Selembar Kain Ungu

by Senjakala Adirata


Rasa itu hadir tiba-tiba. Menyerobot tempat yang telah lama ku tutup. Tak ada lagi niat `tuk membukanya kembali. Namun, rasa itu hadir tiba-tiba. Menyesak, menjejal mencari ruang untuk diduduki. Ia kini menempel pada tiap tetes darah yang terpompa dari jantung. Menyebar keseluruh tubuh, mengalir ke segala urat nadi. Merasuk dalam otak, memaksa mengenang rupa tiap waktu jeda.

Menyiksa memang! Tapi bunga yang tadi sewarna dalam hati ini, kini mulai berupa-rupa. Pun yang lalu tak bisa tersiram, kini air justru mengalir melalui sela-sela urat nadi. Serasa, benar-benar taman. Serasa benar-benar kasmaran.

“Dok, pasien sudah menunggu” hening.
“Dokter!” terdengar suara yang lumayan keras. Aku menoleh dengan tiba-tiba, rupanya Nina sudah berdiri di sampingku.
“Eh… Kamu Nin. “Kaget aku. Ada apa?” tambahku.
“Kok senyum-senyum sendiri?” tanya Nina sambil senyum-senyum.
“Ah…nggak” jawabku mengelak sembari mengambil stethoscope yang tergantung dan menyambar jas putih lalu ku pakai.
“Nggak??” Kata Nina sambil melangkah mengkuti ku dari belakang. “Orang ngelamun mana ada yang tahu kalau ada orang yang lihat dia melamun?” imbuh Nina menyindir diriku.
“Nina..!!!” kataku geram, mengernyitkan dahi sambil melirik tajam kearahnya.
“Pasien itu ya…???” selidik Nina dengan tawa kecilnya.
“Iiiih…kamu itu…..!!!!” jawabku sambil mencubit pinggang Nina. “Dah ah, kerja..!!!” tambah ku.
Nina hanya meringis-meringis. Menahan sakit mungkin. Atau, cuma tawa meledek? Kataku dalam hati. Ku toleh dan melirik dia dengan tatapan tajam. Ia merunduk, tetapi masih menahan senyumnya.
*****
Ruang Cempaka 1
“Sudah boleh pulang kan hari ini?” tanya Ardi. Aku menoleh. Pandanganku bertemu pandangannya. Suasana hening sejenak lalu Ardi tersenyum. Aku tergagap bingung mau bagaimana. Setiap dia tersenyum, selalu saja aku salah tingkah. “Maaf” ucapku lirih. Tanpa menunggu Ardi menyahut, langsung ku buka kelopak matanya untuk memeriksa. Lalu ku suruh menjulurkan lidahnya. Setelah selesai memeriksa, aku menjawab pertanyaannya tadi. “Satu syarat” kataku. “Stop merokok dan minum kopi!!” kataku dengan suara agak tegas. Suasana hening kembali. Nina pun hanya diam di sampingku. Adik perempuan Ardi juga sedang menikmati acara berita di TV. Dengan mengenakan gamis berwarna biru muda. Cerah sekali dan kelihatan sangat anggun dengan jilbabnya yang sewarna dengan pakaiannya.

Ruang cempaka 1 ini memang ruang khusus untuk pasien yang lumayan kemampuan ekonominya. Terdapat sebuah TV dan satu set kursi tamu serta ranjang pasien juga hanya satu.

Dia menghela nafas panjang tanda keberatan. Kemudian ia menatapku dalam-dalam. Aku menatapnya juga. “Baiklah” jawabnya pelan. Tapi jawabannya kelihatan sangat berat sekali. Kemudian aku sampaikan therapy apa yang harus dilakukan pasca dari opname dan beberapa obat yang harus Ardi bawa. Nina mencatatnya. Ardi hanya menatap dan mendengarku bicara. Diam diatas ranjang pesakitannya.
*****
“Jangan panggil begitu. Kan malu didengar orang” kataku tanpa melihat wajahnya.
“Terus?” ucap Ardi seperti bertanya. Aku menoleh manatapnya, dia tersenyum. Aku pun membalas senyumnya.
“Panggil biasa saja” jawabku dengan lirih.
“Tantri, begitu? Atau dokter Tantri yang cantik?” ucapnya meledekku. Aku jawab dengan tersenyum, lalu kembali menikmati langit senja di pantai ini. Bersama seorang mantan pasienku. Pernah dulu, aku tertarik dengan seorang pasien, tapi saat itu aku sudah pacaran dengan David dan berencana menikah. Setelah sembuh, dia mengajakku makan malam atau bisa dikatakan kencan. Tapi aku menolak, mengingkari perasaan hatiku yang sebenarnya juga tertarik dengannya. Mengingkari perasaan demi sebuah loyalitas cintaku kepada David.

