Sepatu dan Sandal Jepit

by Senjakala Adirata

45 tahun yang lalu lahir seorang bayi laki-laki bernama Karman. 30 menit kemudian, Karmin pun lahir menyusul. Yah, orang mengatakan mereka kembar. Bahkan banyak orang yang keliru ketika memanggil keduanya, sering terbalik. Karman dipanggil Karmin dan begitupun sebaliknya.

Namun saya begitu heran, setelah mereka berdua berkeluarga dan mempunyai anak, kok panggilan mereka berbeda. Karman di panggil Pak Karman dan Karmin dipanggil Kang Karmin.

Pak Karman terhitung orang yang sukses. Setiap pagi setelah sarapan, dengan jas klimis dan sepatu pantofel ia keluar rumah. Segera seseorang membukakan pintu mobil lalu Pak Karman masuk kedalam mobil. Orang tersebut kemudian mengantar Pak Karman menuju sebuah gedung berlantai lima. Saat beliau masuk, semua orang menyapa sambil mengangguk dengan ornamen senyum. Ketika ia sudah sampai pada ruangannya, seseorang yang berbeda datang dengan membawa minuman favorit beliau. Setelah sore hari, seseorang yang mengantarnya tadi pagi kembali menjemputnya dan mengantarkan ke rumahnya.

Kang karmin adalah orang yang rajin. Setiap pagi ia berangkat ke sawah dengan kaos lusuh dan celana panjang yang berwarna hitam namun sekarnag sudah menjadi coklat karena belepotan dengan tanah. Tak lupa ia membawa alatnya yakni cangkul yang ia sampirkan di atas bahunya serta mengenakan sandal jepit.

Mereka berdua sama-sama orang yang giat bekerja, namun tempatnya saja yang berbeda. Pak karman bekerja di tempat yang bersih dan berpendingin udara, Kang Karmin bekerja di tempat yang becek dan di bawah terik matahari langsung. Mereka sama-sama orang yang baik, Pak Karman suka memberi dan begitupun kang Karmin juga suka sedekah. Saat hari haya Idul Fitri, mereka berdua juga sama-sama shalat Id. Mereka rukuk dan sujud juga sama. Saat “sowan” kepada orang tuanya yang sudah “sepuh” pun mereka berdua juga sama-sama menangis. Derasnya air mata Kang Karmin juga sama dengan derasnya air mata Pak Karman. Tapi, itu tadi, hal yang mengganjal dalam hati saya. Kenapa Karman di panggil Pak Karman dan Karmin dipanggil Kang Karmin.

Mungkin tradisi membedakan pekerjaan itulah yang membedakan mereka dan berujung pula pada pembedaan cara memanggil. Bagi saya jika demikian adanya, tak apalah. Kebiasaan orang yang bekerja di perkantoran, apa lagi sudah duduk pada jabatan yang tinggi, biasanya di panggil Pak atau malah Bos. Dan orang yang bekerja di kebun atau sawah, biasanya mereka dipanggil Kang. Ya, sekali lagi bagi saya, jika itu adalah tradisi yang lumrah tak apa-apa. Tapi jika cara penyebutan Pak dan Kang karena membedakan status pekerjaan mulia dan tidak mulia, alangkah celakanya. Menilai orang dari tempat dimana bekerja dan menganggap kantor adalah pekerjaan mulia sehingga harus dipanggil Pak dan sawah adalah pekerjaan yang tidak mulia sehingga mesti di panggil Kang.