Pendidikan dan Kebijaksanaan

by Senjakala Adirata


Pada ratap ilalang, aku tak jumpa sebuah jawaban. Pada tiap mata terpejam, mimpi juga tak kasih jawaban. Awan tetap saja memacu menutup jagat langit dengan rupa-rupa warnanya.

Begitupun mata ini, tetap melayang menatap langit dengan rupa-rupa awan pada malam-malam yang rembulan telah dikalahkan oleh mercury yang temaram. Rasa geram kadang hadir, kenapa kini orang tak lagi banyak yang menikmati Sang Rembulan?!! Pun malam ini ku tanya kabar pada mereka; tapi tetap tak ada semilir jawaban. Hanya ada lenguhan Merapi yang kian hari kian menantang kesombongan orang-orang!!!!

Kini kita terdiam terduduk terpeluk oleh segala ketakutan bagi yang masih memiliki hati seperti pekat malam. Tapi yang tak punya, seakan hari-hari yang mentari selalu memberikan terang hanyalah sebuah denting putaran waktu untuk acuh dengan segala macam kebenaran, di dekat pinggang ataupun sejauh mata memandang. Peran tetap menjadi pilihan sayang, peran menampilkan sisi kemunafikan, menafikkan segala jenis kebenaran yang telah dicabut oleh Tuhan dari dunia para ilalang.

Hari-hari berlalu dengan irama kesedihan dan kerinduan serta kecintaan pada entah sesuatu yang seringkali memancarkan kegemasan dan kekaguman serta keagungan. Aku tetap saja terpaku dalam rasa ini, mengintip melalui celah rerumputan, menjalani pendidikan yang entah kemana bertujuan!

Kenapa Aku tak mau jujur ‘tuk bilang bahwa pendidikan sekarang ini, yang aku dan kita juga mereka lakukan adalah jalan menuju sebuah perbudakan panjang? Kenapa Aku, kita dan mereka tak mau bilang “Berhenti Sekarang” dan belajar pada tiap tempat dalam tiap alam dengan berjuta kebijaksanaan? Mulia mana kebenaran dan kebijaksanaan? Benarkah kita, Aku dan mereka kini berdialog mengintip dan mencoba membuka selimut yang menutup kebenaran? Kenapa Aku, Kita dan mereka masih juga tak mau jujur bahwa kebenaran telah hilang dari Dunia para Rerumputan?

Yah, kebenaran adalah hal yang selama ini kita buru dan coba kita terjang halangan dimana jalan menujunya terhalang. Tapi, kini banyak dari kita dan mereka yang berlaku bajingan atas nama kebenaran. Kebenaran bagimu, kebenaran bagiku dan kebenaran bagi mereka adalah berbeda hingga kebenaran bagai serabut kelapa yang tak teraturan. Kebenaran bukanlah kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah pasti dan tentu kebenaran.
.
.
.
Tapi….
.
.
tapi…
.
.
.
kenapa kita masih tak mau mencari dan berlaku bijaksana??!!