Panggilan

by Senjakala Adirata

Suara itu lagi. Dia terdengar meraung memenuhi pelosok kota. Seluruh sudut-sudut dijejalinya.  Karena sumbernya memang banyak. Bagi mereka mungkin hal itu biasa, tapi bagiku suara itu sudah tak biasa lagi seperti biasanya.

Meraung, serak, seperti mengabarkan kesedihan tak terkira. Andaikan aku memiliki alat pengurai suara seperti tokoh Otto dalam cerpennya Danarto, mungkin suara-suara itu bisa diuraikan dan semua orang bisa tahu apa sebenarnya yang disampaikan dibalik suara itu. Kesedihan, rasa haru, putus asa, semangat dan entah apa lagi. Tapi aku tetap duduk. Diam di atas bastion sudut tembok kuno ini. Menunggu seorang yang tak kuberitahu bahwa aku menunggunya.

“Tit….tit….tit…” Handphone ku berbunyi. Segera Aku bangun masih dengan mata sayup-sayup. “Pagi buta begini siapa yang sudah sms” kataku dalam hati. Kuraih handphone yang tergeletak dimeja dekat tempat tidurku lalu ku baca “ikuti suara itu. Sebentar lagi aku akan membawa nyawamu!”. “gila..!” spontan kata itu terucap dari mulutku, seketika mataku terbelalak dan hampir melompat dari tempat tidur. “Memangnya dia Izrail, malaikat yang tugasnya cabut nyawa?!” gumamku. Aku periksa lebih teliti untuk mengetahui siapa yang mengirim sms tersebut. Pikiranku sudah berjalan selangkah dengan menebak, pasti temanku yang bernama Opik. Dialah yang paling suka ngerjain lewat sms. Lalu ku tekan tuts arah bawah yang terdapat pada handphone “Sender: Izrail”. “hah…! Masa sih!” mulutku berucap setelah membaca tulisan yang ada pada handphone. Kucoba memastikan lagi dan ku pencet tutsnya lagi, tapi tulisannya tetap “Sender: Izrail”.

Aku lempar hp dan nyangkut di bantal. Hampir saja benda yang sering kupijit itu jatuh ke lantai. Kurebahkan kembali tubuhku di tempat tidur sembari berpikir. “apa mungkin Izrail memberi kabar dahulu sebelum Ia mencabut nyawa? Atau memang hanya ulah temanku yang suka iseng saja?.  Ah, yang pasti sms tersebut bukan dari Izrail, masa malaikat pake handphone segala sih! Berarti dia membocorkan rahasia Tuhan dong!. Ini pasti kerjaan si Opik” gumamku sendirian di kamar yang ramai oleh barang-barang yang tercecer berantakan. Aku berdiri kemudian menyambar kain sarung yang terlipat di atas meja belajarku. Ku ambil baju taqwa yang tergantung didinding lalu ku kenakan. Aku keluar dari tempat kostku dan melangkah menuju masjid bersama tiupan angin kemarau yang membuat tulangku nyeri kedinginan. Sudah lama aku tak berkunjung ke masjid untuk shalat, apalagi waktu subuh.

*****
Suara itu lagi. Dia terdengar meraung memenuhi pelosok kota. Seluruh sudut-sudut dijejalinya.  Karena sumbernya memang banyak. Bagi mereka mungkin hal itu biasa, tapi bagiku suara itu sudah tak lagi biasa seperti biasanya.

Aku segera bangkit dari tempat dudukku yang terletak di atas bastion paling ujung benteng yang dibangun Portugis beberapa abad silam. Ku tinggalkan Dia yang kutunggu dengan panggilan bisuku, namun Ia tak pernah datang karena memang aku memanggil dengan bahasa bisu. Apakah Dia mendengar panggilanku lewat lubang telinga yang tertutup kain jilbab itu atau lewat jendela hatinya, Aku tak tahu. Karena Aku juga tak bersuara, hanya saja Aku terus memanggilnya dan Dia terus saja tak pernah datang. Mentari telah akan bergeser jauh menuju senja. “Tit…tit…tit…!” Handphone ku berbunyi. Ku ambil dari tempat persembunyiannya, di lubang saku celanaku dan ku lihat. Satu buah pesan singkat masuk. Ku tekan tombolnya dan ku baca “ajak mereka sebelum ku cabut nyawa mereka semuanya! Sender: Izrail”. “Mustahil… benar-benar tak masuk di akal..!” gumamku. “ini iseng yang sudah keterlaluan!”.