Ardi menggeser duduknya mendekatiku.

“Kamu nggak malu jalan sama janda sepertiku?” tanyaku membuka keheningan, kemudian melihat wajahnya. Dia hanya senyum sambil terus menatap ke depan, melihat laut yang memantulkan warna keemasan.
“Telah ku tutup begitu lama perasaan ini kepada perempuan. Tapi saat ini, pintu ini, di dobrak oleh seorang janda, perasaan ini ku tutup setelah tebing-tebing hati di sayat-sayat oleh seorang gadis. Hingga kini pun masih tetap membekas” ucapnya lirih. Ku lihat matanya berkaca-kaca.
“Tapi aku nggak mau pacaran. Malu sama orang. Sudah punya anak tapi jalan kesana-sini sama lelaki.” kataku datar.
“Karena itu pulalah aku mengajakmu ke sini” katanya tetap saja lirih. Aku terus saja menatapnya. “Lusa aku ke Bangkok, meliput gerakan kaos merah. Setelah pulang dari sana aku akan melamar kamu” ucapnya serius. Ia kemudian memandangku dengan sayu. Lama kami berdua terdiam. Hanya mata kami yang bergurau dalam pandangan.

“Keluargamu nggak apa-apa kamu menikah dengan orang non-Islam?”
“Keluargaku yang mau nikah, atau aku yang mau nikah?” tanyanya langsung sambil senyum menggoda.
“Kalau nggak salah, kan ridho Tuhan tergantung ridho orang tua? Begitu kan ajaran agamamu?” tanyaku mencari tahu dan memastikan jika hubungan ini benar, berarti harus ada ijin dari orang tuanya.
“Kok tahu?” dia balik bertanya dan tidak menjawab pertannyaanku.
“Nina yang bilang begitu” jawabku datar sambil senyum kecil.
“Iya” katanya menjawab pertanyaanku tadi. “Tinggal nanti musyawarah sama orang tuaku” tambahnya.
*****
Hanphoneku berdering saat aku berada dikamar pasien. Ku ambil dan kulihat. Oh, rupanya sms dari Ardi. “Aku baru saja sampai di Bangkok. Tadi malam aku sudah bicara dengan orang tuaku, tapi mereka keberatan karena kita tak se-agama. Tapi semua bisa didiskusikan nanti. Doakan aku kembali dengan selamat”.
“Sepertinya memang selayaknya aku menutup pintu hati ini setelah kepergian David. Aku tahu, seorang yang lumayan taat agama seperti Ardi, keluarganya tak bakal mengizinkan aku dan dia menikah” Bisikku dalam hati. Aku tak membalas smsnya. Ku lanjutkan memeriksa pasien demi pasien. Kamar demi kamar.
“Nin, memangnya lelaki Islam boleh menikah dengan perempuan non-Islam?” tanyaku pada Nina di ruang kerja setelah selesai memeriksa seluruh pasienku. Nina menatapku dalam-dalam.
“Kok malah ngeliatin seperti itu sih?” tanyaku heran pada sikap Nina. Seorang suster dengan jilbab besar nan anggun itu. “Ditanya kok malah seperti orang kebingungan!” tambahku.
“Mau nikah sama Mas Ardi ya? Kata dia balik bertanya dengan raut muka penasaran.
“Nggak jawab pertanyaan malah balik tanya!!” jawabku sambil membuka katalog obat-obatan di meja. Nina hanya senyum-senyum kecil. Lalu dia berdiri.

“Boleh!!” kata Nina dengan tegas. “Kalau sebaliknya, baru tidak boleh” imbuhnya dengan tegas pula. Ia kemudian keluar dengan membawa sebuah berkas.

