Topeng Tanpa Topeng

by Senjakala Adirata

Kita, manusia, adalah salah satu makhluk ciptaanNya yang konon adalah paling mulia, konon paling pintar, konon paling beradab dan entah berapa konon lagi yang menggelayut dalam diri kita sebagai manusia.
Untuk membedakan antara kita dengan kita yang lain, hadirlah yang disebut nama. Yah, nama adalah penanda dan kita secara individu adalah yang ditandai. Jika kita manusia dengan kita manusia yang lain tidak diberi tanda oleh nama, maka kita tentu akan bingung menyebut atau memanggil kita yang lain.

Tapi “apalah arti sebuah nama?” kata seseorang (saya lupa namanya). Benarkah nama adalah sesuatu yang urgent sehingga wajib dan harus menempel pada diri kita manusia? Tentu, jawabannya adalah YA!! Adanya nama akan memudahkan kita, menandai satu dengan yang lain. Bagaimana mungkin kita memanggil yang lain “dia si manusia yang jabrik dan bertompel atau dia yang anggun dengan jilbab lebar” sedangkan berapa manusia yang jabrik dan bertompel dan berapa manusia yang anggun dengan jilbab besar? Karena itu, nama tercipta untuk memudahkan kita. Bahkan sebagian, nama adalah doa.
Lalu, bagaimana dengan nama pena/nama samaran?

Istilah nama pena lahir ketika budaya menulis mulai hadir. Seorang penulis, yang tidak mau dikenal nama aslinya atau memang merasa inferior dengan nama-nama lain yang lebih mentereng atau juga karena tulisannya sangat “tajam” sehingga”sembunyi” di balik nama pena (samaran)nya. Dan inilah yang saya sebut sebagai Topeng tanpa Topeng, tanda (nama) sebagai topeng (penutup) tanda (nama) yang asli. Selintas hal ini bukanlah hal yang penting untuk dibahas dan didiskusikan. Tapi, seiring majunya teknologi informasi, rupanya hal ini menjadi sebuah fenomena yang patut untuk diberikan perhatian khusus.

Kita, akan dengan sangat mudah menemui nama pena/samaran dalam dunia maya. Karena dalam dunia maya, tak ada konvensi yang disepakati secara bersama. Di dunia maya, bebas. Mau bernama apa silahkan dan terserah. Namun hal ini menjadi sebuah tanda tanya, apakah benar bahwa rasa kepercayaan kita terhadap orang lain kian berkurang sehingga untuk “jujur” menampilkan nama kita dalam byte-byte data, kita tidak mau? Atau memang kita kebanyakan adalah orang yang introvert sehingga cenderung eksklusif dan menutup diri? Mungkin bisa dikatakan demikian, tapi bisa juga karena hanya ikut-ikutan yang lain. Karena yang lain menggunakan nama “tidak jelas” sehingga ia pun menggunakan nama yang “tidak jelas” pula.
Satu alasan yang mendasar lagi, mungkin, adalah karena kehidupan dunia maya dan pertemuan didalamnya adalah hal yang mustahil untuk berjumpa dalam dunia nyata, maka kiranya tidak terlalu penting menampilkan nama asli. Dan, akan semakin menimbulkan tanda tanya serta rasa penasaran yang dalam tentang siapa dibalik topeng-topeng itu. SiapaArundati, KanvasMaya, pendarbintang, gerhana coklat, Mbah Jiwo, sendang jiwa dan ribuan topeng yang membuat kita kian penasaran dengan wajah dan nama aslinya.

Namun, apapun diri kita yang sembunyi dibalik topeng nama atas dasar apapun itu: dalam menulis artikel, menerbitkan tulisan menyampaikan pesan dan kritik, serta menulis komentar diharap berguna bagi topeng-topeng yang lain yang mengagumi topeng tersebut, tanpa melanggar konvensi dan etika dunia nyata dimana yang baik tetap disampaikan sebagai yang baik atau sebaliknya. SELAMAT BERTOPENG !!!

Lalu bagaimana dengan krupuKCair? Siapa nama dibalik topeng ini?

gambar dari 1t4juwita.wordpress.com