Dengan pelan mentari merangkak ke peraduannya. Gelap mulai menyelimuti tanah rempah-rampah ini yang dulu menjadi rebutan para penjelajah sekaligus penjajah. Dingin mulai meracuni sendi-sendi tulangku. Kantuk mulai merasuk. Mataku mulai berat untuk tetap ‘melek’. Lalu gelap yang kulihat. Sejenak kemudian tiba-tiba seberkas cahaya muncul dan menyala diseluruh ruangan yang Ku tak tahu di mana utara dan selatan, timur ataupun barat. Begitu terangnya hingga tak sepenuhnya ku buka mataku. Begitu silau. Lalu sesosok makhluk cahaya keputih-putihan yang berukuran 300.000 kali lipat dari pesawat boeing 737-9000ER muncul di atasku dengan 62 sayap atau mungkin lebih, yang terbentang lebar hingga tak tahu di mana unjungnya. Ketakutan merasuk dalam diriku. Dengan gemetaran, bibir ku berucap “si…si..ss..sia..sia..pa..siapa k…kk…kka…kamu…?”. “Izrail” jawabnya singkat dan tegas. “mm…ma…mau a…a..apa…k..ka…kamu?” tanyaku masih dengan gemetaran. Rasa ingin tahuku mendorongku untuk berani bertanya. “Aku mau mencabut nyawamu!” jawabnya tegas tanpa senyum sembari lengannya yang kekar dan kokoh yang besarnya sama dengan 20.000 kali lipat tugu Monas. “A..a..aku..be..be..belum…mm…mau…m..ma…mati!!!!” teriakku meronta. Namun ia tak menghiraukan teriakanku. Dia menyeretku ke tempat yang sangat asing bagiku. Aku belum pernah melihat tempat seperti ini sebelumnya. Hanya cahaya. Lantai cahaya, langit cahaya, cakrawala cahaya, semuanya cahaya.

*****

Suara itu lagi. Dia terdengar meraung memenuhi pelosok kota. Seluruh sudut-sudut dijejalinya.  Karena sumbernya memang banyak. Bagi mereka mungkin hal itu biasa, tapi bagiku suara itu sudah tak lagi biasa seperti biasanya.

Temanku, Opik. Dia berteriak-teriak memanggilku sembari menggoyangkan tubuhku  seperti orang yang kesetanan. Kontan saja aku bangun dari tidurku. Tapi setelah aku bangun, Dia malah berlari keluar dari kamar kostku. Tak lama kemudian Yusri, Jufri, Syahdi dan semua temanku masuk ke kamar kostku dengan berlarian. Napas mereka tersenggal-senggal seperti di kejar oleh anjing.  Raut wajah mereka menyiratkan ada yang hilang, lalu dengan pelan tetes air mulai keluar dari bola-bola mata yang bening itu. Ku sapa mereka, namun mereka acuh. Aku semakin heran, ini semua pasti skenario mereka. Mereka memang teman-temanku yang paling pandai dalam berakting. Tiba-tiba orang tuaku masuk dengan wajah yang sedih dan pipi yang telah basah oleh lelehan air mata, yang ku kira, air mata itu keluar saat mereka berangkat dari ‘Pulau Panjang’. Aku tambah bingung, tapi bangga. Bingung kenapa sampai orang tuaku juga kebagian peran dalam skenario ini, bangga karena teman-temanku sanggup membuat cerita rekaan yang luar biasa, sekalipun di gunakan untuk ngerjain temannya. Tapi aku semakin heran, tangis mereka sepertinya nyata, tak di buat-buat. Mereka meraung dengan suara yang melengking seperti orang yang kehilangan saudara dekatnya. Tak luput juga orang tuaku. Tapi ayahku kelihatan agak tak pandai berakting. Air matanya hanya meleleh tanpa di iringi suara tangisan yang memilukan seperti lainnya. Aku hanya bengong sambil menatap mereka satu per satu. Luar biasa. Ini adalah kejutan yang sangat hebat. Aku memang kangen terhadap orang tuaku dan teman-temanku rupanya tahu sehingga membuat, mengatur dan memerankan sekaligus melakukannya dalam sebuah pentas yang tanpa panggung dengan cerita yang menurutku gila namun luar biasa.

Tapi aku tak melihat Dia yang selalu kutunggu di sudut bastion benteng yang di bangun oleh Portugis. Mungkin ini akan jadi cerita kejutan lagi. Apa yang sebenarnya teman-temanku rencanakan, aku tak tahu. Tapi yang pasti mereka tahu bahwa kami adalah pasangan yang paling romantis di kampus. Hanya saja, beberapa hari yang lalu kami bentrok lantaran hal sepele. Saya menyuruh dia, kalau keluar rumah agar memakai jilbab. Jadi memakai jilbab bukan hanya saat berangkat ke kampus saja. Kalau tidak meleset tebakanku, ini pasti juga settingan agar aku damai dengan Dia. Karena menurut temanku, hal seperti demikian adalah urusan perempuan yang tak perlu di ganggu-gugat. Karena setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya. “Ya, itu kan kalian!” jawabku saat kami terlibat perdebatan tentang kewajiban memakai jilbab bagi muslimah. “Tapi kita kan sudah di peringatkan, bahwa orang yang tidak rugi itu adalah orang yang saling menasehati dalam kebenaran!” jawabku. Tapi mereka tetap tidak sepakat. “Banyak ustadz yang kemudian melakukan dakwah dengan ceramah yang kemudian banyak ummat yang nge-fans dengan ustadz tersebut. Dengan begitu, si ustadz malah mengambil keuntungan karena si ustadz rupanya diam-diam adalah salah satu calon legislatif di negeri yang situasi politiknya tidak menentu ini”. Jawab mereka. Setelah ku pikir, benar juga apa yang mereka bilang. Tak ada lagi profil sebagai contoh.  Jadi aku juga tidak akan memaksa Dia untuk mengenakan jilbab. Mungkin ini rencana mereka untuk menyatukan kami kembali. Mereka semua tahu bahwa kami adalah pasangan yang paling setia.

