Transendensi Musik Melankolis

by Senjakala Adirata

Memang, boleh-boleh saja menyetujui apa yang di tulis Baudrillard bahwa era saat ini, adalah era citraan, yakni era yang segala sesuatu ditampilkan dalam wujud citra, permukaan (surface), dan imanensi (kefanaan), dengan menanggalkan fondasi-fondasi transenden (ruhani) dan metafisikanya, atau bahkan membangun relasi yang kontradiktif dengannya. Kenyataannya memang demikian. Era postmodern adalah era keterjatuhan manusia dalam pengasingan dunia nyata. Tapi keterjatuhan manusia dalam pengasingan duniawi ini sebenarnya mengingatkan kita akan kebutuhan-kebutuhan transenden yang telah lama dibungkam. Kebutuhan tersebut, yakin atau tidak, selamanya “akan terus menjerit”.

Hasrat untuk mengaktualisasikan diri dalam dunia simulasi pencitraan ini terus-menerus membabi-buta hingga menyelusup ke berbagai lini kehidupan. Bahkan, dalam agamapun—yang sejatinya mengajarkan kerohanian:transendensi—telah pula dimasuki kegilaan pencitraan dengan bermunculannya simbol-simbol yang menyebar secara sporadis. Keberadaan simbol-simbol tersebut telah mengikis makna hakiki transendensi hingga yang tersisa adalah kefanaan (imanen) belaka.

Dalam arus bebas postmodernitas yang sangat deras, sikap inklusif (terbuka) terhadap segala hasil cipta manusia yang cenderung imanen (fana) kiranya bukan sebuah keniscayaan untuk ditumbuhkan. Bersikap liberal dan inklusif bukan berarti mengikuti arus. Tetapi, setidaknya meluruskan arus yang mengalir menyimpang sedemikian jauh dari sumber untuk mengalir menuju pemberhentian akhir yang—kalau boleh dibilang—benar.

Dominasi hasrat manusia untuk meluapkan hasrat-hasratnya yang bersifat imanen, sesungguhnya harus pula disadari bahwa nafs dalam term spiritualitas ketuhanan (khususnya sufi), istilah nafs secara implisit merujuk pada an-nafs al amara, yaitu jiwa rendah yang dikendalikan oleh sifat-sifat jahat. Dalam hal ini, perwujudan nafs yang paling rendah adalah pada dunia materi. (Yasraf Amir Pilliang: 2004). Jika hal ini menguasai manusia, maka yang terjadi adalah hasrat yang berorientasi kepada materi belaka dan hal-hal yang bersifat keimanan akan tertimbun rongsokan-rongsokan hasil cipta dari pencitraan yang bersifat artificial.
Hasrat ini tercurah ke berbagai lini hidup termasuk musik. Manusia yang ingin beraktualisasi dan ingin bahwa dirinya dianggap “ada” oleh orang banyak, berambisi untuk populer dengan karya musik yang ia ciptakan. Hasrat yang didominasi oleh an-nafs yang rendah menjadikan ambisi ke-ada-an ini pada hal yang bersifat materi. Musik yang tercipta disesuaikan dengan selera pasar. Ketika sebuah musik melankolis lahir dan pasar meminatinya maka para musikus beramai-ramai membuat musik bergenre melankolis. Hal ini menjadikan sebuah pertanyaan muncul, ketika musik melankolis yang identik dengan cengeng populer dan diminati oleh masyarakat luas yang berorientasi pasar (materi), apakah hal itu bisa menuntun manusia sebagai pendengar dan penikmatnya kepada sifat hakiki manusia yang seharusnya memiliki sisi transendensi?
Musik melankolis yang terkesan berimara mendayu-dayu yang tak jarang liriknya sedih—untuk tidak mengatakan cengeng—sebenarnya ia harus bisa menembus perasaan fisik-batin. Sebab bisa menembus perasaan fisik-batin tersebut maka harus bisa merasuk dalam kesadaran emosi, dan akhirnya memasuki rasa sejati—dalam pengertian kebudayaan jawa—merupakan kesadaran mistik dari getaran atau energi fundamental yang ada dalam kehidupan. Sangat perlu membuat peralihan dari kesadaran yang “berpusat pada pikiran” kepada kesadaran yang “berpusat pada rasa” (Paul Stange:1998).

Mencermati dan menikmati musik melankolis (sedih) dengan berpusat pada pikiran, maka akan terbawa dalam kesadaran rasa. Disinilah—pada kesadaran rasa—manusia dituntut untuk dapat merasakan keberadaan ilahiah (transendensi). Musik melankolis yang menembangkan kesedihan, tentu lahir atas pengetahuan empiris si penciptanya. Pengalaman empiris tersebut yang tertuang dalam lirik musik, harus diakui bagi kita—yang mendengarnya—akan turut terlarut dalam lantunannya. Mengapa? Karena musik adalah sebuah representasi pengalaman hidup dimana kita juga pernah merasakan hal tersebut. Musik telah mengingatkan kita atas memori masa lalu dimana kita pernah melakukan hal tersebut atau bahkan masa saat mendengar musik tersebut kondisinya sama dengan kita saat mendengarkannya. Hal itulah yang membuat kita turut merasakan secara mendalam ketika mengikuti lirik-lirik yang didedangkan oleh sang vokalis.

Dalam keadaan sedih, manusia biasanya mengingat dzat Yang Menciptakan. Dalam keadaan duka, manusia biasanya kembali pada Sang Pemelihara untuk berintrospeksi akan kesalahan-kesalahan duniawinya. Lalu apakah mungkin musik melankolis yang liriknya ber-orientasi dari pria dengan kepada gadis menuntun kepada transendensi?

Disinilah manusia harus mengembalikan kata pada kata asli. Dalam kata pria/gadis/wanita, kita dapat serta-merta menyangkutkan kepada makhluk yang telah di-ciptakanNya. Dari situ, kita selayaknya menembuskan kesadaran pikiran kedalam kesadaran rasa. Kesadaran rasa yang menuntun manusia kepada Sang Pencipta. Rasa mengakui dimana manusia adalah sesuatu hal yang lemah di hadapan Sang Pencipta. Rasa untuk jujur dimana manusia akan mencari sesuatu yang bisa dijadikan sandaran ketika sedang gelisah dan merasa bersalah atau dalam keadaan sedih. Rasa dimana manusia merasa kecil dan tak kuasa berbuat untuk menaklukkan perasaan sedih akan kehilangan sesuatu yang sangat berpengaruh dan menekan dalam batinnya.

Disinilah, sebuah kebijakan dituntut dari seorang manusia yang kadang atau bahkan sering mendengar musik melankolis untuk mampu menghayati sebuah kesedihan pada sebuah kekuasaan ilahiah. Hasil cipta manusia yang terlalu berorientasi imanen selayaknya harus disikapi secara bijak dengan paradigma pikir baru. Atau bagaimana?