Mengemas Kesalehan

by Senjakala Adirata

Seiring dengan hampir larutnya hari-hari bulan Sya’ban, umat muslim akan bersiap-siap untuk menyambut bulan yang konon penuh hikmah dan ampunan, yakni bulan Ramdhan. Bulan Ramadhan yang katanya penuh dengan kesempatan luarbiasa tersebut, sudah menjadi hal yang wajib bagi umat muslim untuk melewatinya dengan beberapa syari’at yang wajib di jalankan yaitu puasa dan zakat serta beberapa lainnya. Dan karena Ramadhan adalah hal yang tak bisa dilewatkan karena terdapat syari’at wajib yang mesti di jalankan, akhirnya ia menjadi sebuah tradisi yang mengakar dalam budaya Islam. Pada bulan ini, berkah memang benar-benar melimpah. Dari berkah ruhani hingga jasadi. Kesempatan ini pun tak mau dilewatkan oleh berbagai produsen dari fashion, makanan, hingga vendor2 telekomunikasi.

Bersiap diri menyambut ramadhan adalah hal yang lumrah dan malahan wajib bagi umat muslim. Itu karena agar ramadhan biasa dilalui dengan lancar. Namun, ada hal yang sepertinya mulai tergerus. Seakan terjadi desakralisasi spiritualitas. Mungkinkah di zaman kini dimana modern menjadi postmodern dan spiritualitas menjadi post spiritualitas berujung pada sebuah kesimpulan yakni terjadinya pendangkalan makna?

Bagi para akademisi pasti tahu betul dengan seminar dan lokakarya. Acara tersebut tak jarang memberikan “SERTIFIKAT” setelah selesai mengikutinya. Tapi tahukah dari sebagian besar peserta, hanya bertujuan mendapatkan SERTIFIKAT belaka? Dan, tahukah dari sekian juta siswa dan mahasiswa yang belajar pada instansi pendidikan juga melakukan hal yang serupa yakni hanya bertujuan untuk mendapatkan IJAZAH belaka?!!. Yah, formalisme telah begitu menggejala dan sangat sulit untuk di arahkan apalagi di tumpas, seperti korupsi di negeri ini yang sepertinya tak akan kunjung dapat jalan keluarnya.

Postmodernisme telah terjadi dan didalamnya rupanya terdapat sebuah prahara besar. Benarkah postmodernisme ini adalah sebuah zaman dimana manusia menggali lubang kuburnya sendiri? Kenapa pertanyaan tersebut muncul? Jawabannya adalah, manusia sekarang kian asing dengan dirinya sendiri. Manusia menjadi makhluk alien bagi dirinya. Seakan manusia postmodernisme adalah manusia yang seperti mayat hidup. Tak memiliki jiwa. Hal ini juga tak bisa dipungkiri telah merasuk pada diri umat muslim. Bayangkan, ke-eksis-an seakan hanya ada dalam ke-popularitas-an. Tak popular berarti tak eksis!!! Padahal nabi bernah bersabda bahwa yang intinya jadilah orang asing di atas muka bumi ini!!!. Menjadi orang asing bagi orang lain tetapi tak asing bagi diri sendiri alias mengetahui jati dirinya.

Manusia kehilangan jati diri. Dan manusia kini seakan menjadi biru pada kemarin, putih pada hari ini dan hitam pada hari esok. Semua berjalan tak terarah dan tanpa tujuan. Terjadi pendangkalan makna dalam setiap lini hidup. Ironisnya terjadi juga dalam spiritualitas. Pakaian takwa yang dikenakan oleh para ustadz yang ‘nampang’ di media seakan menjadi petanda bahwa itu adalah sesuatu hal yang wajib di contoh. Yah, itu memang wajib di contoh, tetapi jika itu hanya terjadi pada bulan tertentu? Dan setelahnya kembali pada semula bagaimana? Dan itulah yang terjadi kini👿 . Sedekah seakan-akan begitu hebat jika di ekspose oleh media. Kebaikan seperti lebih hebat jika diketahui oleh banyak orang.

Kita mengemas kesalehan dalam berbagai bentuk dan cashing. Tapi, dalam jiwa kita yang dalam tak sedikitpun terdapat sebuah pakem yang menggelayut apa sebenarnya yang telah kita lakukan?! Seakan kita “melu grubyuk neng ora reti rembug” (ikut-ikutan dan tanpa tahu makna didalamnya).

Semoga kita sadar dan semakin tahu akan diri kita.