Cahaya Jiwa

by Senjakala Adirata

Jalan rupanya masih jauh, dan kelip bintang hanya terlihat bagai titik di seberang lautan. Dingin tak terasa dan hanya semilir angin yang selalu membelai uraian rambut. Sungguh malam ini memang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Gemerlap bintang tak muncul dan arak-arakan awan juga tak kelihatan. Hanya hitamnya malam dan setitik cahaya yang muncul dari satu bintang saja yang terlihat.

“Kapan kita sampai?”
“Sebentar lagi kita akan sampai. Lihatlah! Cahaya itu sudah semakin dekat” terdengar suara itu menjawab pertanyaan. “Kau kedinginan?” sambungnya.
“Tidak” balas menjawab.

Namun sayap yang besarnya tak pernah mampu diukur itu memeluknya dengan lembut. Dengan penuh rasa kasih sayang. Seperti sebuah tangan yang memungut seekor semut yang tercebur kedalam gelas berisi air, pria kecil itu dipeluknya dengan sayap yang besar itu.

“Kenapa kau dari tadi diam saja?” Tanya yang memeluknya.
“Langit kenapa jadi hitam dan di bawah sana malah seperti langit yang gemerlapan?” dia balik bertanya.
“Aku tidak tahu mengapa. Aku hanya di titahkan oleh Majikanku untuk menjemputmu dan mengantarkanmu ke bintang itu” jawabnya.
“Majikan? Majikan siapa?” tanyanya sembari melihat wajah makhluk bersayap itu. Wajahnya putih seperti kertas.
“Siapa yang mengajarimu membawa alat itu?” makhluk itu balas bertanya dan tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pria kecil lugu itu.

“Ayah. Ayah selalu menyuruhku memeluknya ketika malam dan ketika siang, aku harus meminggulnya. Kalau mobil-mobil baja itu datang, aku harus mengarahkan tepat ke mobil itu dan memencet tombolnya. Lalu ayah akan mengisi lagi alat itu dengan isi yang baru” katanya polos menjelaskan.

“Kenapa kau menuruti kata ayahmu?”
“Ayah selalu mengajariku segala hal. Termasuk juga membaca sebuah buku kecil yang selalu ayah bawa di sakunya. Ayah sudah menghafal seluruhnya. Tapi aku hanya bisa menghafal yang paling depan saja. Cuma itu yang saya tahu” jawabnya.
“Kau tahu apa guna alat yang sering kau panggul itu?”
“He..eh” katanya sambil mengangguk.
“Apa gunanya?”

“Untuk menghalang para serdadu itu memasuki kawasan kami. Kalau mereka bisa masuk, nanti kami tidak punya rumah dan dibunuh”
“Kenapa kau tak membiarkan mereka agar kau tak kesulitan membawa kesana-kemari alat yang berat itu?”

“Ayah bilang, kalau seperti itu namanya menyerah. Mengangkat senjata itu perintah dari yang memiliki Cinta karena saudara jauh tak mau menolong dan sibuk dengan urusannya sendiri. Barangsiapa yang ikut perintah itu, maka hidupnya akan ditaburi dengan cinta”
Dan makhluk itu pun wajahnya semakin pucat kertas. Matanya berkaca-kaca. Uraian air itu keluar dengan pelan dan beterbangan. Diam. Dan matanya yang bicara. Bicara dengan tangisnya. Membawa seorang anak kecil yang terobek dadanya akibat hantaman roket dari pesawat. Mengantarnya ketempat di mana ia tercipta.

*****

“Baca nak! Dan duduklah disini”

Anak itu pun tak perlu menerima komando kedua kali lagi. Lalu mulutnya berkomat-kamit mengeluarkan suara. Sesuatu yang dihafalnya. Sambil dia memeluk sebuah alat yang lumayan berat. Dia terus mengeluarkan suara dan mulutnya terus berkomat-kamit sambil matanya mengintip melalui celah-celah bekas reruntuhan bangunan. Suara desingan peluru itu menjadi lagu tiap hari. Dentuman roket dari pesawat tempur F-16, helicopter Apache juga dari mobil-mobil baja buatan Inggris itu selalu menghiasi daun telinganya. Dia melihat, barisan bersorban itu kocar-kacir. Tiba-tiba sebuah mobil baja besar itu keluar dan menabrak tembok yang tinggal setengah karena sudah runtuh terkena roket. Seseorang berteriak;
“RPG……!!! RPG…….!!!”

Anak itu langsung bangkit berlari memanggul sebuah alat yang ia tahu bernama RPG. Sambil menunduk dengan satu lutunya di tanah dan lutut yang lain menopang tangan kanannya yang menyangga RPG itu, dia melihat melalului lubang kecil pada alat itu. Ketika dia rasa hatinya telah mantap, tombol pada alat itu langsung ditekannya dengan jari lentiknya yang tulangnya masih lunak itu. Lalu;
“Blaaaaar…….!!!!”

Semua barisan bersorban itu tiarap dan anak kecil itu terpental ke belakang. Asap membumbung, percikan api berlarian keluar dari mobil baja itu.