Aku menoleh kebelakang, ke tempat bantal yang sebelumnya ku gunakan untuk mengganjal kepalaku saat tidur. Aku ingin ikuti saja apa yang mereka rencanakan. Tapi saat melihat kebelakang, aku heran, kenapa aku tertidur? “ah… iblis mana lagi yang menyerupai Aku ini?” kataku dalam hati. Sungguh teman-temanku benar-benar luar biasa. Mereka membuat kembaranku. Saat ku coba untuk meraih kepalanya, tembus!. “hah…kok tembus sih. Seperti film horror kacangan yang banyak di produksi oleh para produser yang sebenarnya hanya menambah ketakutan para remaja terhadap roh halus itu, yang malah membuat mental para remaja jadi mental tempe?” kataku. Tapi semua yang ada di sekelilingku cuek. Seperti tidak mendengar apa yang telah kukatakan dan keheranan yang sedari tadi menyelimuti benakku. Mereka asik dengan model tangisannya masing-masing.

Ayahku mendekat kepada Aku yang tertidur dan mengangkatnya. “Bapak…!” aku memanggilnya demikian. Tidak ayah atau papa. Aku tak mau seperti orang kota karena nyatanya aku memang dari desa. Jadi ya aku panggil beliau, Bapak. Tapi beliau tidak menghiraukanku. Aku tambah bingung. “Kenapa aku yang menjadi pemeran utama malah di cuekin begini..!” gumamku. Aku yang tadi tidur dan tak bergerak di angkat oleh bapakku kemudian di bawa ke tempat yang telah disediakan. Seperti untuk memandikan sesuatu. Rupanya Aku yang di gendong bapakku di mandikan lalu di kafani dan di letakkan di meja dengan kapas di lubang telinga dan hidung. Aku duduk dan merenung. “Apakah memang semua ini adalah rencana yang di buat temanku atau rencana yang di buat oleh Tuhanku?. Kalau ini rencana dari temanku, berarti mereka sudah keterlaluan. Tapi kalau ini rencana dari Tuhanku….??” Aku menatap tubuhku sendiri di tengah hiruk pikuk orang yang keluar masuk melihat Aku yang tertidur di bungkus kain putih. Transparan. Saat kulihat tubuhku, aku melihat syahdi yang sedang mengalunkan ayat suci. “berarti Aku…….??.. Tidaaa……aaa…aakkk!!!”  teriakku. Aku berlari sekuat tenaga tanpa menghiraukan siapa yang di depanku. Aku tabrak saja mereka semua lalu aku berlari terus ke depan sampai menembus tembok dan aku terdiam. Aku berbalik kebelakang. “tembus semua….” Kataku. Dengan pelan, air mataku menetes. Aku berteriak-teriak dan menangis meronta sampai tenggorokanku kering. “aku tak mau mati…” mulutku berucap lirih. Kulihat mereka membawa Aku yang ternyata adalah jasadku dalam sebuah keranda dan memanggulnya menuju tanah kuburan. Mereka berjalan sambil membaca shalawat yang menurutku Rosul tidak pernah mengajarkannya. Setelah sampai ke lokasi kuburan, mereka dengan pelan memasukkan jasadku kemudian menimbunnya.

Dia datang. Berlari. Aku menghadangnya, tapi tembus. Seketika dia membantingkan tubuhnya lalu duduk di atas tanah yang berwarna merah dan masih basah itu. Dia menangis. Aku katakan padanya untuk tidak menangis. Tapi dia malah semakin meraung. Memeluk gundukan tanah yang kelihatan masih baru itu. “apakah itu benar pesanmu yang terakhir?. aku tidak menyangka apa yang kau bilang benar terjadi. Aku sudah bilang, jangan kau tantang Tuhan untuk mengirimkan Izrail. Sekarang kau lihat sendiri akibatnya. Aku akan ikuti suara itu. Akan ku laksanakan pesanmu. Aku janji”. Katanya sembari menangis. Aku hanya menggelengkan kepala.

Suara itu lagi. Dia terdengar meraung memenuhi pelosok kota. Seluruh sudut-sudut dijejalinya.  Karena sumbernya memang banyak. Bagi mereka mungkin itu hal yang biasa, tapi bagiku suara itu sudah lagi tak biasa seperti biasanya. Meraung dari tiap puncak menara yang menjulang ke langit.

Ku sambut Masehi, sekalipun bukan tahunku—met tahun baru. Ini suara bisu. Kuharap ada yang mendengarnya. Aku masih menunggumu.
1 Januari 2009