Hujan Kali Ini…………..

by Senjakala Adirata


Hujan ini mengingatkanku pada malam tanpa Rembulan, saat ia berbisik pada telingaku di bawah rintik air yang turun dari langit pada sebuah teras Halte. Setelah berbisik, ia berjalan dengan motornya di bawah dingin hujan. Dan aku tersenyum melihatnya, tersenyum karena bisikannya.

Hujan kali ini memang tanpa Rembulan, dan rintik hujan membasah pada dedaun dan bebunga Kenanga di halaman rumahku. Kepalaku melongok di jendela, menatap malam dengan hitamnya dengan tatapan kosong. Mengaduh tanpa suara, mengeluh dengan berjuta rasa, melenguh dengan segala prahara.

Seperti sebuah penantian seorang putri, mengharap seorang pahlawan dengan baju kebanggaan menaiki kuda putihnya dan menjemput sang putri, seperti itu pula aku sekarang.

Hujan kali ini, hujan penuh rindu, hujan penuh harap, hujan penuh malapetaka. Dengan bebaris janur kuning di pintu rumahku dan gemerlap lampu dengan berbagai dekorasi, aku meratapi diri dalam kamar, melongok melalui jendela, menelantarkan tamu-tamu.

Engkau yang berbisik ditelingaku, bukan seorang yang disandingku malam ini. Engkau yang berbisik ditelingaku, adalah orang yang dihardik orang tuaku karena motor bututmu saat melamarku dulu. Engkau yang kuberikan senyum saat hujan tanpa Rembulan, adalah orang yang ku nantikan. Tapi, dalam cerita kita, cinta tak punya jiwa. Ia tak bisa memilih dan tak pernah dibiarkan memilih. Namun, cintaku tetap memilihmu sebagai pangeranku.

Hujan kali ini, aku ingin berbisik sesuatu padamu. Maka, ku ambil selendang biru, ku kaitkan pada batang plafon yang plafonnya sudah agak rusak dan ku ikatkan pada leher jenjangku. Ku tendang kursi pijakanku lalu aku terbang dengan cintaku padamu sambil berbisik seperti bisikmu dahulu, “aku cinta kamu”, dan ……………………………..

tulisan ini diikutsertakan dalam Agustus di Ceritaeka