Masa Depan

by Senjakala Adirata

Memang banyak yang membenarkan, bahwa berpikir jangka panjang tentang masa depan adalah suatu hal yang baik. Berpikir jangka panjang, tentang masa depan yang bukan hanya tentang masa depan kita sendiri melainkan masa depan anak cucu kita nanti adalah suatu hal yang konon juga, adalah lebih baik lagi.

Tapi masa depan itu “ambigu”, karena bisa dipahami dan dipakai oleh pihak mana pun demi kepentingan apa saja (B.Keiser). Misalnya oleh para politisi. Para politisi karbitan atau yang sudah berpengalaman sekalipun seringkali menggunakan janji ‘masa depan’ sebagai senjata utama untuk menyumpal mulut massa rakyat dengan madu, namun telah dilumuri oleh racun. Manis tetapi mematikan.

Pun juga tak ketinggalan para konglomerat dan pengusaha serta para rakyat yang kere—seperti saya ini—memahami ‘masa depan’ dengan naif. Seakan-akan ‘masa depan’ akan cerah jika berbagai praktik KKN yang ada di Negara tercinta kita ini telah punah. Setelah dipikir ulang benarkah mengatakan bahwa jika Negara kita bersih dari praktik KKN akan makmur sejahtera, gemah ripah loh jinawi? Bukan bermaksud untuk pesimis akan kinerja KPK memberantas KKN di Negara kita, tapi bukankah berpikir ulang yang lebih jauh itu juga diperlukan?

Lebih-lebih para generasi muda kita—teman-teman mahasiswa kita, anak-anak remaja kita—akan tertipu dengan sedemikian rupa ketika memahami ‘masa depan’ dengan kuliah atau sekolah yang identik dengan lembar ijazah. Barulah nanti, kita, kami atau mereka para generasi muda akan sadar bahwa itu adalah tipuan karena setelah lulus tidak mendapatkan pekerjaan. Boleh kan, kita jujur sesuai realita mengatakan bahwa sebagian besar generasi muda kita bersekolah dan kuliah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak—yang oleh sebagian besar orang tua kita bilang “agar hidupnya tidak sengsara seperti orang tuanya!!!???”.

Kemudian yang menjadi masalah adalah, seberapa jauh sebenarnya kita memahami dan memaknai masa depan dengan baik? Masa depan itu apakah sesuatu yang kita harapkan untuk diri kita di masa umur kita selanjutnya atau masa depan itu adalah sebuah masa dimana kita telah tiada dan yang tertinggal adalah anak cucu kita? Jika kita menjawab, memikirkan masa depan kita adalah masa dimana di usia kita selanjutnya setelah sekarang, lalu seperti apa berpikir masa pendek yang kebalikan dari berpikir jangka panjang—masa depan?

Kita sebenarnya dituntut untuk terus maju dan bergerak kedepan, tak hanya gerak perjalanan hidup tetapi juga gerak pikir kita harus memandang ke depan dengan tidak menyepelekan pengalaman masa lalu. Kita dituntut untuk berpikir ganda sebenarnya, untuk masa depan individu kita dan untuk masa depan anak cucu kita atau malah lebih jauh lagi untuk masa dimana setelah anak cucu kita. Jika masa sekarang kita berpikir serampangan dan akhirnya teraplikasi dengan “tidak sengaja”, dan sialnya sebagian besar orang juga berpikir demikian, maka pemikiran itu akan terwujud menjadi sebuah peng-aplikasian yang membudaya dab menjadi budaya yang ‘serampangan’ pula. Kasihan anak cucu kita nanti. Kita adalah tangga dimana anak cucu kita nanti berpijak untuk membuat tangga selanjutnya. Jika tangga yang kita buat salah dan melenceng, niscaya anak cucu kita pun juga akan menyambung dengan tangga yang kian melenceng pula dan seterusnya akan semakin melenceng. Jadi, sudah seharusnya kita untuk berpikir ganda, untuk masa depan diri kita dan untuk masa depan anak cucu kita nanti. Atau bagaimana?

Terispirasi dari tulisan B.Keiser dalam Majalah BASIS No. 05-06, tahun ke 51- Juni 2002