Distorsi Kemanusiaan Dalam Tradisi Liburan

by Senjakala Adirata

Dua buah kata yakni “Model terbaru”, kini menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh bagi penduduk dunia. Mengikuti model terbaru seakan menunjukkan ke-eksistensian seorang penduduk dunia terhadap lingkungan masyarakatnya. Pengaruh model terbaru sedemikian menjalar dan merasuk hingga sebagian besar penduduk dunia telah terinfeksi. Dari anak-anak hingga orang tua bahkan tak sedikit yang sudah berumur.

Dengan hal ini rupanya kian mempermudah para kaum kapital untuk memproduksi dan menciptakan model terbaru agar diikuti oleh masyarakat. Apapun produk yang ditelurkan, asal produsen menyematkan “model terbaru” dan membayar kepada para public figure untuk mengiklankan produknya, maka dengan serta merta produk itu akan di kunyah oleh masyarakat yang sebelumnya telah terinfeksi budaya konsumerisme dan kegilaan akan image modernitas.

Para produsen berebut pasar dan berlomba saling menciptakan model terbaru yang bisa dengan mudah mempengaruhi masyarakat sehingga terjadi persaingan produksi yang ekstrem. Mall dan tempat perbelanjaan modern hampir tiap bulan memajang model terbaru yang dipampang di etalase. Satu produk berganti produk yang lain begitu cepat, menjadikan kondisi sosial yang berubah begitu cepat pula. Pun berimbas pada budaya masyarakat yang konsumtif yang selalu keranjingan untuk berburu mode-mode terbaru. Bagi seorang yang gila model terbaru, saat ia berjalan bahkan seperti etalase toko yang berjalan; dari pakaian terbaru, topi/ikat rambut terbaru, ikat pinggang terbaru, sepatu/sandal terbaru beserta aksesoris dari anting, kalung, gelang dan tas, serta jam tangan bahkan cincin model terbaru melekat pada tubuhnya.

Masyarakat yang menjadi sasaran produsen, di lain sisi menjadi para buruh yang bekerja pada produsen. Percepatan produksi seperti diatas berarti berpengaruh pula dengan budaya bekerja masyarakat pabrik. Awalnya hanya bekerja hingga sore, namun demi “memaksakan” masyarakat agar membeli produknya maka produksi massal dilakukan. Jam kerja diperpanjang bahkan hingga enam atau tujuh hari 24 jam dengan cara melakukan pergantian jadwal kerja (shift) untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Kejenuhan dan kebosanan atas aktivitas yang stagnan seperti demikian—kerja, kerja, kerja dan kerja—tentu akan berakibat pada tekanan psikis. Hari libur kerja menjadi hari yang paling “bahagia” bagi masyarakat sekarang ini. Hari dimana bebas dari pekerjaan yang melelahkan, kepenatan, kebosanan, kesuntukan dan lain sebagainya, maka hari libur digunakan sebagai hari istirahat untuk melakukan “liburan”.

Jauh sebelum zaman industri menggejala di hampir semua Negara di dunia, zaman dahulu pada masa kolonialisme, mereka telah mengajarkan hari libur untuk liburan. Ketika para kolonialisme membuka lahan jajahannya dan beberapa wilayah di fungsikan sebagai perkebunan, mereka memperkerjakan para pribumi dengan bayaran yang sedikit. Tujuan mereka memberikan kesempatan sehari untuk libur adalah agar para pekerja menghabiskan upahnya. Saat inilah pertama kali liburan diperkenalkan. Dihari dimana libur itu ditetapkan, para cukong kolonialisme mendatangkan berbagai hiburan, dari mulai judi hingga para pemuas nafsu bayaran. Dengan adanya liburan maka cukong kolonialisme bermaksud supaya upah para pekerja yang minim tersebut habis lalu termotivasi untuk bekerja, bekerja dan bekerja lagi untuk kembali menghabiskan upah dalam hiburan-hiburan.

Dari sinilah kemudian liburan terus-menerus di jalankan dan akhirnya menjadi sebuah tradisi yang dianggap lazim. Kelaziman tersebut didalamnya menyimpan berbagai macam kemauan hasrat yang bisa disalurkan. Walhasil, dalam liburan berbagai macam hiburan bermunculan dan bertebaran di segala penjuru. Dari yang berharga murah hingga khusus untuk orang-orang elite. Dari penyediaan barang hingga jasa apapun yang kiranya dapat menghibur.

Kini, kita melihat dan merasakan sendiri bahwa kelaziman seperti liburan menjadi semacam ritual “balas dendam”. Balas dendam kepada hari-hari yang hanya berisi kerja-kerja dan kerja. Hari-hari dimana tuntutan imanensi kian menenggelamkan transendensi.

Dalam tradisi liburan kini, yang ada hanyalah memanjakan ragawi, kesenangan dan kebahagiaan yang bersifat permukaan belaka. Padahal, dari sisi lain kita dapat melihat bahwa liburan menyimpan tekanan-tekanan. Tekanan bagaimana raga bisa segar kembali agar ke-esokan harinya bisa kembali menjadi “robot” dan kerja, kerja serta kerja lalu kembali pada hari libur menjadi “manusia” yang telah hilang sisi manusiawinya. Ironisnya, hal kian dinikmati oleh sebagian besar umat manusia.

Umat manusia menikmati sebuah ritual bunuh diri sisi ke-manusiaan yang meliputi imanensi dan transendensi yang seharusnya berjalan beriringan. Orientasi umat manusia hanya kepada imanensi dan telah membunuh transendensi dengan pelan-pelan. Manusia telah menggali kuburnya sendiri.

Liburan hanyalah sebuah ritual untuk berpesta-pora. Dalam prosesi liburan hampir sudah tak ada lagi sisi transendensi. Perjalanan ritual ke Negara yang dianggap sakral, lebih banyak dihabiskan berkunjung ke tempat-tempat perbelanjaan dan lokasi-lokasi wisata dari pada menjalankan prosesi keagamaan. Atau bagaimana?