Pasar dan Perang Kebudayaan

by Senjakala Adirata

Hasrat untuk menginginkan dan memiliki barang orang lain, menimbulkan budaya barter pada awal sebelum terciptanya pasar. Seiring dengan perkembangan masyarakat, sebuah tempat disediakan guna melakukan transaksi tukar menukar barang atau jasa yang akhirnya disebut pasar. Kini, pasar tak hanya terletak pada sebuah wilayah geografis tertentu, melainkan dimana tempat bisa disebut pasar karena adanya alat tukar yang berupa uang.

Tertulis di KBBI versi maya, pengertian pasar adalah tempat penjual yang ingin menukar barang atau jasa dengan uang, dan pembeli yang ingin menukar uang dengan barang atau jasa. Beranjak dari sini, pasar bisa menggurita ke berbagai tempat dan tidak hanya berada pada tempat tertentu. Institusi sekolah bisa disebut pasar karena disana terdapat aktivitas jual beli, di jalan juga bisa melakukan transaksi jual beli, di hotel, di pantai, di penjara bahkan di dalam pesawat terbang bisa disebut pasar. Definisi pasar benar-benar menggurita dan tidak bisa dinisbatkan pada sebutan tempat tertentu seperti Pasar Klithikan, Pasar Senen, atau Pasar Kalimaling. Semua tempat kini bisa disebut pasar. Lebih lagi keberadaan cyberspace, sambil tiduran di dalam kamar pun bisa melakukan transaksi jual beli. Hal yang seperti ini biasanya disebut dengan pasar dunia maya dimana interaksi realitas berupa realitas artificial menggunakan teknologi internet sebagai penghubungnya.

Keberadaan uang sebagai alat tukar dan keyakinan orang bahwa uang adalah segala-galanyalah yang menyebabkan “pasar” berdiri dimanapun tempat. Berjual beli sebagai salah satu jalan untuk mengeruk keuntungan menyebabkan kebiasaan jual beli merambat ke segala lini tempat. Negara bukan lagi batas wilayah hambatan bagi pasar. Pasar telah menembus jagad dunia sehingga membuat dunia menjadi desa global.

Pasar-pasar—seperti diatas—tak lagi sekedar berfungsi sebagai tempat bertransaksi, tetapi juga tempat akulturasi, tempat belajar, tempat mencari nilai-nilai, tempat membangun citra diri, tempat merumuskan eksistensi diri, tempat mencari makna kehidupan serta tempat upacara ritual abad-21 seperti fashion show, opening ceremony, launching ceremony dan lain sebagainya.

Permainan tanda-tanda menjamur di Pasar. Dari tanda keagamaan hingga tanda pelacuran baik sembunyi sampai terang-terangan. Kontradiksi tanda-tanda hadir atas nama kebebasan dan hak asasi. Dan dipasar, tanda-tanda dilekatkan pada produk-produk yang dijual tanpa disadari oleh konsumen.
Rantai ekonomi tercipta disini. Consumer menjadi aktor penting dalam pertempuran tanda-tanda yang dijual oleh para penjual. Tanda yang paling banyak mendominasi consumer akan menjadikan para penjual berbangga atas keuntungannya. Puncak rantainya adalah para pembuat produk, kaum kapital yang melekatkan tanda-tanda dalam produknya. Mereka tidak hanya menciptakan tanda sesuai budaya yang ia miliki—yang berarti penjajahan budaya secara tersembunyi—tetapi kemenangan mutlak atas penjajahan budaya serta keuntungan yang luar biasa. Carefourisasi, McDonaldisasi, Hypermarketisasi akhirnya mempengaruhi budaya pasar lokal dengan meniru prinsip menekan biaya produksi sekecil-kecilnya tetapi mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari penjualan produksi.

Dengan menembus batas territorial wilayah/Negara, pasar menjadi sebuah alat untuk memperbanyak kebudayaan asal. Rumah makan Padang dengan budaya Padang menjejali wilayah Jawa, warung tegal (warteg) membawa budaya Tegal ke penjuru Ibukota serta kota-kota di Indonesia.

McDonald, KFC, CFC, Coca Cola, Hard Rock Café, Carefour membawa budaya dari Negara melintasi Negara lainnya. Klonning kebudayaan terjadi yang akhirnya terjadi pertarungan halus antar budaya atau clash of culture. Satu dengan yang lain mencoba mendominasi dan mengalahkan yang lain. Dengan demikian, manusia menciptakan semacam deterritorialisasi budaya, yakni membongkar budaya dari territorial lama menuju territorial yang baru. Duplikasi budaya semacam ini menciptakan ruang sosial baru yang membentuk masyarakat ke dalam kotak-kotak komunitas. Komunitas masyarakat McDonald, Komunitas masyarakat Hard Rock Café, Komunitas Masyarakat Coca Cola, Komunitas Masyarakat Honda dan lain sebagainya.
Fenomena sosial dan kebudayaan pada awal abad 21 tersebut, telah menciptakan berbagai bentuk deteritorialisasi kebudayaan, yakni tercerabutnya kebudayaan-kebudayaan dari territorialnya untuk kemudian berputar dalam ruang kapitalis global yang saling silang menyilang, tumpang tindih dan saling kontradiktif. Atau bagaimana?