Lelakon Mimikri

by Senjakala Adirata

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mimikri atau dapat dibilang merubah diri agar terlihat sama pada sebuah lingkungan baru menjadi alat pertahanan agar tak diketahui oleh musuh. Lelakon mimikri mungkin akan banyak ditemui dan dilakukan oleh para agen rahasia agar dirinya tak terbaca oleh lawan/musuh. Di Layar Kaca, telah banyak kehidupan para agen/mata-mata/penyamar yang telah dipentaskan. Paling terkenal dan terhitung sukses besar adalah film James Bond dan film-film lain yang semacamnya seperti Bourne Identity juga Enigma.

Buku terbitan Elex Media Komputindo berjudul Mata-mata & Pemecah Kode menjadi semacam handout non-fiction tapi lumayan penting untuk dibaca. Di dalamnya berisi penggalan-penggalan kisah agen-agen rahasia saat Perang Dunia II, mata-mata Soviet dan U.S, teknologi-teknologi dalam bidang mata-mata yang diciptakan, juga tokoh-tokoh yang sempat terungkap identitasnya. Tokoh-tokoh yang terungkap dalam identitasnya disini, saya sendiri menilai bahwa mereka terhitung gagal sebagai agen. Karena sebagai sosok penyamar atau agen rahasia, meski telah meninggal, dia seharusnya akan tetap menjadi misteri. Meskipun dalam sisi baiknya, saya dan mungkin kita yang belum tahu tentang agen rahasia/mata-mata/penyamar ini juga merasa bersyukur karena ketika identitas mereka terungkap dan dipublikasikan, kita dapat mengetahuinya dan belajar sedikit tentang kehidupan mata-mata.

Di dalam buku Mata-Mata & Pemecah Kode, paling banyak dibahas adalah dua Negara besar yang pernah terlibat konflik perang dingin yakni Amerika dan Soviet. Perang dingin diwarnai dengan memata-matai dan mencuri informasi dari kedua belah pihak Negara. Ada juga informasi tentang mata-mata Jerman, Rusia, Swedia dan Inggris yang dibahas saat Perang Dunia II berlangsung dan gagalnya Jerman memporak-porandakan London yang disebabkan mata-mata ganda.

Lain mereka, cerita diatas yang membahas orang-orang yang memang bekerja dan bertugas untuk menjadi mata-mata, penyamar sekaligus pencuri informasi, Rita la Fontaine de Clerq Zubli adalah seorang gadis berusia 12 tahun yang “terpaksa” menjadi penyamar. Ia berubah menjadi Lelaki dan memiliki nama lain yakni Rick!

Sebuah memoar masa perang yang dituturkan oleh pelakunya sendiri, Rita la Fontaine de Clerq Zubli, berjudul Disguised. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2009.

Ketika pasukan Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, keluarga Rita tahu bahwa kehidupan mereka akan berubah 180 derajat. Seperti orang keturunan Belanda yang lain, mereka pasti akan dijadikan tawanan perang. Ketika itu, keluarga Rita khawatir jika Rita nanti akan ditangkap dan dijadikan sebagai “wanita penghibur” oleh tentara Jepang. Seperti yang di ketahui, Jepang dalam melakukan ekspansinya untuk menjadi “Pelindung Asia” seringkali membuat pangkalan militer sekaligus rumah bordir untuk para pasukannya di Negara yang dijajah. Ironisnya, para pekerja di rumah bordir tersebut biasanya adalah orang dari negeri jajahan yang dipaksa atau ditipu akan dipekerjakan sebagai pramusaji atau yang lainnya, namun ujungnya mereka disandarkan pada kanal prostitusi.

Dugaan keluarga Rita tak meleset, mereka menjadi tawanan perang dan Rita tetap menyamar menjadi lelaki. Rita (Rick), dua adik lelakinya serta bibi dan ibunya ditempatkan bersama di kamp perempuan sedangkan ayahnya dipisah dan ditempatkan di kamp lelaki. Di kamp tawanan perang, pemimpin kamp tersebut mengundang Rita (Rick) untuk memainkan akordeon pada sebuah acara pesta karena pernah menyita alat musik tersebut dan di alat music itu ada ukiran nama ayah Rita (Rick). Di situ pula Rita (Rick) mulai belajar lagu-lagu Jepang dan bahasa Jepang. Rita kemudian menjadi penerjemah dalam kamp tawanan perang tersebut, meskipun umurnya masih terhitung sangat belia. Rita (Rick) juga menjadi penerjemah surat-surat dalam bahasa Jepang ke dalam bahasa Inggris dan Belanda juga Indonesia. Rita (Rick) cepat menguasai bahasa Jepang karena sambil bekerja, ia juga kursus bahasa Jepang. Untuk belajar bahasa Inggris, Rita (Rick) banyak belajar dari para Biarawati yang juga jadi tawanan perang.

Ada kabar yang menyesakkan dada saat kabar hancurnya Nagasaki dan Hiroshima oleh bom atom Amerika dan simpang siur kabar Jepang menyerah. Kabar yang menyesakkan dada tersebut adalah, semua kamp tawanan perang diperintahkan untuk dibakar sekaligus beserta penghuni kamp tersebut. Namun, pemimpin kamp tawanan perang, Kapten Hamada, dimana Rita (Rick) ditawan memberi keputusan lain dengan memberikan kesempatan tawanan perempuan berkunjung ke kamp pria.

Detik-detik terakhir pulangnya Jepang ke negaranya, membuat Rita (Rick) berani untuk menunjukkan siapa dirinya yang asli. Seorang perempuan. Hamada sendiri terkagum-kagum dan hampir tak percaya bahwa pegawainya sekaligus penerjemahnya itu adalah seorang perempuan yang menyamar menjadi lelaki. Kata Hamada: “Sekarang setelah aku tahu bahwa kau adalah perempuan, kekagumanku terhadap prestasimu melebihi apapun juga. Keberanianmu melakukan penyamaran sangat tidak biasa. Sungguh mengagumkan!”

Disuatu pagi saat para penghuni kamp bangun, mereka keheranan sekaligus ada rasa bahagia yang ingin diluapkan. Saat mereka bangun, tak ada seorangpun prajurit Jepang. Bahkan Kapten Hamada juga tak ada. Mereka telah pergi meninggalkan kamp tanpa membakar kamp tersebut.

Dua buku tentang penyamaran ini kiranya bisa dijadikan sebagai bahan “cemilan” ketika suntuk. Selain akan mendapatkan informasi baru, akan banyak juga nilai yang arif yang dapat dipelajari. Sekian!