Psikosastra

by Senjakala Adirata

Pergolakan jiwa dalam diri manusia dalam menghadapi keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan dalam menjalani hidup selalu terjadi. Id, ego dan super ego yang menjadi susunan kepribadian di dalam jiwa terus menekan antara satu dengan yang lain. Id, ego dan super ego memerankan masing-masing perannya untuk melancarkan tujuan yang memang telah menjadi naluri pergerakannya.

Begitupun tokoh-tokoh fiksi dalam karya sastra baik itu cerpen, novel maupun dalam drama. Keberadaan setiap tokoh dalam karya tersebut selalu memiliki tiga susunan kepribadian jiwa yakni id, ego dan super ego. Ketiga susunan kepribadian selalu ada dalam setiap tokoh. Hanya saja setiap tokoh pasti memiliki kekhususan tersendiri dan menonjolkan salah satu dari ketiga susunan kepribadian diatas.

Id, ego dan super ego yang menjadi dasar manusia untuk bergerak menyalurkan energy naluri ke dalam energy gerak untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya terjadi dalam kehidupan nyata dan pastinya juga terjadi dalam kehidupan dunia fiksi. Meski pertarungan id, ego dan super ego dalam diri setiap tokoh atau antara tokoh satu dengan tokoh yang lain melalui proses rumit seperti benang kusut, tapi sebuah teori yang dikembangkan oleh Freud yaitu psikoanalisa, bisa dijadikan sebagai rujukan untuk membedahnya dan mencoba membuka satu demi satu benang yang kusut.

Oleh sebab itu, psikoanalisa yang dikembangkan oleh Sigmund Freud, seorang lulusan sarjana kedokteran Universitas Vienna untuk mengobati jiwa pasien-pasiennya, dapat diterapkan dalam kajian kesusateraan. Pembedahan karya sastra dengan belati psikoanalisa Sigmund Freud dilakukan karena pergolakan jiwa dalam tokoh karya sastra yang juga memiliki keinginan dan kebutuhan layaknya manusia dalam kehidupan nyata. Psikoanalisa digunakan karena tokoh-tokoh dalam karya sastra pasti sebuah cerminan dari kehidupan nyata sehingga hal itu bisa dilakukan mesti lumayan sulit.

Kegiatan mengkaji untuk mengamati pergolakan jiwa tokoh karya sastra perlu pengamatan yang jeli dan teliti. Hal tersebut terjadi karena selain ilmu jiwa (psikoanalisa) objeknya adalah jiwa yang absurd tetapi juga karena yang dikaji adalah teks dan bukan pengamatan secara langsung terhadap objek manusia secara fisik-biologis.

Dari sebuah studi pembedahan karya sastra dengan belati psikoanalisa, dapat diketahui energy-energy pendorong dari dalam naluri dan instink kemanusiaan versi karya fiksi.