Nama dan Pelecehan Transendensi

by Senjakala Adirata


Nama dan Simbol

Konon nama pada manusia adalah doa. Sebuah pengharapan kepada Yang Maha Kuasa atas pribadi agar sesuai dengan nama yang diberikan. Namun seiring derap langkah hidup yang dijalani, hal demikian tidak selamanya seperti apa yang diharapkan. Kadang kala atau bahkan seringkali, sebuah doa pada nama tersebut tidak sesuai dengan pribadinya.

Hal itu disebabkan karena sebuah berkah yang bernama lupa. Lupa telah menjadi sifat yang sangat spesial bagi pribadi manusia. Ketika manusia tidak memiliki sifat lupa—kataDedi Mizwar—apa kata dunia? Dunia akan dipenuhi oleh manusia-manusia yang cerdasnya minta ampun. Selain itu, manusia juga akan cepat musnah. Apa sebab?

Bagaimana jadinya ketika sebuah musibah menimpa manusia dan manusia tersebut tidak bisa lupa dengan hal itu? Maka kesedihan yang berlarut-larut akan terus-menerus menghantui manusia. Nama seorang yang dikasihi dan telah meninggal akan menjadi sebuah momok tesendiri karena tidak bisa dilupakan.
Ketika nama adalah doa, dan pribadi yang memiliki nama tersebut tidak sesuai dengan doa-nya, maka hal itu sebab ia lupa. Lupa akan sebuah simbol yang telah dilekatkan pada dirinya. Ia tak lagi ingat pada pengharapan (nama) agar dirinya sesuai dengan namanya.

Manusia sebagai homo symbolic, selalu hidup dengan simbol-simbol. Nama, sebagai salah satu symbol pun telah begitu sangat berpengaruh bagi manusia sendiri. Seorang manusia dengan manusia lain, akan lebih mudah memangggilnya dengan namanya. Akan sulit jika seorang memanggil yang lain dengan cara seperti ini: “hai orang yang kurus dan berambut lurus!” sedangkan di dunia ini terlalu banyak orang yang kurus dan berambut lurus. Maka, nama menjadi symbol untuk memudahkan manusia. Begitupun dengan nama-nama lain selain manusia, nama dijadikan sebuah simbol penanda pada sesuatu yang dinamai agar memudahkan hidup manusia untuk mengenalnya.

Nama, Kepopuleran dan Hilangnya Jati Diri

Sebagai suatu symbol penanda untuk mempermudah memberikan tanda, nama kemudian melewati batas-batas tersebut. Nama yang diketahui dan dikenal akhirnya memotivasi individu untuk dikenal dan diketahui. Konon, hal ini agar dianggap eksis dalam dunia per-kemanusian.

Baik individu yang berambisi untuk dikenal oleh individu lain ataupun individu yang terkenal karena kebaikan ataupun kejelekannya, hal ini sekiranya menjadi cerminan bagi individu lainnya. Banyak yang kemudian memberikan nama pada anaknya dengan nama sosok individu yang terkenal dengan keshalehan atau kebaikannya. Tak jarang pula yang menyematkan nama orang yang diidolakan di dalam baris namanya.
Kepopuleran ini mempengaruhi individu lain, bahkan tidak hanya dari namanya tetapi juga tingkah dan pola hidup. Proses mengidolakan seseorang tersebut akhirnya sering merubah gaya hidup sang pengidola. Masih untuk ketika yang diidolakan adalah orang yang baik, tetapi kalau tidak? Ia kemudian membudidayakan budaya meng-ekor. Mengikuti orang lain yang diidolakan, sehingga keberadaan dirinya terasingkan entah kemana. Seorang pengidola yang fanatik dengan yang diidolakan tersebut akan kehilangan sisi human-nya untuk menjadi diri sendiri dan dehumanisasi terjadi.

Atas Nama Tuhan, Kami Menjadi Penjagal

Konflik antar manusia untuk saling mendominasi satu dengan yang lain telah mengakibatkan pembantaian yang menodai nilai-nilai kemanusiaan. Isu yang paling santer adalah, konflik antar agama. Konflik ini turut andil mengukir sejarah kehidupan per-kemanusiaan.

Sekitar tahun 1998 hingga 2000, Poso, Ambon, Ternate menjadi ladang kurusetra. Disana manusia saling membunuh satu dengan yang lain atas nama Tuhan mereka. Mereka seakan mengikhlaskan diri untuk menjadi sang pembantai bagi individu lain hanya karena perbedaan keyakinan.

Terjadi sebuah proses yang secara sederhana—mungkin—seperti ini. Individu terlahir memiliki nama, kemudian atas tingkah lakunya ia terkenal dan bahkan menjadi ikon dan dicontoh. Selanjutnya ia menjadi orang yang berpengaruh pada golongan tertentu. Dengan kata-katanya (doktrin), maka yang terpengaruh akan menurut dan membenarkan yang dikatakan. Hal ini kemudian berakibat fatal.

Tahun 1905, Paus Urban II mengirim pasukan untuk merebut Yerussalem. Dalam perjalanannya, mereka sebenarnya tidak hanya bertujuan untuk merebut kota suci dimaksud dari tangan kaum Muslim, tetapi mereka juga “membantai” kaum Yahudi dan Kristen Orthodoks. Pasukan tersebut kemudian dinamakan Pasukan Salib dan perang yang terjadi dinamakan Perang Salib.

Konflik itu berkepanjangan hingga Perang Salib ketujuh—kalau tidak salah. Ratusan ribu bahkan jutaaan nyawa meninggal. Para petarung dari pihak Kristen maupun Islam memiliki semangat yang sama, yakni “Atas Nama Tuhan, Kami Berperang”. Pertanyaan kemudian, “apakah Tuhan memang perlu untuk di bela?”