Transendensi Rumah

by Senjakala Adirata

“Entah kenapa setelah saya pulang dari Surakarta ke Rumah di Watulemper, saya merasa ada sebuah ketenangan dalam hati. Perjalanan jauh dari tempat yang berbeda, kemudian kembali ke daerah asal seakan menentramkan perasaan resah dan gelisah”

Kiranya tak perlu lagi di ungkap ketika mengartikan rumah secara fungsi. Kita mengetahui secara gamblang jika rumah adalah sebuah tempat tinggal.

Sekian perjalanan pola pikir manusia, rumah kini tak hanya sebagai tempat tinggal belaka. Justru terjadi pergeseran fungi saat “kesibukan” telah menggelayut dalam diri kita semua. Rumah menjadi restaurant saat pagi hari semua anggota berkumpul untuk sarapan. Pasca dari itu, penduduk rumah pergi dengan kesibukan masing-masing yang akhirnya rumah tak lebih dari tempat makan belaka. Rumah juga menjadi hotel saat semua anggota keluarga telah sibuk bekerja seharian dan tak ada canda tawa di malam hari. Yang ada hanyalah setelah kelelahan, lantas tidur lelap untuk mempersiapkan kesibukan esok hari.

Lalu, apa sebenarnya Rumah? Tak adakah sebuah ikatan antara penghuni dan Rumah? Atau dimana tempat disitulah Rumah kita? Mungkinkah juga rumah sebagai identitas penghuninya?

Rasulullah bersabda terangilah rumahmu dengan shalat dan membaca alqur’an. Bagaimana kita memahami hadist ini? Mungkin dalam bayangan kita adalah, kita melakukan shalat dan membaca al-qur’an di dalam rumah kita. Jika kita renungkan, shalat dan membaca al-qur’an tak lebih dari pada sebuah ritual permukaan. Akan lebih bermaknanya jika shalat dan membaca alqur’an tidak sebatas aktivitas ritual tetapi implementasi dari keduanya. Berkegiatan sesuai tuntunan shalat dan melaksanakan aktivitas sesuai dengan apa yang ada dalam al-qur’an. Bukankah Aisyah bernah bilang bahwa akhlak Rasulullah adalah akhlaq al-qur’an?

Mungkin inilah mengapa tulisan ini berjudul transendensi rumah. Rumah yang berorientasi transcendental, yang di dalamnya tak hanya aktivitas ritual tetapi peng-aktualisasian dari ajaran-ajaran Islam.

Bentuk rumah kiiranya menjadi hal yang bernomor sekian, tetapi unsur hakikat dari sebuah bentuk akan lebih bermakna. Ornament kaligrafi atau photo ka’bah akan menjadi percuma di tempel di dinding-dinding rumah jika tak ada pancaran transendensi dari penghuninya. Pakaian, seperti songkok, sarung, baju taqwa hanya akan menjadi sekedar hiasan yang tak berarti jika hanya sebagai sebuah identitas permukaan tanpa bertindak secara hakikatnya.

Itulah mengapa konsep Islam tentang rumah adalah Baiti Jannati (Rumahku Surgaku) dimana rumah sebagai sebuah perwujudan orientasi terhadap sesuatu yang hakikat, abadi dan transendensi. Rumahku surgaku bukanlah berarti di dalam rumah terdapat macam-macam materi yang kita perlukan seperti yang ada dalam “surga”, tetapi meski di dalam rumah tak ada benda sama sekali, iapun bisa menjadi surga ketika segala tingkah dan pola laku di dalamnya adalah bentuk dari implementasi alqur’an.