Enigma Kematian Seorang Remaja

by Senjakala Adirata

“Bu, mau ambil Nina dulu”
“Iya.”
Tak lama kemudian motor berjalan dengan lumayan laju. Tujuan ke Kampung T, tempat dimana seorang gadis yang dipacarinya dijemput dari pulang kerja.. Biasa begitu, ia selalu menjemputnya. Sebenarnya tempat bekerja Nina di kota K, tetapi untuk pulang ke kampungnya harus oper angkutan di kampung T. Karena sudah punya kekasih dan sang kekasih juga mohon agar dia saja yang menujemput, akhirnya terjadilah kebiasaan menjemput. Dwi setyono, lelaki itu. Berangkat selesai adzan isya’. Lumayan laju, dan tinggal 2 kilometer sampai di kampung T, ia menyerempet pedagang siomay dengan motor di kampung D. Orang2 habis tarawih dan langsung mengerubung. Ada yang mengenal lelaki itu yang selanjutnya orang2 menghubungi keluarga Dwi untuk bertanggung jawab. Singkat cerita keluarga Dwi sudah mengobati luka orang yang diserempet anaknya, pun tidak parah. Lalu sang ibu berkata “ Sekarang saya sudah tanggung jawab, terus anak saya mana?”

***********

“Nin, Dwi itu tabrakan di D. Kamu naik angkot saja” kata Anton, teman Nina yang juga kenal sama Dwi. Anton juga ingin menjemput kekasihnya. Sontak Nina langsung naik angkot dan malaju menuju rumah Dwi. Sampai di rumah Dwi, Nihil. Dwi tak ada di rumah. Bapak ibunya Dwi menuju D. Orang2 di D bilang “anak ibu mungkin saking takutnya karena banyak orang yang datang, terus kabur”. Yah, kabur karena nyatanya Dwi tak ada di tempat. Hanya motornya saja yang berarti Dwi “kabur” tanpa motor. Pencarian hingga kebun2 di D. Hasilnyapun Nihil hingga hujan lebat datang. Pencarian di tunda dan esok dilanjutkan.

**********

Sehabis shalat subuh, keluarga mencari Dwi. Alhasil setelah berjam-jam mencari, pada jam 9 pagi Dwi ketemu dengan keadaan tengkurap tak bernyawa di kebun kopi. Terdapat lebam di kedua pipi. Kepala bagian atasnya “dekok” tapi tak bocor atau pecah. Tak ada lecet di kedua pipi. Hanya lebam seperti terkena benda tumpul. Pada tubuhnya tak ada cipratan darah sama sekali. Sang ibu menangis tidak karuan, Dwi berumur empat tahun lebih muda dari saya (krupukcair) yakni berusia 18 tahun. Lepas lebaran, keluarga Dwi sudah sepakat akan melamar Nina. Begitupun Nina, tangis tak tertahankan setelah melihat Dwi di rumahnya tanpa nyawa dan sudah terbujur lemas.
“sudah Bu, jangan menangis terus” kata ayah Dwi kepada Ibu Dwi. “kalo memang ada yang menanam, pasti akan memanen” lanjut ayah Dwi.

klik gambar agar lebih jelas

cerita ini dituturkan oleh Ibu Dwi kepada kakak saya. Kakak saya adalah seorang pekerja Bank dan Ibu Dwi adalah salah satu nasabahnya.