Sastrawan Dan “Kesederhanaan” Karyanya

by Senjakala Adirata

Bagi saya, Sastrawan adalah orang yang luar biasa; untuk mengatakan kata lain dari genius. Tata titih kariernya seakan tak terlalu dipusingkan dengan tata tangga akademis. Meskipun demikian, banyak dari mereka yang hidup menjadi akademisi sehingga hal tersebut menjadi sebuah kekaguman bagi pribadi saya. Banyak dari mereka menjadi orang yang tidak menjamah dunia formal akademis, tetapi menjadi akademisi.

Kritis, ekspresif, inovatif menjadi sebuah ciri yang khas. Apa adanya, memilih hidup sederhana, dan tidak menyukai ke-stagnan-an biasa menjadi citra mereka. Dinamis seakan menjadi hal yang dicari dalam dialektika hidup. Apalagi, jika sudah mulai merambah dalam bekerja, tak ada jam yang harus ditetapkan kapan waktunya. Kemanapun, dimanapun dan kapanpun mereka bekerja (berkarya).

Tapi kenapa banyak sastrawan terkenal dan kondang karyanya sedikit? Katanya tiap saat mereka bekerja? Karena karya sastra yang berkualitas sejatinya adalah karya yang menggunakan bahasa lebih sulit dipahami isinya jika hanya sekilas membacanya. Kumpulan catatan yang mereka rekam tiap hari dan tiap saat, dikumpulkan kemudian dirajut kembali dengan kata-kata pilihan serta diksi yang tepat. Hal itu tentu lumayan memakan waktu. Tapi, jangan tanya hasilnya!! Berbobot sekali!!!

Sering masyarakat awam menganggap bahwa kumpulan puisi dan sajak hanya kalimat penghibur belaka. Apalagi, setelah Pujangga Baru mendobrak kemapanan patokan bersastra terkhusus puisi. Puisi dibebaskan dari pakemnya. Alhasil, sebagian masyarakat menganggap membuat puisi adalah hal yang “mudah”. Masyarakat awam melihat dan membaca puisi-puisi sastrawan kontemporer atau Pujangga Baru, telah mendominasi per-karya sastra-an. Karya mereka adalah karya pembebasan. Pembebasan kata dari aturan-aturan baku yang telah dibuat oleh manusia layaknya bait, rima dan jumlah baris dalam bait. Tulisan mereka yang bebas dari pakem itulah yang mempengaruhi pola pikir masyarakat. Hal itu menyebabkan masyarakat yang tidak tahu prinsip berkarya, akan ikut berkarya dengan bebasnya pula. Seakan, form puisi adalah barisan beberapa kata dan teridiri dari sedikit kalimat saja serta dibangun dengan beberapa bait/paragraph saja. Padahal, dibalik “kesederhanaan” bentuk puisi itu, terdapat sebuah proses kontemplasi yang serius dan olah pikir yang dalam untuk memilih diksi yang tepat agar renyah didengar dan gurih saat dibaca.

Sebagai ciri khas lagi, karya-karya puisi itu memakai “bahasa tingkat kedua”. Tak jarang mungkin ada yang menggunakan bahasa lebih tinggi. Kata-katanya seakan memiliki jiwanya masing-masing sehingga ketika seorang membaca dan ada orang lain lagi yang membaca karya yang sama, interpretasinya berbeda seorang dengan orang yang lain. Inilah ciri lain dari karya sastra yang baik : multiinterpretable (multi-interpretasi) atau boleh dikata ambigu.

Hal lain lagi ialah pemilihan bahasa yang tidak langsung serta merta dapat dipahami dalam sekali baca. Inilah yang saya kata bahasa tingkat kedua. Kata yang dicipta oleh para sastrawan yang baik bukanlah kata yang biasa digunakan sehari-hari. Kata sehari-hari adalah kata yang biasa dan langusung dapat kita cerna dalam sekali baca atau sekali dengar. Namun puisi yang baik adalah puisi yang mengajak pembaca serta pendengarnya berpikir, karena prinsip dasar berkarya adalah dulce (mendidik) et utile (dan menghibur).

sumber gambar andyfebrian.com