Tubuh, Kultur Profetik dan Penjara

by Senjakala Adirata

Empat kali dalam dua tahun aku singgah di rumah sakit gara-gara tubuh. Sekumpulan tulang yang dililit urat, melindungi organ-organ dan daging dibungkus kulit tak berfungsi secara utuh menjadi ancaman dekonstruksi tubuh menuju sifat asali, kefanaan. Utuhnya tubuh yang dapat disebut kumpulan artefak-artefak yang dalam tiap artefaknya memiliki ideal masing-masing, terganggu. Gangguan itu akan memisahkan energi objek dari energi sumber pengendali objek. Dari keabadian menuju luluhlantak.

Saat singgah di rumah sakit, tubuhku menjadi sumber perkara guna melanjutkan kultur kebertetanggaan. “Menjenguk” menjadi sebuah alasan untuk mengekalkan bahwa keluargaku dan mereka adalah tetangga. Tradisi “berbaik hati pada momen yang tepat” untuk mengukuhkan tradisi profetik meski dalam keadaan terpaksa.

Saat-saat salah satu organ tubuh takberfungsi sebagaimana kodratnya, anggapan akan kesempurnaan tubuh bergeser. Keinginan-keinginan yang muncul untuk melakukan hal-hal lain selain terkapar, seperti menjadi sebuah titik bahagia. Padahal, kebermacaman keinginan yang muncul tersebut sebenarnya adalah keinginan yang telah diciptakan oleh berbagai kepentingan dengan satu sumber yakni keuntungan. Dalam bahasa Herbert Marcuse, yang dikutip Arief Setiawan; manusia satu dimensi. Manusia yang seolah-olah punya banyak pilihan, tapi sesungguhnya pilihan tersebut terbatas, tunggal. Keseragaman pola, tingkah laku, dan pikiran menjadikan manusia terkungkung meski hal itu tak pernah disadari.

Ketika keadaan salah satu organ tubuh telah kembali normal dan selanjutnya beranjak dari persinggahan rumah sakit, apa yang dituliskan Mujibur Rohman relasi “berkah bagi industri dan celaka bagi manusia” terjadi. Pertentangan antara kepentingan ekonomi dan kesehatan tubuh telah meletakkan tubuh di bawah subordinasi ekonomi. Keharusan mengonsumsi berbagai macam obat, dan supplemen serta pencegahan mengonsumsi jenis makanan tertentu sebagai produk industri, telah membatasi tubuh.

Tubuhku, selain sebagai pelanggeng kultur profetik yakni “tradisi menjenguk”, ia juga menjadi sebuah penjara dan sebuah investasi sebagai komoditas ekonomi. Menjadi penjara karena tubuh pada era kekinian adalah alat yang paling mudah dipengaruhi. Bahkan tanpa disentuh oleh apapun, penjara itu dapat hadir. Kapitalisme lanjut dengan pengaruhnya melalui media massa yang menjadikan tubuh sebagai komoditas, membuat tubuhku menjadi penjara. Mencoba menolak rayuan kapitalisme meskipun harus jatuh bangun. Memenjarakan tubuh dari keterpengaruhan keinginan yang ditimbulkan iklan kapitalisme. Disinilah kemudian keber-ada-an pribadi di uji. Karena “….tubuh sebagai pusat perkara dalam kebudayaan mutakhir adalah subjek dan objek untuk sistem dan mekanisme pasar dari produksi, distribusi, dan konsumsi (Bandung Mawardi, Suara Merdeka, 16/6/10), maka ia harus mampu mengendalikan apakah ia sanggup bertahan sebagai subjek pengendali tubuh atau malahan menjadi objek sistem dan mekanisme pasar yang profan.