Cempaka Tiga

by Senjakala Adirata

RSUD Salatiga, Jawa Tengah, akhir November 2009

Tengah malam lewat sejam, derap pasukan angin malam tak kenal ruang, menghembus dan menghunjam pada tiap senti kulit hingga menembus tiap jengkal tulang. Hawa ini, belum berubah semenjak kaki hengkang empat tahun silam. Dingin masih tetap menyeruak dan memeluk tanpa pandang orang. Hanya saja, sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikiran, bahwa aku ‘kan menyusuri lorong putih ini diatas kursi roda hitam.


Sehari sebelumnya…

“Pulang ke Jawa Mas?” tanyanya lagi. Seakan kalimat itu mencoba meyakinkan diriku untuk tetap di sini, di tanah rempah-rempah ini. Aku mengangguk pelan sambil menatapnya dalam-dalam. Kulihat matanya, berselaput air yang coba ia bending. Ia usap matanya dengan tangan kanan lalu bangkit sampil tersenyum melihatku “cepat sembuh ya, nanti balik lagi kesini” katanya lirih. Aku berdiri, ia merapat, kami berpelukan.

*******

Dari dalam burung besi ini, ku tatap bandara Baabullah yang berada di Pulau Ternate. Kian lama kian terhalang awan pandanganku. Dan dia, kian tak terlihat, hanya ingatanku saja yang melayang menghampirinya, menggandeng tangannya.

Pertengahan Desember 2009

Badanku terasa dingin dan lemas. Dua minggu terbaring di ruang cempaka ini, begitu membosankan rasanya. Tadi siang darahku dicuci. Sudah ke empat kalinya dalam seminggu ini. Ku lirik ibuku, mematung disebelah ranjang didampingi ayah yang mengawalku dari Ternate hingga di dalam ruang cempaka tiga ini. Ku gerakkan tanganku pelan, menyentuh tangan ayah, lalu kulanjutkan dengan pelan mengelus pipi ibuku. Kurasakan guritan menandakan ia telah tua. Ibu meraih tanganku dan menggenggam serta menempelkan ke pipinya. Aku tersenyum. Ku tarik tanganku pelan, ku raih buku diatas perutku dank u taruh di sampingku. Ku ambil pena yang terselip di dalamnya lalu aku mulai menulis. Aku tak bisa melihat tulisanku karena pandanganku tak bisa menjangkaunya. Tapi tetap ku tulis, meskipun terasa begitu berat tangan ini bergerak. Perlahan, dingin menyusup ujung kakiku dan merambat ke paha, pinggul, perut, dada lalu merayap ke kedua tanganku. Pena terjatuh ke lantai, menggelinding di bawah ranjang pesakitan. Dan dingin terus merayap hingga leher dan kemudian kepala. Ku lihat, ruangan membiru, lalu biru tua, lalu hitam, kelam pekat dan begitu kelam dan pekat. Ku dengar ibuku menangis, sayup-sayup, dan ayahku berteriak, “dokter….dokter…dokter!!!suster…..suster…!!!”

gambar dari hanggoro.wordpress.com