Aku termenung dengan segala percaturan dalam hati. Mengingat-ingat jawaban Nina tadi. Kepalaku kutopang dengan tangan kanan seperti orang yang sedang berpikir keras. Tanganku yang lain membolak-balik halaman buku katalog obat, tapi tidak membacanya. Aku melamun, melamunkan cinta keduaku yang mungkin akan kandas.
*****

Detik yang menetes, menghamba pada sang Hyang Widhi. Detik terus menetes dan tak pernah kembali menjadi awan dan menets lagi. Ia terus menetes, mengalir meninggalkan jalan-jalan. Hingga detik berujung hari, dan tak berhenti pada minggu.

“Bu, dapat kiriman” kata Bi Sati sambil membawakan air putih setelah aku menghempaskan diri di sofa. Lelah seharian di Rumah Sakit.

“Kiriman apa?” tanyaku setelah meneguk beberapa tegukan.
“Nggak tahu. Dari Thailand” katanya menjelaskan. Pikiranku langsung melayang menuju Ardi. Rasa gembira dan penasaran memburu dalam dada.

“Bawa kesini ya Bi!!” seruku saat Bi Sati sudah berjalan kearah dapur. Sejenak kemudian Bi Sati datang membawa sebuah bungkusan berwarna ungu. Aku tersenyum saat memegangnya. Dia suka sekali berkata dengan segala simbol, juga dengan warna. Aku membukanya dengan cekatan karena rasa penasaranku sudah begitu menderu. Tak sabar untuk segera melihat isinya.

“Ungu lagi?!!” batinku bertanya. Aku jadi penasaran dan segera ku ambil. Selembar kain ungu dengan ukuran yang lumayan dan dibawah kain tersebut terdapat sebuah kertas.

Salam,
Tantri, suatu hal yang luarbiasa bisa kenal denganmu. Dan suatu hal yang amat sangat luarbiasa bisa mencintamu, tak hanya sekedar menyukai. Seorang Dokter sepertimu tak perlu ku tanya kabar, karena kau pasti menjaga kesehatanmu. Aku disini baik-baik saja. Hanya sedikit bising oleh deru peluru para tentara dan polisi.

Tantri, kita memang berbeda. Tapi perbedaan bukanlah suatu hal yang harus menjadi penyebab kita tak bisa bersatu. Cinta tak pernah buta, ia melihat persamaan dan perbedaan. Cinta juga memiliki jiwa. Dan dari jiwa cinta itulah, bagaimana kita bisa saling menerima persamaan dan perbedaan serta menghargainya.

Kain ini, ku dapat dari seorang pedagang muslim Pattani. Warna ungu bukan berarti janda, tapi sejak kecil aku memang suka dengan warna ungu. Hanya saja, kini aku mencintai seorang janda; yang biasa di simbolkan dengan warna ungu. Kain ini adalah sebuah jilbab. Ku kirimkan bukan berarti sebagai tanda aku menyuruhmu mengikuti agamaku. Masalah keyakinan adalah masalah pribadi. Keyakinan adalah sebuah pencarian. Ketika aku menyuruhmu masuk agamaku dengan alasan agar orang tuaku setuju, itu adalah sebuah penghianatan cintaku padamu. Dalam Islam, tak ada paksaan seseorang untuk masuk sebagai pemeluknya. Jadi, tak mungkin aku melawan ajaran agamaku dengan memaksamu masuk Islam.

Sebelumnya aku pernah mencintai seorang gadis, tapi setelah kini aku mencintaimu terasa ada yang berbeda. Saat ada orang yang menyebut namamu, hati ini bergetar hebat, bergemuruh dan seakan-akan ingin segera menatap mata beningmu. Cinta ini membantaiku dengan sejuta topan yang menghajar segala rintangan didepannya. Tapi, topan ini tak mampu menabrak ijin orang tua, karena merekalah yang melahirkan topan ini. Merekalah yang mengajarkan sayang, kasih, dan cinta. Pun aku tak akan menutup mata atas perbedaan diantara kita. Aku akan menghargai keyakinanmu, dan semoga saja sebaliknya.
Kita memang berbeda, Tantri, dan mungkin dalam segala hal. Tapi tidak dalam Cinta!!!
Salam, Ardi

