Syair Adi dan Vina

by Senjakala Adirata

Tiga tahun lalu aku berdendang memintamu memberikan sebaris kalimat yang berjejal angka-angka. Dan sejak itu kita saling bercerita tentang cinta dan keluarga juga tentang Tuhan dan munafiknya pemangku negri kita. Pada hari-hari yang mentari selalu membuka selimut pagi, diriku dan dirimu seperti sepasang sepatu yang jika ada kanan pasti ada kiri. Begitu harmoni dan begitu serasi. Seakan janggal jika di pelataran tempat parkir pagi, sepatu itu tak berjalan bersama. Dengan goyangan tanganmu yang energik melambaikan tanganku ke depan dan ke belakang, membuat indah suara langkah sepatu itu.

Kertas-kertas yang selalu kita pandangi, menunjukkan segala macam jendela baru dunia. Namun kita berbeda tujuan mungkin. Prestasi hasil akhir dengan tatapan masa depanmu yang terencana, dan tatapan masa depanku yang tak pernah hirau akan sebuah formalitas kesarjanaan. Tapi kita tetap bicara lintas tujuan yang berbeda dengan segala debat tak masuk akal berakhir rangkulan dan terkadang kecupan mesra di jidatku dan jidatmu.

Kabut terkadang juga sering bergelayut dalam sungai yang telah kita sambung ini. Sering aliran air lupa kemana akan mengalir karena kabut tak hanya menutup, tetapi berkemelut dalam aliran air hingga menyumbatnya. Kadang aliran itu terputus dan terkadang mengalir terisak bersama lelehan airmata kita yang saling kita sembunyikan antara satu dengan yang lain. Harus jujur ditegakkan bahwa aku dan kamu memang saling mencinta tanpa harus mencari referensi Adam dan Hawa, tanpa harus membaca Laila-Majnun juga tanpa harus mendebat kritik sastra tentang Romeo dan Juliet yang tak pernah disentuh oleh kawan-kawan kuliah kita di sastra. Apa lagi sosok Jalaludin Rumi, lidah kita dan mereka pun kiranya terlalu bingung untuk mengucapkannya sebelum terlalu gila memikirkan syair-syairnya. Pun harus mengkajinya dengan dekonstruksi yang belum pernah di jabarkan oleh dosen kita.

Biarlah Tuhan Mati, kata Nietszche. Biarlah tuhan mati, orang-orang yang menganggap diri mereka tuhan dan beranggapan mereka memegang masa depan kawan-kawan kita yang ditahan hingga enam belas semester hanya karena pemikiran mereka yang mencoba buka pintu demokrasi. Dan kau pun tahu, bahwa diriku masuk dalam deret daftar hitam yang tak akan pernah bergelar sarjana meski harus seratus tahun menimba di institusi itu. Tapi Biarlah Tuhan Mati, dan jangan pernah kita mengantar jenazahnya. Jika memang mereka mati biarlah mereka terbang menggali kuburnya sendiri.

Sembilan bulan yang lalu sudut matamu layu di tengah deru rintik gerimis dan lalu lalang kendaraan. Kita saling berjabat tangan dengan tanpa sebuah perjanjian. Tapi matamu dan mataku berjumpa dalam cumbu mesra berbicara serta rerembugan dengan segala perjanjian dan segala konsekuensi loyalitas yang harus kita jaga. Kini aku dan dirimu berjarak jutaan hasta, dan beberapa samudera. Meski demikian, aku dan dirimu harus tetap berjanji berdiskusi tentang orang-orang yang kian banyak saja menjual ayat-ayat suci Tuhan Kita, tentang Merapi yang mulai memperlihatkan kejantanannya, tentang para negarawan yang sok negarawan dan tentang teman-teman kita dulu yang selalu iri dengan kecerdasan dan kepintaran serta keloyalitasan hubungan kita. Biarlah waktu berjalan, biarlah cinta kita bertunas dan biarlah mimpi kita bertumbuh agar berbunga dan berbiji hingga biji tersebut tumbuh tersebar di seluruh jagat Mayapada atas nama adi dan vina dengan uluran anugrah Sing Mbahu Reksa.