IBU

by Senjakala Adirata

Muis Side….

Suara jemari yang menari diatas keyboard itu masih terdengar ketika malam telah merangkak menuju pekatnya. Iringan Iwan Fals yang syahdu, terus saja mendendengkan “ibu” dari mulai setelah isya’ hingga kini. Sepertinya ia tak jenuh dan tak bosan mendengar alunan musik itu. Entah berapa huruf yang telah ia ketik dan berapa kalimat yang telah ia sulam.
Sebagai mahasiswa pindahan, aku tak begitu kenal dengannya. Hanya saja, teman-teman di kos-kosan banyak yang bercerita tentang kecerdasan dan keluguannya. Pun aku tak begitu akrab. Orangnya cenderung pendiam, tapi tidak tertutup. Sering ku lihat sesungging senyum ketika pagi hari ia akan mandi dan melewatiku yang sedang membersihkan kamar kos. Aku pun kemudian akan membalas senyumnya.

Rasa penasaran terus memukul diriku. Rasa itu mendorong, mengajak dan menghasut diriku. Akhirnya, tengah malam lewat satu jam sambil membawa buku Postrealitas, ku beranikan diriku mengetuk pintu kamar kosnya. Tak lama, suara jemari yang mengetik itu berhenti lalu dengan pelan cahaya didalam kamar menerobos keluar menerangi wajahku.

“Boleh saya masuk Bang?” tanyaku pelan. Ia tak menjawab, hanya tersenyum kemudian mengangguk dan membuka pintunya lebar, sebagai tanda mempersilahkan aku untuk masuk.

“Belum tidur?” tanyanya sambil berjalan menuju meja belajar yang diatasnya sebuah laptop masih menyanyi lagu “ibu”. “Nggak bisa tidur, jadi saya kesini untuk nemenin Abang begadang” kataku sembari mengambil tempat duduk.
“Kamu rajin juga rupanya. Tak biasa penghuni kos-kosan sini membaca hingga larut” katanya tanpa memandangku. Wajahnya terus menghadap layar laptopnya yang menyala terang. Aku hanya tersenyum malu. “Ngetik apa sih bang? Tugas ya?” tanyaku memberanikan diri. “Iya, ini sudah hampir selesai. Nanti saya langsung mengantarnya ke meja redaksi” jawabnya pelan. “O” balasku pendek. “Abang wartawan to?” sambungku. Dia membalasku dengan senyum. “Paruh waktu, kasihan Ibu masih harus biayai adik-adikku. Jadi aku harus cari-cari untuk tambah biaya kuliah”
**********
Setengah jam sudah, aku di dalam kamar ini. Bang Agus pun sudah selesai mengetik, ia kelihatannya akan segera pergi. “Sudah, kamu tidur di sini saja. Kamarmu biar saja kosong. Saya cuma sebentar, nanti kita ngobrol kalau saya pulang” katanya sambil menyamber jaket di gantungan pakaian. “Tapi…” suaraku dipotong “Sudah… tak apa-apa. Saya tahu kamu butuh teman diskusi dan penghuni kos-kosan disini tidak ada yang sepemikiran dengan kamu” katanya sambil senyum. Ah, rupanya selama ini dia memperhatikanku, kataku dalam hati. Saya kemudian membalas senyumnya. Ia segera bergegas, tak selang lama terdengar suara sepeda motor dari luar, lalu suara itu menghilang di telan jarak.

Ku rebahkan diriku sambil melihat dinding-dinding kamar. Aku melihat bendera HMI terpampang berdampingan dengan bendera Merah Putih. Aku tersenyum, sambil berdecak kagum karena diantara keduanya terdapat sebuah kertas karton putih lumayan besar bertuliskan “jadilah terang bukan di tempat yang terang, jadilah harapan bukan pengharap” .
**********
Hingga jam tiga aku menunggu Bang Agus, tapi tak kunjung pulang. Aku kemudian tertidur di kamarnya. Pagi ini aku bergegas ke kampus, ikut kuliah jam pertama. Sampai di kampus, dosen sudah masuk ruangan.

Aku terlambat. Aku tak konsentrasi ketika mengikuti kuliah, pikiranku melayang dan bertanya-tanya “Kok Bang Agus belum pulang?”.

Sehabis kuliah, aku menuju perpustakaan. Masuk lalu mengambil koran baru. Ku baca dengan santai sambil duduk di kursi. Tiba-tiba …“Kayak orang penting saja pagi-pagi baca Koran!!” suara Anis mengagetkanku. “Eh, Nis. Cari apa?” tanyaku. “Cari kamu….” Jawabnya sambil senyum kecil lalu berjalan menuju barisan rak buku. Anis kembali lagi dan berdiri dibelakangku sambil membawa sebuah buku. Aku mendongak, dia ter senyum. “Ikut baca” katanya.

Aku terus membuka-buka mencari berita penting hingga halaman pungkasan. Anis meletakkan tangan kanannya di bahu kananku. Hatiku terhenyak, tubuhku seakan teraliri listrik ribuan volt, mataku melotot tak berkedip. Lalu aku bangkit dengan seketika sehingga mengagetkan Anis, kemudian berlari kecil keluar tanpa menghiraukan Anis.

Aku terus berlari menuju tempat parkir, menyalakan motor dan bergegas menuju tempat kos. Di perjalanan, pepohon, mobil, motor, pedagang kaki lima dan garis marka mewarnai pandanganku. Namun mata ini berair. Mengalir. Bahkan hingga sesenggukan dan kedua pipiku basah kuyup.

Tidak mungkin, kataku dalam hati. Bang Agus masih sehat tadi malam. Bahkan dia janji akan berdiskusi dengan ku.
**********
Anis side..
Aku heran sekaligus kaget melihat tingkah Muis. Ada apa sih anak itu, kataku dalam hati. Kok tiba-tiba langsung ngeloyor begitu saja. Rasa penasaran tiba-tiba menhentak, kemudian menyuruhku mengambil koran yang tergeletak di meja. Bagian pojok bawah kelihatan kusut benar seperti bekas diremas. Ku amati dan kubaca “Keluarga Besar Koran ******* Turut berbela sungkawa atas meninggalnya wartawan kami, Agus Mardianto. Semoga amal ibadahnya diterima disisi Tuhan Yang Maha Kuasa”

Lalu ponsel Anis berdering……

“Ibuku sayang, masih terus berjalan. Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah”

gambar :syafii.blogdetik.com