Entahlah…..

by Senjakala Adirata



Memang hujan belum akan turun, namun mendung seakan meringis karena berat menahan embun air yang kian lama kian berkumpul dalam pelukannya. Seketika, kilat menjilat ruang antara langit dan bumi, guntur menggelegar dan angin yang kencang menerpa mendung, hingga gumpalan-gumpalan air yang ia tahan jatuh berentetan dengan cepat melebihi pelor yang keluar dari senapan mesin. Selanjutnya, bumi tersenyum lega karena seharian di siram panas oleh mentari. Air yang turun menusuk kulit-kulit bumi membuat debu pada permukaan tanah berterbangan, membawa harum yang khas, membuat para perantau ingat akan tanah kelahirannya saat mencium bau tanah itu.

Sungguh begitu lebatnya, hingga selokan meluap, karena daya resap tanah di kota ini telah ditutup oleh marmer, keramik dan beton. Jalanan mulai tergenang, dan para pengendara kuda besi mulai menggosok-gosokan tangannya supaya hangat di bawah naungan halte ataupun emperan toko yang bisa digunakan untuk berteduh. Lelaki setengah baya, yang sedari gerimis telah berteduh di emperan toko, duduk memeluk kedua lutut, dengan jaket usang dan sebuah tas lusuh. Para pejalan yang butuh tempat teduh baik dengan atau tanpa motor, banyak juga yang mampir. Mereka ada yang berdiri di samping lelaki itu, ada pula asyik bercengkerama. Pun jua ada lelaki hidung belang yang coba-coba berkenalan dengan beberapa perempuan berpakaian seragam seperti pegawai bank swasta. Namun seketika, perkumpulan yang berkumpul tanpa komando dan janji di bawah emperan toko tersebut kian minggir dan memojok saat seorang lelaki berambut ikal panjang datang dengan muka tertunduk dan memegang sebilah golok. Goloknya mengkilap tersiram air hujan dan cahaya lampu mercury. Tapi, pada bagian dadanya, seperti tercat warna merah basah yang agak anyir baunya. Semua orang menyingkir, bahkan banyak yang nekat hujan-hujanan dengan sepeda motor mereka, mencari tempat teduh lain. Lelaki pembawa golok tersebut kemudian berdiri, diam dan menegakkan kepala menatap beberapa para pencari teduh. Akhirnya mereka tak tahan juga di tatap oleh lelaki pembawa golok yang dadanya berlumur cairan merah anyir itu. Mereka kabur mencari tempat teduh yang lain.

Lelaki setengah baya yang sedari tadi duduk, tetap saja duduk. Kini ia menghisap rokok dengan santainya. Tak urus dengan orang-orang yang pergi, tak bingung dengan lelaki pembawa golok yang dadanya berlumuran cairan merah anyir. Lelaki pembawa golok itu melihat lelaki yang dari tadi duduk dan acuh. Menatap agak lama dan akhirnya mengambil tempat duduk disampingnya. “Saya andi, saya bingung kenapa semua orang menjauhi saya” lelaki dengan tas usang tetap saja menghisap rokok dengan santainya sambil menatap hujan yang kian melemah dengan tatapan nanar. “Teman-temanku, mereka menjauh setelah tahu kalau ayah saya bangkrut dan saya tak ada lagi jatah kartu kredit, kekasih saya kabur juga karena saya tak lagi mengendarai mobil sendiri tetapi naik angkot” lelaki yang dari tadi merokok dan membawa tas usang mengambil handphonenya di saku.”Dan dari tadi, saat saya keluar dari tempat kos kekasih saya, semua orang yang ku temui menjauh dari saya bahkan juga lari”. Lelaki yang dari tadi menghisap rokok dan membawa tas usang itu kemudian membaca sms dengan lirih “Hari Rabu besok diharap agar berangkat ke Pabrik, bapak lulus seleksi dan diterima sebagai cleaning service”.. seketika lelaki tadi membuang rokok yang ia hisap, dan berdiri sambil berjingkrak, “Yesssss….!!!!” Ia kemudian jongkok dan memegang kepala lelaki pembawa golok dengan kedua tangan, ia kecup dahinya dalam-dalam lalu ia berlari menyusur trotoar, entah mau kemana. Si lelaki pembawa golok hanya menatapnya heran dengan bibir yang membentuk huruf O. Menatap hingga lelaki yang tadi berlari lenyap ditelan tikungan. Kini ia sendiri, lalu menghela nafas panjang, “terimakasih” bisiknya sambil sedikit tersenyum. Ia meraih rokok dan korek yang ditinggal oleh lelaki setengah baya yang lari tadi, lalu mengambil sebatang dan menyalakannya. Ia menghisap dalam-dalam menikmati. Belum setengah batang habis terisap, sirene meraung dan dua buah mobil polisi segera parkir di depan toko dimana lelaki pembawa golok duduk.. “Andi, mohon menyerahkan diri dan tidak melawan agar tidak memberatkan hukuman anda, diharap angkat tangan, letakkan senjata anda dan berjalan menuju mobil polisi” Andi mantap mereka sejenak, tersenyum, berdiri dengan pelan, melihat lagi empat orang polisi sembunyi di balik pintu mobil mereka yang terbuka sambil bersiap dengan pistol masing-masing. “Apa urusan kalian denganku yang telah membunuh kekasihku dan selingkuhannya yang sedang tidur bersama..???!!! Dasar kalian terlalu ikut campur urusan orang.!!!! Kalian Brengsek!!!!” teriaknya sambil melempar golok ke arah salah satu polisi selanjutnya dengan cepat mencabut pistol di balik kaosnya yang telah berwarna merah berbau anyir. Polisi itu merunduk berlindung di balik pintu mobil sehingga golok menabrak kaca jendela dan pecah, sedang yang lain menarik dengan sigap pelatuk pistol mereka. “dor…dor…dor..!!!” Andi rubuh, tengkurap, bercucuran darah dengan nafas yang tersenggal-senggal. Dengan bibir yang tersenyum, merangkak sambil mencoba meraih pistolnya yang terjatuh beberapa senti di depannya. Ia bangkit lagi dengan susah payah dengan pistolnya dan “dor…..dor…dor…!!!”. Ia ambruk lagi, menatap polisi dengan bibir masih tersenyum dan lama-lama pandangannya gelap.