akhirat langsung melalui ulama.

Penggambaran tentang kondisi nyata masyarakat dan usaha sastra dalam andilnya meluruskan iman dalam cerita tersebut jelas sekali dalam tiga paragrap terakhir:

“PADA Jumat-Jumat berikutnya, Mahisa rutin datang paling awal. Ia duduk di saf paling depan, belakang khatib. Namun, selalu saja, Mahisa tak kuasa menahan kantuk ketika khatib mulai naik ke mimbar. Kejadian itu berlangsung terus menerus, selama bertahun-tahun, sampai sekarang. Ketika ia mengikuti shalat Jumat dan khatib mulai naik ke mimbar, seolah ada hal gaib yang menyirepnya, membuatnya terkantuk-kantuk hingga tertidur.

Cerita itu sudah berlalu puluhan tahun silam. Wak Jamal pun sudah lama sekali almarhum. Surau kecil tempat ia mengaji dulu, kini sudah diperlebar dan dibangun masjid. Sudah bertahun-tahun Mahisa merantau ke luar kota, meninggalkan kampung halaman. Tapi tetap saja, di mana pun ia mengikuti shalat Jumat, ketika khatib mulai menyampaikan khotbahnya, kepalanya pun mulai tertunduk, terkantuk-kantuk.

Satu hal pula yang masih lekat dalam ingatannya dari cerita Wak Jamal. Bahwasannya, mendapatkan unta di hari Jumat bukanlah perkara mudah. Karena, selepas shalat Jumat, akan selalu ada orang-orang (yang datang paling awal) yang kemudian mengutuki dirinya sendiri, menyesalkan unta mereka yang selalu lepas ketika mereka tertidur mendengarkan khotbah.”

Begitulah. Sekian!

Catatan kaki:
1. http://www.sunangunungdjati.com/blog/?p=11536
2. http://lakonhidup.wordpress.com/2012/07/27/seekor-unta-pada-hari-jumat/#more-3266