Hatiku terenyuh setelah membaca tulisan tangan Ardi. Tanpa kusadari, air mataku menetes dengan pelan
*****
Aku tak bisa tidur. Pagi ini mataku sembab, semalaman menangis. Setelah bangun dari ranjang, aku berjalan menuju meja rias. Menatap wajahku yang masih acak-acakan. Segera aku menuju kamar mandi, membersihkan diri.
Aku melangkah menuju almari, mengambil sebuah gaun sederhana, hadiah dari David saat masih pacaran dulu. Memang sederhana, tapi elegant. Semua badan tertutup, bahkan gaun ini terkesan longgar. Warnanya ungu, warna kesukaan David, warna kesukaan Ardi. sudah lama aku tak memakainya.
Saat aku duduk kursi meja rias, dengan pelan air mataku meleleh lagi. Sambil mencoba meneguhkan hati, ku ambil dengan pelan kain ungu pemberian Ardi. Ku pasang di kepala, sambil mengingat-ingat Nina memasang jilbabnya saat selesai mengambil air wudhu. Ku ambil sebuah bros bunga anggrek, ku kancingkan dibawah dagu untuk mengeratkan sisi kain yang satu dengan yang lain, seperti yang biasa kulihat pada Nina.
Sambil terus menatap diriku di cermin, ku lihat dalam diriku ada yang berbeda. Sepertinya aku kagum dengan diriku sendiri. Aku terlihat lebih anggun di cermin, terlihat lebih bersahaja. Juga terlihat lebih cantik. Tapi air mataku terus meleleh, belum berhenti juga. Ku ambil sebuah tisu, ku sapu air mataku. Wajahku tak ku lapisi dengan riasan. Tanpa lipstick, tanpa bedak, tanpa eye shadow. Tapi aku tetap terlihat menawan di dalam cermin itu.

Setelah kupastikan wajahku kering dari air mata, aku melangkah menuju garasi, menghidupkan mobil lalu berangkat.
*****
Halaman rumah Ardi sudah ramai orang. Kursipun tertata rapi. Orang-orangpun banyak yang lalu lalang. Ku parkirkan mobil, lalu aku keluar dan melangkahkan kakiku menuju rumah Ardi. Nina segera menyambutku. Dengan tatapan tajam, melotot penuh heran. Ku angkat telunjukku lalu kuletakkan dengan pelan pada bibirnya. Dia lalu memelukku, dengan sangat erat. Kemudian kudengar dia sesenggukan. Menangis.
Setelah berpelukan, kami berdua berjalan menuju teras rumah Ardi.

“Ini Pak, Bu Tantri” kata Nina mengenalkanku pada Bapak yang berpeci hitam dengan kemeja batik panjang. “Bu, ini bapaknya Mas Ardi” katanya menjelaskan padaku. Entah tahu darimana, Nina sudah kelihatan akrab dengan Bapaknya Ardi. Kemudian aku salaman dengan beliau, ku angkat tangannya lalu ku cium. Kemudian beliau mempersilahkan aku masuk. Aku membuka sandalku, lalu masuk ditemani oleh Nina. Banyak sekali orang didalam. Perempuan dan laki-laki. Kebanyakan orang tua. Hanya beberapa remaja, dan beberapa terlihat memakai sebuah jaket hitam bertuliskan majalah dimana Ardi bekerja.

Aku terus melangkah ke dalam ditemani Nina. Ku lihat semua mata melihat kami berdua. Dengan tatapan penasaran, dengan raut wajah heran. Aku terus melangkah ke dalam, kemudian ku jumpai Ardi. Dadaku berdetak kian kencang, jantungku memompa kian tak teratur. Keringat dinginku mengalir. Ku tatap Ardi dengan tatapan pasrah dan sayu, terus ku lihat ,terus ku lihat lalu sekeliling seakan berputar. Kemudian gelap, kurasakan Nina menahan tubuhku yang akan ambruk. Pandanganku gelap seketika.

Lalu beberapa orang kurasakan mengangkat tubuhku. Aku di bopong menuju ruang entah dimana. Dalam perjalanan itu, ku lihat dengan mata sayup-sayup, Ardi hanya diam. Terpaku. Membisu. Dengan dua buah kapas berada pada lubang hidungnya, dan pada lubang telinganya. Kepalanya dibalut dengan kain putih. Tubuhnya ditidurkan di lantai dengan selimut beberapa lembar kain Batik. Pandanganku kembali gelap, air mataku kembali mengalir, ingatanku menerawang jauh mengingat sms dari nomor yang tak ku kenal, Ardi meninggal terkena peluru nyasar di kepalanya.

cerpen ini akan diikutsertakan dalam Lomba Cerpen Islami (CERIS) ISIS (Ikatan Sastrawan Islam Stain Surakarta) Mohon doa dan dukungan😀