“Dapat” kata anak kecil itu dengan pelan. Lalu ia berdiri dan melonjak kegirangan sambil berteriak;

“Dapat…dapat…” juga diringi oleh orang-orang yang bersorban berteriak kegirangan. Mobil baja itu terhenti setelah menerima sebuah roket dari anak kecil. Dalam keriuhan mereka itu, mata mereka tetap melihat ke kanan dan ke kiri. Kalau-kalau masih ada segerombol pasukan yang menyerang. Tiba-tiba suara mendengung kecil terdengar kemudian semakinter dengar keras tanda pembawa suara itusemakin mendekat. Mereka berhamburan mencari tempat bersembunyi. Sebuah pesawat seperti burung gagak super, terbang rendah.

“Blar…..blar…..blaaaarrrr….” tiga buah roket meluncur. Lalu, pesawat itu tetap terbang di sekitar tempat itu. Berpatroli, kalau masih tersisa dan terlihat tanda-tanda kehidupan.

Setengah jam mereka bersembunyi di tempat persembunyiannya masing-masing. Lalu mereka keluar setelah dipastikan pesawat itu telah pergi.

“Bismillahirrahmanirrahim…” suara itu terdengar seperti suara dari anak kecil yang membawa RPG.

“Husein di mana….? Seseorang bertanya pada yang lainnya.
“Coba cari dulu!” perintah yang lain.
Mereka mencari anak itu di sela-sela reruntuhan bangunan. Tak lama kemudian salah satu diantara mereka melihat darah di tanah. Dia berlari menuju darah itu. Dirinya terpaku menatap tajam. Mulutnya menganga. Lidahnya kelu. Serasa bumi berhenti berputar dan waktupun lumpuh. Dia terpana.

“Bismillahirrahmanirrahim” suara itu terdengar seperti suara dari anak kecil yang membawa RPG. Dia yang melihat darah itu, kesadarannya kembali. Sepertinya ruh pada tubuhnya tak mampu melihat apa yang dihadapannya. Setelah ia mendengar dengungan ayat suci itu untuk yang kedua kali, dia langsung berlari menghampiri. Mendekapnya. Memeluknya dengan erat. Menciumnya. Dan tersenyum sambil berkata dengan suara lantang.

“Allahuakbar…!!!!”
“Kasim…!!!” panggilnya.
“Husein bin Kasim bin Abdullah telah syahid..!!!” tambahnya.

Kemudian seorang yang berjenggot tebal dan bersorban warna hitam itu berlari menuju arah suara yang memanggilnya. Dilihatnya seeorang anak terkulai dalam pelukan sahabatnya. Dengan langkah pelan, ia menghampiri. Kemudian ia berlutut dan memeluk Husein, anaknya. Tak setitikpun air mata menetes. Hanya raut mukanya yang berubah menjadi pasi. Dengan pelan, ia meraba dada anaknya.

“Terkena pecahan roket” kata seseorang yang berdiri di sampingnya sambil menyentuh pelan bahu Kasim. Para sahabat yang lain pun berlarian dan mendekati Husein yang telah menjadi pahlawan bagi negerinya. Saat Kasim, ayah Husein meraba kembali dada anaknya yang berlumuran darah itu, tiba-tiba cahaya putihkeluar dengan pelan menuju langit. Semua kepala mendongak dan semua mata menatapnya tanpa berkedip. Mereka semua seperti orang yang terhipnotis. Secepat kilat, sebuah cahaya putih meluncur dari langit dan menabrak cahaya putih yang keluar dari dada Husein lalu kedua cahaya itu terpental kembali ke langit secepat kilat pula.

*****

Padang rerumputan luas terhampar serta jutaan bunga warna-warni bertaburan di bawah pohon-pohon rindang. Semerbak wangi terhambur. Dan anak itu hanya terpaku setelah turun dari pelukan makhluk bersayap yang tak terukur sayapnya itu. Kemudian dia berbalik dan menatap ke arah makhluk yang membawanya.

“Sebenarnya kamu siapa?” tanyanya polos.

Makhluk itu menggerakkan sebelah sayapnya dan merangkul anak itu lalu memutarnya dan mendongakkan kepalanya.
“Aku penjaga surat yang kau hafal, dan disana ayahmu juga ingin seperti dirimu” jawabnya sambil sayap yang satunya lagi menuding ke arah langit yang terlihat cahaya saling silang dan sesekali cahaya kecil muncul lalu mati lalu muncul kembali.

Di perbatasan Gaza, Kasim tak henti-hentinya memencet pelatuk AK-47 buatan Rusia. Dan rombongan bersorban lainnya juga demikian. Mereka menghadang musuh yang tak sebanding kekuatannya dengan mereka.
Jauh dalam tatap mata Kasim, tak ada selembarpun kesedihan. Buku kecil itu tetap berada di sakunya, dan sesekali dia mengambil dan membukanya tatkala ia lupa bacaan yang dihafalnya. Di sela kesibukannya dan desingan pelor berhamburan di udara, ia tetap sempat membuka buku kecil yang sudah lusuh karena sering di pegang dan di buka. Kembali, setelah dia menutup dan mengembalikan buku kecil lusuh itu, ia memegang erat AK-47 sambil bibirnya berbisik “Palestina, kami akan tetap menjagamu”.

3 April 2009. 01:39 WIT
Selembar cerita untuk saudaraku di Palestina